Georgetterox

July 31, 2009

Nyonya Sinterklas

Filed under: me daily — Vicky Laurentina @ 6:50 am

Riwayat bolak-balik naik pesawat ternyata nggak bikin gw makin keren, tapi malah makin norak. Gw sangat berharap nggak ada paparazzi iseng yang mengenali gw naik-turun pesawat sambil menjinjing, atau lebih parahnya lagi menggendong gembolan yang nampaknya lebih gede ketimbang perutnya Sinterklas. Bahkan Sinterklas nggak akan bawa hadiah sebanyak itu.

Jadi sekarang gw lagi ngemas-ngemasin barang buat boyongan dari Cali bulan depam. Masalah kecil pun muncul: Nampaknya koper nggak cukup. Wah, gaswat nih. Alamat gw kudu memberdayakan tas-tas kanvas cap merk obat yang numpuk di apartemen gw. Kayak gini jelas nggak mungkin masuk bagasi pesawat, pasti kudu gw bawa sendiri ke kabin.

Gw mungkin nggak pernah didenda karena kelebihan bobot bagasi, tapi gw mestinya didenda karena kelebihan barang bawaan di kabin. Semua orang juga tau kalo orang naruh barang di kabin tuh nggak boleh lewat dari tujuh kilo untuk tiap orangnya. Tapi gw selalu cuek bebek, bawa gembolan gw di bahu.
Gw pernah diprotes sama petugas bandara, “Ini harusnya masuk bagasi, Mbak!”
Tapi gw ngeles a la emak-emak cerewet, “Duuh..itu isinya kripik semua. Nanti ancur kalo masuk bagasi!”

Lha gimana, tas gembolan tuh nggak bisa dikunci. Ntar kalo gembolan gw dibongkar maling-maling norak di cargo pesawat, kan malu. Mending kalo kripiknya doang yang dicolong, lha kalo mereka ambil barang-barang gw yang lain di situ? Daster, panties, rol rambut, pembalut..

Cita-cita gw adalah keluar masuk bandara dengan elegan kayak pramugari. Pramugari tuh cuman ngegeret koper satu biji dan nyangklong tas tangan satu aja. Tapi cita-cita gw niru-niru pramugari nggak pernah jadi kenyataan. Betapapun gw selalu berusaha ngirit bawaan, pada akhirnya penampakan gw selalu sama: satu perempuan, satu koper, satu gembolan, dan satu oversized bag. Kadang-kadang gw bersyukur Tuhan cuman kasih gw dua tangan aja. Kalo gw dikasih satu tangan lagi, mungkin gw akan tergoda buat bawa satu gembolan yang lain lagi.

Gw jadi bertanya-tanya, apakah pramugari itu nggak pernah bawa gembolan?

Maka kandaslah impian gw melangkah naik-turun pesawat bak pramugari. Tampang gw jelas lebih mirip turis backpacker asal Armenia saking polosnya. Lha gw sendiri juga nggak mau dandan kecentilan kalo naik pesawat. Bisa-bisa gw dikira TKW baru pulang dari Hongkong.

Imagologi Anda akan nampak ketika baru keluar dari ruang kedatangan bandara Cengkareng dan orang-orang asing mengerubutimu.
Kalo Anda dikira bule jutawan, mereka bilang, “Limousine, Ma’am? Kemang? Menteng? Kelapa Gading?”
Kalo Anda dikira TKW, mereka bilang, “Travel, Teh? Cipatat? Padalarang? Garut?”
Paling gondok kalo mereka bilang, “Neng, ojek, Neng?”

Ah, siyalan. Besok naik pesawat, dan bandara Cilik Riwut nggak ada belalainya pula. Alamat nih gw kudu manggul gembolan segede-gede gaban ke dalam kabin, naik tangga seng yang anaknya sempit-sempit itu. Apa gw ini, ibu hamil di punggung? Tampang gw, persis Nyonya Sinterklas..

July 30, 2009

Minta Cerai

Filed under: me daily — Vicky Laurentina @ 9:58 am

“Kekasih, terbacakah tulisan hatiku, saat langkah mulai tak sejalan?”

Saya menulis ini, mungkin dengan penuh etika, tapi ada makna yang tersirat biarpun tidak tersurat.
Dulu kamu menginginkan saya. Saya juga menginginkan kamu. Tapi sekarang nampaknya kita tidak saling menyayang lagi.

“Suratku itu lukisan luka di hati.”

Bahkan di sebelah kiri atasnya, sudah tersirat di situ, saya minta cerai.

“Jangan kauhempas, meski tak ingin kausentuh.”

Saya tahu kamu akan suruh pembantu kamu saja yang baca surat saya, tapi sebaiknya kamu baca dulu sampai selesai.

“Kutahu pasti hatimu tahu walau tak baca suratku.”

Meskipun kalau kamu tidak membacanya pun, kamu sudah mengerti apa yang saya mau.

“Kekasih, masih kuingat janji di suratmu.”

Kan dulu waktu kamu minta tentara bayaran kiriman dari Menteri, kamu janji akan piara tentara-tentara bayaran itu dengan baik.

“Mengapa kini kauingkari janjimu?”

Tapi ternyata, kenapa kamu malah sia-siakan semua tentara kiriman itu dan membiarkan mereka jadi kurus, bosan, dan kesepian? Termasuk saya?

“Suratku itu lukisan luka di hati.”

Tahukah kamu, ketika saya menulis di surat itu bahwa saya hanya disuruh bersama kamu setahun, artinya setahun itu 12 bulan, dan jangan lebih karena saya kebelet sudah nggak tahan kepingin pulang?

“Jangan kauhempas, meski tak ingin kausentuh.”

Saya percaya kamu tidak ingin diingatkan tentang itu, karena tentara-tentara bayaran selalu datang dan pergi. Tapi tidak inginkah kamu tahu kenapa mereka selalu pergi?

“Kutahu pasti hatimu tahu walau tak baca suratku.”

Kamu pasti bisa menebak, mereka tak tahan karena karier di bawah “comfort zone”-mu tak akan pernah berkembang. Menjadi pegawai tetap tidak lebih menggiurkan ketimbang menolong pasien dengan kualitas pelayanan yang lebih baik.

“Tak ingin kusesali seluruh cintaku, walau kini ternyata ku melangkah tanpamu, kasih.”

Saya tidak menyesal pernah datang kemari. Saya menyerahkan seluruh kemampuan saya di sini. Tapi kini saya harus meninggalkan kamu. Meskipun kamu tempat tumpah darah saya, di tanah kamulah saya lahir, dan untuk itu, saya sangat menyayangi kamu.

“Suratku itu lukisan luka di hati.”

Saya menyesal kamu belum bisa menghargai tentara bayaran macam saya dengan baik. Karena itu saya minta pergi, dan tidak mau memperpanjang jabatan saya lagi.

“Jangan kauhempas, meski tak ingin kausentuh.”

Terimalah permohonan diri saya, jangan kamu tolak.

“Kutahu pasti hatimu tahu walau tak baca suratku.”

Dan kamu pun tahu, saya sangat berterima kasih, jika kamu mengabulkan surat pengunduran diri saya ini, sesegera mungkin.

***

Pagi ini, ajudan gw nganterin gw ke Dinas Kesehatan Kabupaten Pulang Pisau. Sepanjang perjalanan, gw terus-menerus nyanyiin lagu Yovie Widianto ini. Gw baru berhenti nyanyi pas gw ketemu pegawai bagian Kepegawaian buat nyerahin surat pengunduran diri gw sebagai dokter PTT, coz kontrak gw selesai bulan depan.

Sewaktu gw keluar dari kantor itu dan nggak sengaja melirik cermin di situ, gw tercengang liat bayangan Little Laurent tersenyum ke gw.
Gw lupa, kapan terakhir kali Little Laurent sesumringah itu.

July 29, 2009

Bini Teladan: Jeng Carla

Filed under: Gimme a break — Vicky Laurentina @ 9:57 am

Ada kuis nih. Pertanyaannya, apa persamaan Vicky Laurentina dengan Carla Bruni? Pilih jawaban yang benar di bawah ini:
a. Sama-sama cantik
b. Sama-sama bohay
c. Sama-sama ngidap older complex
d. … (isi sendiri)

Jawabannya? (d). Sama-sama kepingin suaminya sehat.

*Booo..! Salah tuh, Vic!*

(Lho, kok salah sih? Bener lho gw pengen itu..)

*Ya salah jawabannya tuh. Soalnya, lu kan belum punya suami, Jenngg..!*

Hehehe, jadi gara-gara nurutin bini, Nicolas Sarkozy, presiden Perancis yang udah bangkotan itu, sampai tepar dan kudu diopname. Apa pasal? Jadi gini yah, Carla Bruni, bininya Sarkozy tuh, pengen suaminya itu sehat. Indikatornya sehat ya antara lain, suami tuh jangan gemuk-gemuk, nanti cepet sakit. Lagian punya bini bohay mantan model kayak Carla, mosok suaminya jelek kayak Datuk Maringgih?

Maka, karena sayang sama istri (atau malah termasuk suami takut istri?), Sarkozy rela diet ketat, cuman makan puding dan buah. Nggak boleh makan cokelat, padahal kita semua tau kan cokelat dari Perancis enak-enak? Yang lebih repot lagi, Sarkozy dipasangin pelatih olahraga segala oleh Carla, supaya Sarkozy rada rajin jogging gitu.

Memang sih ada efeknya. Gw liat Sarkozy sekarang rada kurusan, hehehe. Berarti Carla berhasil melaksanakan tugasnya sebagai istri dong?

*Untuk ukuran seorang komentator amatir yang cuma ambil referensi dari internet, lu termasuk sotoy, Vic..*

Sampai hari Minggu lalu, pas lagi jogging, mendadak Sarkozy semaput. Blek! Haah, ada apa ini?! Akhirnya dilarikanlah Sarkozy ke rumah sakit. Suruh opname, untung cuman sehari.
*Halaah..paling cuman observasi doang..*
Kata dokternya nggak pa-pa kok, hehehe. Paling cuman hipoglikemia yak?

*Makanya dong, Paak..sebelum jogging tuh, makan dulu..*

Hehehe, gw sih nggak niat menyalahkan diet ketat yang diberlakukan Jeng Carla terhadap suaminya, tapi gw bisa ngerti maksudnya baik. Gw dan Carla sama-sama ngidap older complex, tergila-gila sama kekasih yang jauh lebih tua, dan dalam hal ini tak ada yang lebih menakutkan kami berdua (ceilee..!) selain satu hal: Gimana kalo kekasih kami mati duluan karena sakit tua dan kami terpaksa jadi janda muda yang cantik jelita?

Beruntunglah para pria yang memiliki bini cerewet yang kepingin suaminya sehat. Makanan terjaga, diabetes pun ogah menyapa. Memaksa suami tetap rajin olahraga supaya suami tetap sexy di atas ranjang.

Jadi inget pasien gw yang udah bangkotan dan bilang ke gw, “Saya sekarang udah nggak merokok lagi di rumah, Dok. Asbaknya dibanting sampai pecah sama istri saya di rumah. Dia teriak sambil marah-marah, ‘Ini nih yang bikin sakit!'”

Huehehehe.. Kan gw bilang juga, tak ada yang lebih membahagiakan para istri selain bangun pagi dan liat suaminya tidur di sebelahnya, looks peaceful, handsome, healthy, and alive. Cheers buat Carla Bruni, cheers buat gw, cheers buat para bini yang mecahin asbak suaminya..

http://georgetterox.blog.friendster.com
http://www.georgetterox.blogspot.com

July 28, 2009

HP Banyak Tuntutan

Filed under: features — Vicky Laurentina @ 12:57 pm

BlackBerry bikin gw pusing lagi. Bukan karena mereka baru bisa nyediain service center di Indonesia mulai 26 Agustus nanti, gara-gara mereka baca desakan tulisan gw beberapa minggu lalu. *Emangnya kaukira siapa dirimu, Vic?* Bukan juga karena sampai detik ini gw belum beli BlackBerry juga. Tapi karena BlackBerry baru merilis variannya yang murah-meriah, dinamain BlackBerry Gemini padahal nggak ada tanda-tanda kembar di smartphone yang satu itu. *Adakah yang bisa menjelaskan ke gw, kenapa sih Gemini itu lambangnya kembar?* Dan harganya nggak tanggung-tanggung, dibanderol cukup US$ 130. Artinya dengan kurs rupiah yang sekarang lagi bagus-bagusnya pasca Pemilu, cuman Rp 1,3 juta?!

Lupakan pencicilan gaji buat beli BlackBerry. Gw menatap berita itu dengan curiga. Yupz, ternyata varian BlackBerry yang satu ini cuman ngangkut fitur “standar” seperti IM, SMS, MMS, Facebook, dan MySpace. Cuman?

Gw jadi mikir, betapa waktu telah mengubah banyak mengenai apa yang gw inginkan dari sebuah HP. Dulu tuh gw pertama kali dibeliin HP tahun ’00, supaya gampang dicariin kalo gw ilang di pasar. HP itu bertahan lama di tangan gw, dan baru gw lepas setelah enam tahun kemudian gara-gara batrenya uzur. HP kedua punya unggulan, ada kameranya (nggak usah ketawa!). Waktu itu gw udah merasa puas dengan HP gw itu.
(Membuat gw sadar bahwa gw sudah gampang puas dengan hal-hal yang sederhana aja, hehehe..)

Dengan seringnya gw bernarsis-narsis ria dengan kamera HP gw bikin gw sadar bahwa gw kepingin HP yang kalo dipake motret, fotonya tajam dan statis. Cuman gw bingung kalo mau beli HP baru, nyari spesifikasinya kayak apa. Mosok gw bilang ke tukang HP-nya, “Mas, saya mau beli HP yang kalo dipake motret pacuan kuda, pas kudanya lari, gambar kudanya tajem dan nggak goyang!”

Pasti dikiranya gw udah gila.

Ketika gw dipanggil Negara buat kerja di Cali, yang gw pikirkan ialah gimana caranya supaya gw tetap ngeblog tanpa bantuan Telkomnet yang belum masuk (semua) desa. Jadi gw ngobok-obok semua iklan HP, nyari HP yang ada sinyal 3,5G-nya. Gw pikir dengan naif, kalo HP yang jagoan 3,5G pasti jagoan GPRS juga. Jadi gw lepas HP gw yang lama, dan gw pun beli HP ketiga.

Sebenarnya gw udah cocok aja sama HP gw yang ketiga ini, sampai-sampai gw dapet masalah baru. HP gw ini batrenya cepet abis. Sehari minta di-charge dua kali. Dan yang paling bloon, ternyata, gara-gara sering dipake online, HP gw kena virus!

Bulan lalu, si HP terpaksa gw lepas dan gw dikirimin HP yang ada di rumah gw di Bandung. HP yang keempat ini konon generasinya di tahun yang sama dengan HP ketiga, cuman beda merk doang. Ternyata setelah gw pake selama beberapa minggu terakhir, gw jadi nyesel. Kok yang ini katanya 3,5G tapi nggak bisa push e-mail sih?

Gw jadi pusing setengah mati. Jadi sebenarnya HP yang bagus itu kayak gimana seh? Apakah BlackBerry itu paling bagus? Gw curiga BlackBerry Gemini yang murah-meriah ini ada kelemahannya juga, dan gw baru sadar kelemahannya justru setelah gw beli.

Gw kangen ada di posisi nyokap gw dalam urusan milih HP. Nyokap gw cuma minta satu hal kalo beli HP, “Saya mau HP yang suaranya keras!” Soalnya nyokap gw suka nyemplungin HP di tasnya yang mirip kantong Doraemon. Hanya Tuhan yang tau apa isi tasnya para ibu. Sisir, parfum, bon, terasi..

Bokap gw masih mending. Kalo milih HP, bilangnya gini, “Saya mau HP yang kecil di tangan.” Sampai hari ini, HP favorit bokap gw adalah HP yang modelnya tipe flip, karena ukurannya nggak makan tempat. Tapi kalo baca SMS, bokap gw selalu sebal, “Ini SMS kok panjang banget sih? Kan jadi mesti di-scroll berkali-kali..”
Batin gw, bukan SMS-nya yang panjang, Pops. Tapi hurufnya yang gede-gede dan makan tempat di layar..

Mertua kakak gw paling parah. Sementara anaknya udah bolak-balik ganti HP, si Om masih setia dengan N 5110-nya. Nggak pernah dipake SMS-an. Tuh HP cuman dipake buat ngomong, “Haloo?”

Jadi inilah syarat yang gw inginkan kalo mau beli HP baru:
1. Ada service center resminya.
Gw udah cukup muak dengan barang-barang gw yang rusak dan harus ngapalin alamat tukang servis.

2. Batre tahan lama.
Gw pengen kayak tahun-tahun dulu, batre HP baru dicharge tahan ampe seminggu. Sekarang? Baru dipake chatting tiga jam aja, batrenya udah tinggal separo. Emangnya idup gw cuman buat nge-charge, apaa?

3. Push e-mail
Biar kalo ada komentar masuk, gw bisa langsung follow-up. Jadi Jemaah penonton blog gw nggak perlu gelisah nungguin ledekannya diledek balik.

4. Motretnya tajam dan cepat.
Gw mau kameranya bisa motret muka gw dengan kualitas sama dengan foto cover Cosmopolitan. Apalagi gw paling seneng motret burung terbang, bukan burung diam. Berasa kayak fotografer National Geographic gitu, hehehe. Itu istilahnya apa ya?

Gimana, Jemaah? Anda tentu beli HP nggak asal-asalan, kan? Sudah puaskah Anda dengan HP Anda?

July 27, 2009

Gerakan Anti Kesepian

Filed under: features — Vicky Laurentina @ 8:57 am

Satu hal yang paling dicemaskan manusia adalah saat dia jadi tua dan kesepian. Satu per satu teman-teman sebayanya meninggal dunia, dan satu per satu anak-anaknya meninggalkan rumah bikin keluarga sendiri. Nggak heran banyak orang jompo minta masuk panti wreda dengan sukarela. Teman gw belum jompo, tapi dia udah depresi duluan lantaran kesepian.

Namanya Lally, sebut aja gitu. Seumuran ama gw. Waktu kami kuliah semester dua, Lally pacaran sama teman kami yang bernama sebut aja Petruk. Ke mana-mana dua anak itu lengket kayak prangko. Gw heran kenapa mereka nggak kawin aja sekalian. Kan lumayan, bisa hemat ongkos kost-kost-an dan hemat nyuci sprei?

Ternyata Tuhan lebih ngertiin mereka ketimbang gw. Pada waktu Lally semester sembilan, Petruk ketangkap basah nikung. Mereka putus. Lally depresi.

Masalahnya, Lally nggak pernah gaul sama orang lain selain Petruk. Dulu dia punya geng yang suka jadi teman ngegosip, tapi semenjak pacaran sama Petruk, dia nggak pernah main sama siapa-siapa lagi. Ketika mayoritas dari kami tamat kuliah sarjana di semester delapan, Lally tetap tinggal di kampus menghadapi semester sembilan barengan Petruk. Akibatnya Lally jadi banyak ketinggalan pelajaran. Dan saat kami semua lulus dokter dan mulai bergerilya cari kerjaan, Lally masih bekutetan di rumah sakit menyelesaikan magang yang nggak selesai-selesai, sendirian. Kesiyan, batin gw. Makan tuh cintamu pada Petruk!

Gw pikir, Lally mestinya nggak perlu jadi kayak gini kalo dulu dia nggak mengisolasi diri bareng Petruk. Omong kosong dunia itu cuman milik berdua. Harusnya bagi waktu, kapan pacaran, kapan gaul sama teman-teman.

Bersyukurlah ibu-ibu yang suka kumpul arisan dan bapak-bapak yang suka mancing bareng. Biar hidup itu nggak melulu berumahtangga, tapi juga ada sosialisasi dengan orang lain. Di rumah gw di Bandung, sekompleks itu isinya janda semua. Yang punya suami cuman tiga orang, termasuk nyokap gw. Bayangin kalo mereka nggak suka arisan tiap bulan. Bisa-bisa tuh emak-emak sendirian di rumah masing-masing meratapi kekasih hati mereka yang udah duluan meninggal.

Kemaren weekend, hari yang gw benci coz kantor libur. Praktis gw tinggal sendirian di apartemen gw mengganyang buku kedokteran yang setebal bantal sembari ngeblog. Rasanya buoseen..banget. Kan di apartemen gw nggak ada tivi. Laptop gw lagi ngadat, jadi nggak bisa puter musik.

Biasanya gw buka chatroom, tapi entah kenapa orang-orang yang biasa ngobrol sama gw lagi pada offline semua. Apakah hari ini setiap orang lagi balik ke dunia nyata masing-masing?

Lalu gw buka Facebook gw. Baru gw sadar, jumlah friend gw membengkak sampai 500 dalam 11 bulan terakhir. Dan yang menarik, gw jarang ngobrol sama separuh dari mereka. Lha nama mereka nggak ada di contact list Messenger gw.

Gw liat 10 orang yang baru update status dalam 30 menit terakhir. Gw cek ID Yahoo mereka di Vizgin.com. Delapan orang offline, dua orang lagi available. Yang dua, gw add di Messenger. Beberapa menit kemudian, request gw di-approve.

Lalu gw kirimin instant message. “Lagi apa?”
Yang satu lagi seneng, coz Test Pack-nya positif. Yang satu lagi berduka, coz ditolak masuk sekolah spesialisasi anak.
Dan obrolan pun mengalir. Gw tercengang coz nggak tau temen gw daftar sekolah lagi. Dan gw lupa bahwa temen gw yang satunya udah punya suami baru.

Itulah kabar-kabari. Ngasih tau kabarmu kepada teman lama, sambil nanyain kabar teman lama. Jadi hidupmu nggak melulu sempit coz ngobrol dengan orang-orang yang itu-itu aja. Suatu hari kekasihmu akan meninggalkanmu, entah karena dipanggil Tuhan atau karena dipanggil orang lain. Dan nggak ada yang bisa nemenin kamu selain teman-teman lamamu.

Menumpuk stok teman nggak sama kayak numpuk stok beras. Beras bisa kadaluwarsa, atau dimakan tikus. Tapi teman nggak pernah kadaluwarsa apalagi dimakan tikus.
Jadi jangan pernah lupakan mereka, meskipun belum tentu mereka ada buat kamu setiap saat.

Ayo buka Twittermu, Facebookmu, Friendstermu, Multiplymu, apa sajalah. Buka blog pengunjung lama, ada kabar apa mereka sekarang?

Older Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.