Georgetterox

May 31, 2009

Ngebul Bukan Hak Asasi

Filed under: features — Vicky Laurentina @ 9:18 pm

Inti dari Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penghormatan terhadap hak asasi orang-orang yang nggak ngebul, untuk membebaskan mereka satu hari aja dari orang-orang sekitar mereka yang ngebul. Mudah-mudahan orang yang ngebul nggak nuntut hak asasi juga, supaya mereka dikasih Hari Tembakau Sedunia pula. Bisa repot kita nanti.

Saat ini penghormatan terhadap hak asasi para non-pengebul (dan para pengebul) di Indonesia baru ditemukan di restoran-restoran elite. Para manajer resto bikin smoking area dan non-smoking area, kadang-kadang buat misahinnya hanya pake penyekat doang. Prinsipnya, jangan sampai orang batal makan di tempat mereka cuman gara-gara orang itu dilarang ngebul.

Gw ingat suatu hari di jaman kuliah gw dulu, gw pergi ke kampus naik angkot. Hari masih pagi, gw satu-satunya penumpang di angkot itu. Wah, bakalan ngetem nih angkot, batin gw.

Baru lima menit jalan, tuh angkot berhenti lagi coz seorang laki-laki melambaikan tangan di pinggir jalan. Maka laki-laki itu naik ke bangku belakang. Dia benamin bokongnya ke jok, sementara sang supir tancap gas lagi. Tau-tau si penumpang baru nyalain geretannya dan bersiap-siap ngebul. Mendadak si supir berhenti dan berseru dengan nada membentak, “Matikan rokoknya, Pak! Di sini tidak boleh merokok, Pak! Kan sudah ada pasang tanda dilarang merokok di sini, Bapak lihat tidak sih?!”

Gw yang lagi baca buku tersentak kaget. Waaks..supirnya galak bener! Si pengebul langsung gelagapan. Sementara si supir terus-menerus membombardir penumpangnya sambil nunjuk-nunjuk tanda dilarang merokok yang tergantung di dalam mobil, tanda dari papan yang dia tulisin sendiri, “DILARANG MEROKOK DI ANGKOT INI! HORMATI ORANG YANG TIDAK MEROKOK! Anda ingin merokok, SILAKAN TURUN!”

Dan si supir meng-copy paste tulisannya sambil bentak-bentak, “Di angkot ini tidak boleh merokok, Pak! Bapak kalo mau merokok, silakan turun! Mari kita sama-sama jaga kesehatan, Pak! Bapak mau tetap merokok atau mau tetap naik angkot saya?!”

Gw nunduk ke buku gw, pura-pura nggak liat. Dari sudut mata gw, gw liat si pengebul dengan salah tingkah matiin lintingannya dan melemparnya keluar pintu. Sang supir bilang terima kasih, lalu dia tancap gas lagi. Maka kita bertiga ngelanjutin perjalanan, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Jauh sebelum insiden pagi itu, gw pernah ngalamin insiden yang hampir sama waktu gw masih pake seragam putih abu-abu. Gw naik angkot bareng sohib gw Amanda, dan ngobrol sepanjang jalan. Kita masih muda, kekanak-kanakan, dan suara kita kenceng kayak bebek.

Tau-tau Amanda nyeletuk ketus, “Huh, bau rokok!” sambil ngibasin tangannya dengan penuh demonstratif, sembari melempar tatapan menghina kepada seorang laki-laki yang lagi duduk di bangku belakang bersama kami sambil ngebul. Sebenarnya duduknya jauhan sih dari si oknum, tapi ya Amanda nekat juga teriak kayak gitu.

Waktu itu gw takut si pengebul itu akan tersinggung dengan ucapan Amanda, dan kita berdua akan disuruh turun karena ngajak berantem ke orang dewasa, padahal duit saku gw cuman cukup buat naik angkot satu kali.

Semula gw pikir, baik Amanda dan sang supir angkot hanya orang-orang yang rada terlalu pedulian. Nggak semua orang punya wawasan kesehatan sebagus kita, jadi kenapa mesti sewot? Toh tuh paru punya dia sendiri, ntar parunya busuk juga dia yang sakit sendiri, matinya juga mati sendiri. Dan rokoknya juga punya dia sendiri, beli pake duit sendiri, bukan ngembat rokok orang lain. Emangnya Sumitro?

Intermezzo ya, laki-laki pengebul itu bisa diklasifikasiin dalam tiga macem, yaitu Rotali, Rojali, dan Sumitro.
Jenis pertama Rotali, artinya ROkok TAra MeuLI. Itu bahasa orang Sunda, artinya nggak pernah beli rokok. Kalo ngebul pasti maunya gratisan.
Jenis kedua Rojali, artinya ROkok JArang MeuLI. Kadang-kadang bayar kalo lagi kepepet.
Jenis ketiga Sumitro, alias SUka MInta ROkok. Ini yang repot, nggak bermodal!

Tapi baru beberapa tahun kemudian gw sadar, bahwa para pengebul bukan saja tidak sedang mengebiri parunya sendiri, tapi mereka juga membunuh orang lain di sekitar mereka dengan pelan-pelan. Perokok pasif merugi jauh lebih banyak atas asap rokok yang terpaksa mereka isap. Inilah yang dimaksud sang supir angkot dan Amanda. Itu sebabnya ada Hari Tanpa Tembakau Sedunia.

Orang berhak untuk tidak mengisap rokok. Itu sebabnya ngebul di tempat umum hukumnya norak. Amanda menuntut haknya untuk terhindar dari kanker kulit dengan menyindir keras penumpang angkotnya yang ngebul. Dan supir angkot yang gw naikin itu, tidak takut kekurangan penumpang cuma gara-gara mensomasi penumpangnya yang ngebul.

Semenjak itu, gw selalu nolak naik angkot yang ada pengebulnya. Resiko harus cari angkot lain, ya. Tapi membayangkan duit
yang udah gw habisin buat beli segala minyak wangi dan sekarang wanginya ketutupan oleh asap rokok, bikin gw ilfil liat pengebul macam apapun.

Tidak ngisap asap rokok adalah hak asasi semua orang. Sebaliknya, merokok tidak akan pernah jadi hak asasi yang diakui komisi manapun.

Advertisements

May 30, 2009

Teka-teki Cadar

Filed under: Gimme a break — Vicky Laurentina @ 11:02 am

Sumpah, foto di atas bukan foto gw.

Tapi kalo pun gw bilang bahwa itu gw, Anda kayaknya percaya, kan?

Foto ini gw jepret bulan lalu di Bandara Juanda, Surabaya. Gw baru turun dari pesawat, pangling dengan hawa yang panas, dan bosan berdiri di depan baggage claim nungguin koper yang nggak dateng-dateng. Lalu perempuan ini (eh, ini perempuan, kan? Ya, anggap aja begitu. Apa bedanya, sih?) muncul dan berdiri di sebelah gw. Entah apa yang ada di kepala gw saat itu, gw langsung sigap ambil kamera dan..jepret! Untung setelan kamera gw tanpa suara. Tentu saja orang ini nggak sadar gw udah motretin dia. Apa yang harus gw lakukan, minta ijin dulu? Gw bahkan nggak tau harus manggil dia apa.

*Smile! You’re on candid camera!*

Masalahnya udara di Surabaya begitu panas nyelekit, apa orang ini nggak kepanasan?

Cerita tentang kain penutup kepala dan muka nggak pernah ada habisnya. Gw pernah diceritain salah satu cerita 1001 malam dulu, ada seorang putri yang dipingit nggak boleh keluar istana sama sekali. Padahal ada pacar gelapnya seorang gelandangan yang naksir berat ke si putri. Akhirnya si cowok ini diam-diam nyamar jadi dayang istana, pake kerudung dan cadar, dan dengan sukses bisa masuk kamar tidur si putri. Dan di dalam situlah dayang gadungan ini buka penyamarannya di depan si putri, lalu selanjutnya bisa ditebak, mereka kiss-kiss-an.

*Tunggu, tunggu, Vic. Itu ceritanya Aladdin ya?*
(Nggak tau. Iya kali? Yang jelas yang bego itu pengawalnya. Kok mau percaya aja yang lewat itu dayang? Mbok diperiksa dulu pake sidik retinanya, kartu identitasnya. Wong negara minyak kaya kok nggak bisa beli mesin sidik jari?)

Tadinya gw kirain itu cuman dongeng Timur Tengah doang, tapi ternyata kisah itu jadi kenyataan. Cerita yang sama, cuman setting-nya aja yang beda. Di Arab, sepasang laki dan perempuan, pake kerudung dua-duanya lengkap dengan cadarnya. Dua-duanya masuk ke toilet perempuan, lalu masuk bilik kloset yang sama. Di dalamnya dua-duanya sama-sama buka kerudung, lalu melumat mulut satu sama lain.

Kenapa harus sembunyi-sembunyi? Skandal selingkuh tak resmi? Hm, bisa jadi.

Ketika cadar jadi tameng buat seks ilegal, ternyata sudah ada yang lebih canggih lagi. Beberapa bulan lalu, sebuah toko di Perancis dirampok oleh laki-laki yang make kerudung dan cadar rapat. Penjaga toko nggak ngira itu perampok coz dikiranya itu perempuan muslim mau beli susu botol.

Dan akhirnya, seorang pegawai hotel di Bali mengaku di Kompas kemaren bahwa dia pernah mengawal tamu sekeluarga asal Arab. Waktu datang pertama kali ke hotel, istri keluarga itu pake kerudung rapat. Tapi kemudian setelah check-in, sang pegawai nemu keluarga Arab itu lagi santai di kolam renang, dan astaganaga..istrinya si Arab itu lagi nudis.

Kilah sang suami Arab, mereka liburan ke Bali supaya bisa santai seperti turis “normal”. Di Arab, mereka nggak bisa sebugil itu coz dilarang oleh hukum. Jadi supaya mereka bisa bugil di lapangan publik, mereka harus pergi ke luar negeri.

Kesiyan ya. Padahal bugil itu kan hak asasi..aduh! (Kok ditimpuk sendal jepit?!)

*Vicky, nggak boleh gitu! Tidak melihat orang bugil juga hak asasi!*

Cerita ini bukan buat mendiskreditkan jilbab dan derivat-derivatnya. Tapi semua intinya sama, bagi sebagian orang, jilbab tidaklah berarti apa-apa selain sebagai kostum adat belaka dan sebagai kamuflase. Nggak bijaksana kalo seorang perempuan (atau bahkan laki-laki) yang pake jilbab otomatis dianggap representasi dari pribadi bertakwa. Memangnya yang pake jilbab itu suci? Dan kalo nggak pake jilbab berarti kafir?

Simbol agama nggak boleh jadi jualan. Apalagi buat mendongkrak perolehan suara untuk kekuasaan.

Dan gimana dengan foto di atas? Gw yakin jemaah penonton gw punya jawaban atas pertanyaan ini:

1. Orang di foto itu adalah:
a. Wanita
b. Pria
c. Diragukan jenis kelaminnya

2. Alasan dia berpakaian seperti itu adalah:
a. Telah menafsirkan Qur’an, bahkan saking semangatnya sampai telapak tangannya pun ikutan ditutupin
b. Disuruh suaminya supaya nggak ada orang yang naksir lagi
c. Nggak pe-de coz mukanya jerawatan
d. Antisipasi terhadap flu burung, flu babi, flu Singapura, flu Pulang Pisau, dan macam-macam flu lainnya
e. Mulutnya belum sikat gigi
f. Nggak tahan nyium bau kentut orang-orang
g. … (Isilah sendiri!)

May 29, 2009

Merk Penting Yak?

Filed under: Fresh from d'Oven — Vicky Laurentina @ 5:20 am

“Vicky, kalau mau lihat seorang laki-laki itu high quality atau bukan, lihat saja dari arloji atau sepatunya. Kalau arloji atau sepatunya bermerk, sudah pasti laki-laki ini high-class..”

Seorang purnawirawan marsekal yang sering nulis di Kompas, menulis ini kepada gw, setelah baca tulisan gw “Imagologi Arloji” di blog ini minggu lalu. Kata-katanya nggak persis begitu, tapi kurang lebih intinya begitu. Semula gw mikir, wah kesiyan dong para laki-laki yang fashion-gadgetnya nggak bermerk, berarti mereka kualitas rendah? Tapi karena pernyataan ini diucapkan seorang marsekal berusia 62 tahun, maka gw pun ngendapinnya dulu.

Kadang-kadang gw merasa rancu dengan kata “bermerk”. Maksudnya apa? Nggak mungkin barang dijual tanpa merk, bisa dipalsuin dong. Apakah merknya harus terkenal? Atau merknya keluaran impor?

Sekarang di blogosphere lagi rame perdebatan turunan dari pemilihan presiden. Mana yang lebih baik, neoliberalisme atau ekonomi kerakyatan? Sebuah perdebatan kacangan yang menurut gw nggak penting. Memangnya kita yang orang awam ini ngerti apa itu neoliberalisme atau ekonomi kerakyatan?

Nama ekonomi kerakyatan seolah mengesankan rakyat dijunjung tinggi untuk memperoleh penghasilan banyak. Akan ada akses gede-gedean untuk barang-barang hasil produksi rakyat. Pendek kata, jargon “Aku cinta produk Indonesia” akan dimanja habis-habisan. Ini katanya lho.

Sebaliknya, neoliberalisme akan kasih akses segede-gedenya buat semua orang yang punya modal untuk berkarya. Siapa yang punya duit, dia boleh bikin barang sendiri dan jual ke pasar sesuka dia. Yang nggak punya duit, harus berusaha dapet modal supaya nggak kalah saingan. Kalo jadi nih, investor asing akan gampang berkembang di Indonesia coz mereka jelas lebih berkembang ketimbang investor pribumi.

Maka, akan membanjirlah produk-produk bermerk yang katanya terkenal dan imporan itu, sehingga menekan keberadaan produk-produk tidak bermerk. Ini yang ditakutkan oleh kaum anti-neoliberalisme sehingga mempropaganda bahwa neoliberalisme itu jelek.

Gw nulis ini sambil ngeliatin sepatu-sepatu gw yang gw tata di apartemen gw. Gw sudah lupa kapan gw beli sepatu itu. Sepatu gw awet, dan tahan lama. Mungkin juga coz perjuangan gw beli sepatu juga nggak instan. Gw kalo mau beli sepatu, ada tahap-tahapnya: naksir di etalase, nyobain di kaki, melotot liat harganya, ngembaliin ke rak dan pergi belagak nggak butuh, keliling mondar-mandir ke toko sepatu lain dan ngulangin ritual yang sama, mutusin sepatu mana yang paling bikin gw kangen, dan pada akhirnya kembali ke toko dan beli sepatu yang gw taksir.

Mungkin itu sebabnya sepatu gw nggak gampang pensiun. Memang harus jadi selektif banget kalo beli sepatu, tapi itu sangat berguna untuk waktu yang lama.

Setelah gw pikir-pikir, analisa Pak Marsekal buat gw ada benarnya juga. Bukan cuman laki-laki, tapi tiap orang pun, mestinya kalo beli barang juga jangan yang merk sembarangan. Arloji dan sepatu itu kan dipake untuk waktu lama, jadi pilihlah barang yang kualitas tahan lama. Apa ada orang mau beli arloji dan sepatu buat gonta-ganti tiap bulan? Sialnya, barang yang kualitasnya tahan lama itu cuman barang-barang bermerk!

Lalu, apakah barang bermerk itu harus dari luar negeri? Gw nggak setuju. Produk-produk lokal kita banyak yang bagus-bagus kok. Gw aja hampir selalu ngerasa cantik kalo liat baju-bajunya Sebastian Gunawan atau Ghea Sukasah. Baru liat aja udah ngerasa cantik, apalagi kalo udah make ya?

Gw nggak bilang bahwa produk Indonesia kalah daripada produk luar. Tapi gw harus akuin bahwa masih banyak produk kita yang nggak bagus dan nggak awet. Batik Jogja dan batik Sasirangan aja bisa beda jauh kualitasnya. Di Jogja sendiri, batik di Bringharjo dan batik di Malioboro juga beda mutu. Warna yang gampang luntur, serat yang cepet sobek, tekstur yang kasar. Padahal kan sama-sama batik bikinan Indonesia.

Dian Siagian-Decante pernah nulis di blognya bagaimana dia nemu lingerie Victoria’s Secret dengan label “Made in Indonesia”. Udah bukan rahasia lagi bahwa banyak barang produk kita diekspor keluar, lalu di luar negeri dijual lagi dengan merk asing. Orang Indonesia yang masih bermental inlander begitu senangnya liat merk asing, dan kita rela ngerogoh berdolar-dolar supaya bisa bangga pake barang bermerk luar negeri. Padahal barang itu dibikin di dusun kita sendiri!

Nggak pentinglah kita mau urusin apakah negara kita mau berpaham neoliberalisme atau ekonomi kerakyatan. Kita cuman perlu belajar tentang cara bikin produk yang lebih bermutu, dan gimana cara mengemas penjualannya supaya menarik lebih banyak pembeli. Kita lebih butuh bantuan pendidikan termasuk pelatihan, bukan sekedar bantuan duit tunai. Dan kalo kementerian perindustrian dan perdagangan nggak punya cukup anggaran buat ngajarin kita, biar swasta asing aja yang kasih modal.

Jadi, ayo kita cek barang-barang di rumah kita. Sudahkah kita make barang bermerk? Ups..salah. Maksud gw, sudahkah kita make barang produk Indonesia yang berkualitas?

May 28, 2009

Sumringah!

Filed under: me daily — Vicky Laurentina @ 7:17 am

Karena hari ini gw ulang tahun, gw mau cerita aja tentang fenomena ulang tahun haram.

Nyokap kolega gw tergabung dalam organisasi rohani yang memfatwakan bahwa ulang tahun itu haram. Akibatnya si Tante ini jadi ikut-ikutan nggak mau rayain ulang tahunnya. Ini jadi masalah di klub pengajian ibu-ibu tempatnya juga jadi anggota. Soalnya di klub ini ada tradisi kalo ada yang ulang tahun, maka yang ulang tahun bulan itu wajib traktir makan-makan. Lha kalo si Tante ini bilang bahwa ulang tahun itu haram, berarti ibu-ibu pengajian nggak jadi makan-makan, dong? Yaa..kecewa!

Jaman gw masih sekolah dulu, ABG-ABG masih seneng ngapalin tanggal ulang tahun. Ulang tahun temennya, ulang tahun pacarnya, ulang tahun gebetannya, ulang tahun musuhnya yang juga naksir gebetannya, hihihi.. Lalu seperti halnya ABG umumnya, ulang tahun paling berkesan adalah sweet seventeen. (Aneh, padahal di Amrik yang berkesan tuh sweet sixteen lho, sampai ada lagunya segala. Dan di Spanyol, ulang tahun ke-15 anak perempuan didandanin habis-habisan kayak penganten).

Termasuk sweet seventeen gw jelas sulit dilupakan.

Gw ngajak geng gw yang jumlahnya 20 orang itu makan bakso di Bakso Mandeep depan Masjid Istiqomah di Bandung. Pas udah selesai makan, gw ke kasir buat bayar traktiran semuanya, dan ternyata diam-diam ke-19 orang sahabat gw itu mencampur-campurkan apa aja yang masih nyisa di meja: Kuah bakso, sambel, coca cola, es campur..

Kita keluar dari warung bakso menuju tempat ngetem angkot. Tau-tau sobat gw narik tas gw dengan lembut, sambil bilang, “Sini Vic, Lita pinjem dulu tasnya ya..”
Dengan begonya gw terheran-heran, “Eh, kenap..”
Gw belum selesai ngomong, tau-tau..Byurr! Ada yang nyiramin kuah ramuan tadi ke pala gw! Gw menghindar, tapi teman-teman gw dengan lihainya berhasil ngejar dan ngepung gw dan gantian nyiramin kuah sialan itu ke gw. Mereka ngakak keras, teriak di depan mesjid Istiqomah nan suci, “Hepi belsdey Vikiiee..!” dan ajaibnya kabur dengan naik angkot pertama yang lewat, ninggalin gw..sendirian!

Gw bengong, di depan mesjid, dengan badan basah bau alpokat. Siapa sih tadi pesen es campur kok pake alpokat?!

Keluarga gw biasa ngasih kado buat ulang tahun. Gw dan adek gw punya tradisi bikin daftar Sinterklas gitu tiap menjelang ulang tahun. Gw rasa bonyok gw banyak diporotin kalo ulang tahun ini, hehehe..untung anaknya cuman dua.

Tapi menjelang umur 23, gw berhenti bikin daftar Sinterklas itu, karena gw sudah mendapatkan semua yang gw pengen. Dan tinggal satu waktu itu yang gw inginkan, dan gw tau bonyok gw nggak kompeten untuk memenuhinya: Gw pengen balik ke mantan gw.

Sekarang umur gw 27, jelas gw nggak pengen apa-apa lagi, jadi gw udah nggak napsu bikin daftar Sinterklas. Apa sih yang dipengenin perempuan lajang berumur 27 tahun? Paling-paling gw pengen sertifikat rumah di Bandung. Gw pengen beasiswa sekolah spesialisasi. Gw pengen polis asuransi kesehatan dengan jaminan bebas biaya rawat jalan. Oh ya, gw juga pengen Brad Pitt dibungkus pake pita, tapi kalo bisa Brad Pitt-nya jangan pake apa-apa kecuali celana renang.

*Ya ampun, Vic, banyak bener! Sinterklas mana yang bisa kasih barang ginian?!*

Mumpung gw ulang tahun, boleh kan gw mimpi. Di Pulang Pisau gini mana bisa mimpi? Kado yang gw paling pengen sekarang cuman tiket pesawat pulang ke Bandung. Makanya gw cuek aja waktu kakak gw ngegodain gw dari minggu lalu bahwa gw mau ulang tahun.

Jadi alangkah terkejutnya gw waktu buka inbox gw subuh ini, dan menjumpai e-mail ulang tahun dari orang-orang menuh-menuhin inbox gw. Semuanya ada, di SMS, Facebook, Yahoo Messenger, blog. Gw tau sih Facebook punya kalender pengingat ulang tahun, tapi gw tercengang juga orang-orang mau repot ngetikin selamat ulang tahun buat gw. Ngetik kan butuh tenaga dan bayar pulsa?

Belum abis gw balesin e-mail satu per satu, jam lima subuh, ibu kost gw kasih paket kiriman dari Bu Swiss di pasar. Gw buka di kamar. Edan!

Gw baru sadar, ini pertama kalinya dan mungkin terakhir kalinya, gw merayakan ulang tahun gw di tempat lahir gw sendiri. Gw lahir di kota dusun ini, di Pulang Pisau, hanya ditolong bokap gw dan bidan bernama Bu Swiss. Sudah 27 tahun berlalu, Bu Swiss sekarang berumur 80 tahun, dan dia ngirimin gw kue ulang tahun subuh-subuh!

Gw bawa kuenya ke kantor hari ini, dan kue itu diserbu ludes semua pegawai. Senang liat semuanya makan kue. Dan gw baru sadar, ternyata seninya merayakan ulang tahun itu adalah berbagi dengan orang lain.

Kakak gw meninggal tiga orang tanpa sempat ngincipin umur 27 tahun, karena tabrakan motor, anemia hemolitik, dan mumps. Gw sudah umur 27, dan gw masih hidup. Mungkin Tuhan kasih gw umur lebih panjang daripada mereka supaya lebih banyak kesempatan gw buat belajar, berkarya, dan berdoa. Itu sebabnya ulang tahun kudu dirayain.

Makasih, teman-teman yang udah doain gw. Dengan sumringah, hari ini gw ingin ngejiplak quotenya Arman Tjandrawidjaja: And I’m the happiest 27-year-old birthday girl ever! 🙂

May 26, 2009

P3K Wajib Punya

Filed under: tips n trick — Vicky Laurentina @ 10:39 pm

Bahkan sebagai dokter pun, gw nggak mengharapkan orang dateng ke dokter cuman gara-gara urusan sepele. Prinsipnya, kalo orang bisa ngobatin dirinya sendiri di rumah, ngapain kudu ke dokter malem-malem menerjang badai salju?

Kakak gw mau sekolah ke Aussie bulan depan.
Dua tahun di sana. Lalu sebelum berangkat, dia check up kesehatannya. Sebenarnya gw bingung deh kenapa tiap mahasiswa asing kudu di-check up dulu. Mungkin pelajarnya jelas nggak berpenyakit menular, tapi entah kalo punya kelainan jiwa, gimana? Masih boleh masuk, nggak ya? Hehe.

Anyway, dia minta tolong gw tentang obat apa aja yang kudu dia bawa buat persediaan selama di Aussie. Gw rasa ini masalah sepele tapi perlu diperhatiin juga, terutama karena sebagian besar jemaah penontonnya blog gw adalah perantauan yang nggak mau tepar tanpa ada yang ngurusin. Ya kita pergi jauh dari rumah untuk waktu yang lama kan maksudnya mau bekerja atau belajar, bukan mau jalan-jalan ke dokter.

Ini nih daftar obat yang baiknya kita sediain di koper kita:

OBAT SAKIT KEPALA
Sakit kepala, migren, demam, dan sebangsanya, biasa dialamin terutama kalo kita masih harus beresin studi kita di situ padahal visanya udah mau abis. Sediain obat parasetamol, minum hanya kalo perlu aja. Anda boleh ke dokter kalo tiap kali sakit kepala, Anda juga muntah, atau mata Anda jadi buram. Atau demamnya sudah tiga hari nggak mau ilang.

OBAT BATUK
Ini biasa terjadi kalo orang Indonesia yang biasa kena hawa panas mendadak dilempar ke negeri berhawa dingin. Sediakan obat batuk yang biasa jadi andalan, usahakan yang bisa bikin ngantuk. Tidur adalah obat paling manjur untuk semua gejala flu.
Jika Anda ngerasain batuk berdahak, boleh beli obat ambroxol.
Batuk harus dilaporin ke dokter jika berlangsung lebih dari tiga hari, atau kalo dahaknya berwarna merah, kuning, atau ijo.

OBAT PILEK
Biasanya udah sepaket sama obat batuk. Ini gejala masuk angin.
Segera ke dokter kalo ingus yang meler berwarna kuning atau ijo. Atau kalo pileknya bikin Anda nggak bisa napas kalo lagi tidur.

OBAT MAAG
Ini adalah hobi langganan blogger yang nge-blog berjam-jam sampai lupa makan. Atau juga sengaja nggak makan biar ngirit dolar? Sediakan obat famotidin, minum sekali aja kalo ada serangan. Kalo tukang obat sebelah rumah Anda nggak jual famotidin, boleh minum ranitidin, paling banyak dua kali sehari.
Anda kudu ke dokter kalo mual bikin Anda muntah sampai nggak bisa makan sama sekali. Atau kalo muntahnya ada mencretnya.

OBAT MENCRET
Umumnya, orang mencret karena masuk angin. Ada juga yang mencret setelah makan sate tikus di pinggiran jalan Chinatown. Apapun itu, sediakan obat attapulgit di koper sebagai pereda mencret, minum paling banyak dua kali sehari tiap kalo mencret aja. Boleh juga pake loperamid, tapi yang ini kudu nanya dokter dulu. Perhatian! Obat mencret baru boleh diminum kalo mencretnya udah tiga kali.
Anda harus ke dokter kalo sudah minum attapulgit atau loperamid sampai delapan biji, tapi mencretnya nggak mau sembuh-sembuh. Atau mencret Anda ada lendirnya atau ada darahnya. Atau setelah mencret mata Anda jadi cekung.

OBAT PEGEL-PEGEL
Biasa terjadi setelah Anda nekat ngegenjot sepeda keliling Disneyland. Ini nggak perlu obat khusus apalagi sampai panggil tukang pijit nan sekseh segala. Cukup pake cara tradisional: koyo cabe, balsem cap kapak, dan tidur! Separah-parahnya minum obat asam mefenamat, paling banyak tiga kali sehari. Ngomong-ngomong, kalo Anda ke UGD karena pegel-pegel, Anda nggak akan ditanggapi serius.

OBAT GATEL
Kakak gw yang norak suka gatel-gatel kalo kena hawa dingin. Entah gimana kalo musim salju nanti. Gw suruh dia bawa bedak mentol yang pedes. Alergi dingin sih nggak akan pernah ilang.
Oh ya, kalo Anda gatelan juga, kudu ke dokter kalo Anda gatel-gatel sampai bendol-bendol di kelopak mata dan bengkak, ini biasanya karena alergi kacang atau sea food.

OBAT MENS
Ini wajib buat perempuan! Ada yang sampai sedia jamu mens di kulkasnya, tapi di luar negeri mana ada yang jual? Boleh sedia obat hyoscine-N-butylbromide di koper, diminum hanya kalo kepepet buanget. Kita mens tiap bulan lho, cewek harus kuat!

OBAT KECELAKAAN
Bukan, ini bukan pil KB! Yang gw maksud adalah povidon-yodium buat obat merah. Biasa deh, kecelakaan bisa terjadi di mana aja, misalnya kebeler pisau atau baja waktu lagi buka wine pake tangan (makanya minta tolong bartendernya dong!).
Caranya tau kan? Kompres luka pake alkohol sedetik aja. Bubuhin obat merah itu di atas luka, tutup pake kain kasa, lapisin kapas, baru pasang plester. Prinsipnya, luka yang masih terbuka nggak boleh kena udara. Ganti kain kasa dan kapas dua kali sehari atau kalo basah.

PERLUKAH ANTIBIOTIK?
Jangan. Kuman di luar negeri nggak seganas kuman di Indonesia, jadi bisa aja sakit demam seminggu nggak dikasih antibiotik sama sekali. Dokter di tempat lokal lebih paham imigran mana yang pantas dikasih antibiotik.

Oke, selamat merantau! Kalo nggak jelas, e-mail aja ke gw ya..

Older Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.