Georgetterox

September 30, 2009

Kehilangan Besar

Filed under: me daily — Vicky Laurentina @ 6:57 am


Sudah 10 hari terakhir ini gw nggak ngapa-ngapain kecuali nulis e-mail Lebaran. Karena gw nggak suka pake robot bernama send-to-all, sedangkan yang mau gw kirimin jumlahnya ratusan, dan gw mempersonalisasi setiap e-mail yang gw kirimin, jadi kerjaan ini makan waktu lama.

Salah satu e-mail yang gw kirimin ke seorang kolega dua hari lalu, berbuntut balasan yang isinya menyedihkan. Ada yang baru saja meninggal.

Kolega gw umurnya 27, kerja di sebuah rumah sakit di Jakarta, sedang hamil lima bulan waktu gw kirimin e-mail Sabtu lalu. Tau-tau rahimnya kontraksi dan janinnya keluar. Bayi itu hidup, beratnya 390 gram, dan laki-laki. Pembentukan bagian-bagian badannyanya sudah sempurna semuanya, cuman matanya aja yang belum membuka. Kolega gw kasih dia nama seperti namanya seorang nabi. Empat jam kemudian, bayi itu meninggal.

Dalam balasan e-mail kolega gw kemaren, diceritakannya bahwa dia sudah ikhlas. Membaca e-mail itu bikin gw sedih bukan kepalang.

Kami para dokter umum selalu punya jawaban buat ibu-ibu hamil yang kehilangan janin mereka sebelum usia 20 minggu. Keguguran, Bu. Anaknya punya kelainan kromosom yang bikin dia sulit bertahan. Mungkin ayah atau ibunya pernah kecanduan alkohol atau ngebul melulu. Pokoke selalu ada penjelasan yang menenangkan untuk keguguran.

Pada ibu-ibu hamil yang kehilangan janinnya pada usia 7-9 bulan, juga ada penjelasannya. Maaf, Bu, anaknya terlilit tali pusat. Maaf, anaknya terhalang ari-ari. Maaf, tensi Ibu ketinggian jadi anaknya susah nafas. Dan sejuta alasan maaf lainnya.

Tapi gw belum pernah nemu jawaban yang menyenangkan buat ibu-ibu yang hamil dan kehilangan anak mereka pada usia antara 5-7 bulan. Tak ada hasil penelitian ilmiah yang memuaskan untuk itu. Kolega gw, termasuk deretan ibu-ibu itu.

Membayangkan anak itu sempat lahir, bernafas, dan sempat diberi nama oleh orangtuanya, sebelum meninggal, bikin hati gw remuk. Itu kehilangan yang besar.

***

Gw kehilangan seorang teman dua hari yang lalu. Teman yang dekat sekali. Gw masih heran bagaimana gw bisa kehilangan dia.

Tadinya semuanya biasa aja. Kita becanda, berkelakar. Sudah berbulan-bulan kita begitu. Sabtu lalu kita nontonin sebuah acara di tivi, lalu mulailah kita ngomentarin acara itu. Entah gimana, salah satu komentar kelakaran gw terhadap seseorang di acara itu jadi nyenggol perasaan temen gw. Dia membela orang itu habis-habisan, sementara gw diam aja coz kalo gw timpalin juga nggak ada gunanya. Ternyata sikap diam gw itu dikiranya gw marah.

Gw emang nggak setuju apa yang dia bilang, tapi gw nggak mau mengkonfrontasi dia kalo dia lagi semangat tinggi. Lagian menurut gw, it’s just a stupid tv show, nggak perlu jadi ajang debat kusir. Teman gw dan gw sama-sama punya ilmu sendiri-sendiri, dan kita dibesarkan dalam latar belakang budaya yang berbeda, jadi menurut gw perbedaan pendapat itu wajar.

Besoknya, gw jelasin ke dia bahwa gw memang nggak berkenan dengan apa yang dia bilang hari sebelumnya. Ada beberapa poin yang gw nggak mufakat, dan gw merasa harus jujur bilang gitu kepadanya coz gw nggak kepingin kejadian ini berulang lagi besok-besoknya. Lagi-lagi dia bersikukuh dengan pendapat dia, dan lama-lama gw menyerah coz gw bingung gimana menjelaskan betapa pendapat dia bikin gw nggak nyaman.

Lalu dia bilang gw cuma mau benar sendiri, sudah dari dulu, banyak pertikaian kita yang bikin dia merasa harus mengalah demi gw. Disebutkannya satu per satu event-event yang tidak menyenangkan itu, yang gw sendiri sudah hampir lupa coz gw anggap masalah itu sudah selesai. Pembicaraan itu melebar tidak karuan ke mana-mana, dan dia bikin gw merasa sangat egois kepada dia dan korban-korban gw.

Mungkin apa yang dia bilang tentang gw itu benar. Tapi gw tetap nggak suka caranya berargumen yang nyenggol-nyenggol nilai-nilai yang gw anut. Gw nggak punya masalah dengan isi pembicaraan dia, tapi gw cuman nggak suka cara dia ngomong itu ke gw. Gw kepingin mempertahankan gw di sisi dia, tapi caranya mempertahankan prinsipnya sungguh mojokin gw..

Gw benci berantem. Kadang-kadang gw yang menang, tapi itu nggak bikin orang seberangnya nyaman. Kadang-kadang gw yang kalah, dan gw merasa dirugikan. Kedua kondisi itu, tak ada satu pun yang bikin gw senang. Kenapa harus ngotot-ngototan sih? Kenapa nggak ada win-win solution yang menyenangkan buat semua pihak?

Pertengkaran itu memasuki hari ketiga dan gw kelelahan. Gw minta maaf ke dia. Untuk semua yang telah gw lakukan dan gw bilang, yang sekiranya telah bikin dia nggak enak, baik dulu maupun sekarang, gw sangat menyesal. Gw bersikeras minta maaf sama dia. Tapi kemarahan dia terhadap gw terlalu besar. Semakin gw minta maaf, semakin gusarlah dia. Gw rasa, dia nggak mau denger apa-apa lagi dari gw.

Gw kehilangan dia. Dan rasanya sakit sekali.

***

Sewaktu kemaren gw baca e-mail kolega gw dan denger gimana dia kehilangan anaknya, gw merasa Tuhan sedang menguji kita semua dengan mengambil orang-orang tersayang dari hidup kita. Mungkin Dia merencanakan sesuatu untuk memberi kita pelajaran. Jagalah kehamilanmu baik-baik. Jagalah sahabatmu baik-baik. You don’t know what you got till it’s gone.

Gw hanya berduka coz rasanya seperti mimpi. Padahal rasanya baru kemaren gw ketawa baca setiap pesan teman gw dan ketawa denger becandanya di telepon. Dan pasti rasanya baru kemaren kolega gw masih ngelus-elus perutnya yang hamil bayangin anaknya. Sekarang semua itu udah nggak ada. Mereka semua udah pergi.

Setiap kali gw ingat pertengkaran yang buruk sekali itu, gw cuman teringat soundtrack-nya Reality Bites yang dimainin Lisa Loeb, “You say..I only hear what I want to.” Dan tidak diragukan, gw yang kehilangan dia, gw sangat-sangat menderita karena itu.

Ini buat kolega gw yang baru kehilangan anaknya kemaren. Mudah-mudahan Tuhan kasih pengganti anakmu yang lebih baik.

Ini buat teman gw yang berantem sama gw dua hari lalu. I’m losing you. Gw kangen. Gw minta maaf. Dan gw nggak mau kita berantem lagi. Coz you remain a good friend, and you’re irreplaceable to me.

September 29, 2009

Konvensi Tukang Parkir

Filed under: Gimme a break — Vicky Laurentina @ 4:30 am

Gw belum ke pasar semenjak pulang liburan. Kecelakaan yang nimpa kaki gw praktis bikin gw nggak bisa ke mana-mana sehingga gw nggak tau situasi harga-harga barang pasca Lebaran. Jadi gw mau cerita aja tentang bagaimana Lebaran bisa mendongkrak perekonomian dan memaksa orang bangkrut secara bersamaan.

Minggu lalu, dalam perjalanan gw dari Cirebon ke Baturaden (yang ujung-ujungnya malah kebablasan ke Semarang), gw sempat lewat Slawi, sebuah kota yang jadi bagian dari Kabupaten Tegal. Di sepanjang jalan gw lihat banyak banget orang buka warung sate kambing muda. Yang membuat gw ngiler adalah cara mereka menggantung gelondongan daging kambing itu di depan warung mereka, seolah-olah daging-daging gantung itu melambai-lambaikan otot mereka sendiri, mendambakan untuk dimakan. Suasana itu makin dramatis dengan efek visual berupa asap yang mengepul-ngepul dari depan warung, pertanda si empunya warung sedang membakar sate. Gw menatap daging-daging itu dengan sayu dan berkata dalam hati, “Aku juga ingin memakan kalian, Guys. Tapi ini baru jam 10.30 dan aku baru sarapan jam delapan tadi di Cirebon!”

Membuat gw sadar tentang makna perjalanan ini, jangan pernah berada di Slawi sebelum jam makan siang coz satenya masih belum mateng..

Pada jam makan siang akhirnya kami tiba di Pekalongan dan mutusin buat berhenti di restoran lokal. Ya ampun, ternyata yang namanya nyari restoran pada H+2 Lebaran itu susah banget coz banyak banget restoran yang tutup. Ada juga sih beberapa yang buka, tapi parkirnya penuh.

Tapi akhirnya kami nemu warung yang buka dan mutusin buat berhenti. Ada dua warung berjejer, kami pilih warung sebelah kanan. Yang membuat kami tertarik adalah coz pemiliknya sendiri yang menyambut kami dan nanya kami mau makan apa. Salah, sebenarnya bokap gw nggak mau sama warung sebelah kiri coz di depannya ada orang lagi nyuci mobil.

Pelajaran penting, jika Anda buka warung, jangan sekali-kali nyuci mobil Anda di depan warung. Bikin calon pembeli jadi minggir.

Di warung itu, kita pesen bebek dan soto ayam. Sewaktu kita lagi enak-enak makan, tau-tau kita liat ternyata orang yang nyuci mobil di warung sebelah tau-tau pindah jadi nyuci mobil gw dan mobil paman gw. Padahal kita kan nggak minta mobil kita dicuciin..?

Selesai makan, nyokap gw bayar. Lalu bon yang cuman ditulis tangan itu bikin kita kaget. Dooh..cuman warung aja, harganya mahal beut seeh..

Sewaktu kita masuk mobil bersiap pergi, beberapa pemuda sudah berdiri pasang tampang mupeng. Oh, ini pasti yang nyuci mobil tadi. Bokap gw pasang tampang cuek, lalu mundurin mobil dan buka jendela buat bayar parkirnya doang. Si tukang parkir jadi-jadian berteriak coz katanya bayarnya kurang seribu perak. “Lebaran, Pak!” serunya.

Selama gw di Semarang, kadang-kadang kita berhenti di beberapa tempat dan harus bayar parkir juga. Anehnya, tiap kali bayar parkir, lantas tiap tukang parkir juga berteriak, “Lebaran, Pak!”

Ketika kami pulang dari Semarang ke Bandung, kami lewat Pekalongan lagi. Tak ada gunanya cari-cari referensi tempat makan mana yang enak di Pekalongan coz pada Lebaran H+3 masih juga banyak restoran yang tutup. Gw sendiri nggak punya kuliner incaran, gw cuma pengen makan di tempat yang banyak pengunjungnya supaya gw bisa motret buat bahan blog gw. Tapi tiap tempat makan yang rame selalu nampak dikelilingi preman lokal, dan yang bokap gw nggak mufakat, preman-preman itu senang nyuci mobil tanpa diminta.

Pelajaran berikutnya, kalo mau makan di rumah makan, selalu pasang spanduk di mobil Anda, “Yang berani nyuci mobil ini tanpa ijin pemiliknya, dikutuk jadi rawon!”

Kita makan di warung soto Pekalongan yang rame dan kebetulan nggak ada tukang cucinya. Kata pelayannya, soto khas daerah itu pake tauto. Entah apa tauto itu, yang jelas pas gw makan produknya, gw ngangguk, ya bolehlah.

Yang aneh waktu nyokap gw mau bayar, pelayannya malah noleh ke juragannya, “Berapa?”
Seolah-olah harga soto bisa berubah-ubah, jadi bergantung pada penampilan pembelinya.

Dan preman parkir warung soto tauto itu, kalo dibayar parkirnya juga seneng teriak, “Lebaran, Pak!”

Gw jadi terheran-heran, sebenarnya tarif parkir itu berapa sih? Kalo Lebaran emangnya naik juga ya?

Sampai-sampai gw mikir, kalo Natal, tarif parkirnya naik juga, nggak? Kalo Waisak? Kalo Galungan?

Apa pernah denger Anda bayar parkir dengan harga standar dan tukang parkirnya merasa kepingin lebih dan teriak, “Hanukkah, Paak..!”

Mungkin asosiasi tukang parkir dan rumah makan se-Pantura Jawa Tengah kudu bikin konvensi harga parkir dan harga menu makanan. Supaya pembeli nggak dibingungin dengan harga yang naik-naik nggak karuan ini. Dokter aja nggak pernah naikin tarif kalo Lebaran kok, kenapa para tukang parkir kudu ikutan morot-morotin pengunjung rumah makan segala..

September 27, 2009

Minggu Waspada

Filed under: me daily — Vicky Laurentina @ 2:46 pm

Kalo tahun-tahun dulu, biasanya minggu ini gw sebut periode kritis. Dulu tuh, saban kali seminggu pasca Lebaran pasti ada aja tamu tau-tau ngegedor rumah dengan alasan mau silaturahmi. (Apakah bertamu itu harus pake alasan? Hahaha..)
Sebenarnya bagus sih, tapi yang mengusik gw adalah, nih tamu kok datang mendadak yak? Gimana kalo orang udah dateng jauh-jauh ke rumah gw dan ternyata seisi rumah gw lagi nggak ada di rumah? Yang lebih repot lagi, gimana kalo tamu tiba-tiba dateng pas seisi rumah lagi sibuk dengan proyek masing-masing: Bokap lagi ngutak-atik mobil, nyokap lagi motongin baju, adek lagi bikin kliping sinetron Korea, gw lagi ngeblog, dan rumah lagi berantakan kayak kapal pecah?

Makanya gw sebut minggu ini sebagai periode kritis coz tamu bisa aja datang sewaktu-waktu dan rumah nggak boleh berantakan oleh proyek-proyek keluarga gw. Gw sendiri melihat kecenderungan orang buat main tamu-tamuan udah makin menurun dari tahun ke tahun. Untuk mengetahui kabar seseorang, orang nggak perlu nyatron langsung ke rumahnya, tapi cukup nelfon atau SMS doang. Lebih parah lagi, kalo mau tau, intip aja profil Facebook-nya atau kalo mau ndetil ya ke blognya.

Gw sendiri udah lupa kapan nerima tamu di rumah, coz orang kalo mau ketemu gw cukup nelfon gw buat janjian ketemu di tempat dugem mana gitu, bukan di rumah. Terakhir kali gw ketamuan mungkin pas gw masih jadi mahasiswa magang tiga tahun lalu, dan menurut gw orang-orang itu bukan bertamu, tapi ngerjain proyek kasus pasien bareng.

Kakak gw yang umurnya 29 tahun malah nggak pernah nerima tamu semenjak dia punya rumah sendiri di Bogor. Yang dia sebut ruang tamu adalah foyer kecil dengan dua kursi yang sama sekali nggak empuk. “Sengaja,” katanya. “Biar tamunya cepet pulang. Hahaha!”

Apa dia pernah terima tamu selama tinggal di situ?
“Tentu saja, satu kali,” katanya. “Waktu aku baru pindah ke sini, aku didatengin Pak RT. Dan dia minta sumbangan. Untung aku nggak pasang sofa. Bisa-bisa nanti dia betah dan minta sumbangannya makin gede..”

***

Jadi karena minggu ini masih bau-bau Lebaran, biasanya bonyok gw pergi ke rumah tetangga buat tamu-tamuan. Gw pikir mungkin dalam konteks ini yang lebih urgen buat bertamu adalah bokap gw kali yah, soalnya bokap gw kan kerja siang-malam dan jarang di rumah. Lha nyokap gw kan nggak ngantor, jadi ya ketemu tetangga tiap hari. Tapi kali ini, gw dan adek gw harus ikut.

Gw sebenarnya ogah-ogahan bertamu ke rumah tetangga, soalnya:
1. Kan udah papasan tiap hari, ngapain tamu-tamuan lagi sih?
2. Gw masih muda, dan tetangga-tetangga itu udah pada pensiun semua, jadi ngobrolnya nggak nyambung.
3. Gw orangnya nggak suka basa-basi. Anda kalo perlu pertolongan gw ya ngomonglah, tapi kalo nggak ya gw tinggal tidur.
4. Tetangga gw nggak punya anak laki-laki eksekutif muda yang masih bujangan. 😛

Tapi nyokap gw maksa gw ikut. Alasannya, kalo suatu hari nanti tiba-tiba bokap atau nyokap gw meninggal, gw tuh ada yang merangkul. Hebat, bahkan nyokap gw bertamu ke rumah tetangga hanya untuk memastikan suatu hari nanti ada yang akan memeluk gw (?!)

Oke, kami baru tiba di rumah sepulang liburan kan hari Rabu siang lalu, jadi bonyok gw baru fit buat tamu-tamuan hari Kamis. Masalahnya, mau ke rumah tetangganya jam berapa? Pagi nggak mungkin, coz bokap kerja. Kalo jam 12 atau jam 1 kan jadwalnya orang makan siang. Mosok mau dateng jam segitu, ntie dikiranya kita mau nodong minta makan pula, hehehe.. Jam 2 atau jam 3 kan jamnya tidur siang. Kalo jam 4 atau 5 kan waktunya orang nyiram kembang, walah.. (lagian bokap gw juga kerja sampai malem) Jadi mau bertamunya kapan dong?

Terus gw usulin ke nyokap, bertamunya hari Minggu besok aja, biar bukan waktunya orang kerja. Tapi kata nyokap gw, hari Minggu kan masih tiga hari lagi, nanti oleh-oleh bandeng dari Semarangnya keburu basi..? Ya ampun, jadi semua tetek-bengek ini cuman buat mbelain bandeng?

Gw nggak tau apakah perkara tamu-tamuan ini masih efektif atau tidak. Culture gap yang beda jauh antara gw dan bonyok makin lama makin lebar aja dan gw kudu susah-payah menjembataninya. Barangkali kita perlu semacam tips manual gitu tentang bertamu yang kira-kira sesuai dengan jaman sekarang. Bertamu enaknya jam berapa? Perlu bawa oleh-oleh, nggak? Kapan mulai makan suguhan dari tuan rumah? Dan, kalo mau tamu enaknya nelfon dulukah atau dikasih tau via Facebook-kah? Atau langsung muncul di pintunya sembari teriak, “Surpriiise..!” supaya tuan rumahnya nggak sempat ngibrit dan pura-pura nggak ada di rumah?

Sebenarnya gw nulis ini kemaren dan udah siap rilis, tapi Anda tau sendiri kemaren gw jatuh dari tangga sehingga terpaksa ada tulisan dadakan tentang kecelakaan gw. Malam ini gw mikir, andai aja nyokap nurutin gw buat tamu-tamuan ke tetangga hari Minggu aja bukan hari Kamis, pasti Minggu ini batal ke tetangga coz gw nggak ikut. Untung bandeng memaksa nyokap tamu-tamuan hari Kamis, mana tau Sabtu gw bakal kecelakaan? Sekali lagi, bandeng telah ngatur ritme hidup keluarga gw.

September 26, 2009

Sakit Minta Ampun

Filed under: me daily — Vicky Laurentina @ 2:33 pm

Kalo dipikir-pikir, dengan egoisnya gw mau nyalahin nyokap atas kecelakaan ini.

Tapi gw pikir kemudian, mengingat kembali semua kejadian yang terjadi akan bisa bikin gw berpikir lebih baik dan pada akhirnya memaafkan dengan lebih enak, tidak masalah siapa yang dimaafkan.

Malam ini, tiga jam yang lalu, gw lagi leyeh-leyeh di kamar gw sambil bales-bales e-mail pake HP. Lalu nyokap gw teriak dari lantai bawah, minta gw turun buat nemenin nyokap nonton tivi. Gw teriak bilang nggak mau, coz gw pengen tiduran sambil pake selimut coz Bandung dingin malam ini. Tapi nyokap gw maksa gw turun, katanya gw boleh tiduran di kursi, gw boleh pake selimut yang ada di lantai bawah, tapi pokoke gw kudu turun. Kalo gw nggak mau nemenin nyokap nonton tivi, nyokap ngancem bakalan ngadu ke bokap gw yang malam ini lagi kerja di luar. Gw akhirnya ngalah dan mutusin buat turun sambil bawa HP gw, coz gw takut bokap gw akan marah lantaran gw nggak nemenin nyokap, sehingga akibatnya bokap gw nggak akan beliin gw martabak keju kesukaan gw.

Dan di situlah musibah itu terjadi. Gw nurunin tangga sambil nyanyi-nyanyi riang, dan pas gw mijak anak tangga terakhir, gw nginjak ujung trap yang salah. Tiba-tiba gw lihat dunia jadi oleng, dan berikutnya gw sudah terjerembab ke lantai.

Kaki kiri gw nampaknya mendarat dengan sikap yang salah, mengakibatkan rasa nyeri yang ngilu bukan main menjalar dari telapak sampai ke paha. Gw denger mulut gw sendiri menjerit-jerit nyeri seperti jeritan Diego Simeone waktu (pura-pura) kesandung kaki David Beckham pada pertandingan Argentina vs Inggris di putaran perdelapan final Piala Dunia ’98.

Nyokap gw dan adek gw tergopoh-gopoh menghampiri kaki gw, tapi gw larang keras nyokap gw nyentuh kaki gw. Sakit..sumpah..sakit!

Gw tau apa yang gw takutkan, gw takut sendi tungkai gw bergeser dari tempatnya dan itu akan menyebabkan kelumpuhan yang cukup lama rehabilitasinya. Jadi gw dengan ngeri menatap kaki gw sambil berdoa, Tolong jangan bengkak please, tolong jangan bengkak! Adek gw nyuruh gw berhenti menjerit-jerit coz itu mengingatkannya kepada pasien-pasiennya di rumah sakit, jadi mahasiswa magang yang satu ini nyuruh Bu Dokter yang kesakitan ini menggerakkan kaki gw pelan-pelan. Sakit..! Tapi adek gw terus maksa sampai akhirnya kami bisa mastiin kaki gw cuman kena contusio jaringan belaka, meskipun gw terus-menerus mengaduh. Huhuhu..sakit banget!

Saat gw menulis blog ini, gw masih nyeri lantaran keseleo nista ini. Gw masih nggak mau minum obat apapun coz gw nggak mau bergantung sama pereda nyeri jenis apapun. Tapi saat gw mengistirahatkan kaki gw dengan posisi serba salah (dilurusin sakit, ditekuk sakit juga, mana yang bener sih?), gw memandang tempat kejadian perkara. Trap tempat gw celaka barusan adalah trap yang sama tempat nyokap gw juga pernah keseleo lima tahun yang lalu. Posisi jatuhnya juga sama.

Apakah orang tua gw telah membangun trap di bawah anak tangga dengan bentuk yang salah? Trap itu memang bentuknya segitiga dengan salah satu sudut nempel ke anak tangga. Nampaknya kaki gw dan kaki nyokap menuruni tangga dengan terlalu mepet ke sisi, sehingga saat menginjak trap, kaki kami malah nginjak sudutnya yang lancip, yang sebenarnya tidak terlalu lapang untuk ukuran kaki. Pantesan kami kepeleset.

Gw sebenarnya udah nyiapin tulisan lain buat blog malam ini, tapi insiden ini bikin gw nunda tulisan itu dan mutusin buat nulis yang ini secepat kilat. Gw cuman mau kasih ide bahwa lain kali kita bikin rumah yang lantainya ada trapnya, kudu diperhitungin betul-betul buat keselamatan lalulintasnya. Apalagi kalo keluarga penghuninya adalah tipe orang-orang pecicilan kayak gw dan nyokap gw, yang kalo jalan sambil mikirin yang lain jadi nggak liat-liat medan yang gampang bikin celaka.

Gw nggak ngerti kenapa gw celaka malam ini. Gw sudah mendiami rumah ini lama, dan baru kali ini gw kepeleset di tangga rumah gw sendiri. Mungkin gw punya salah dan nyenggol perasaan orang hari ini. Kalo hari ini ada yang menggerutu gara-gara ulah gw, gw sungguh-sungguh minta maaf. I don’t intend to hurt you. You don’t need to wish my ankle get hurted to make me realize how much I’ve broken your heart apart.

Maaf, blog malam ini nggak ada fotonya. Nampaknya insiden kecelakaan ini bikin gw baru saja kehilangan kamera gw.

September 24, 2009

Antara Bandeng dan Orang Sekarat

Filed under: me daily — Vicky Laurentina @ 1:20 pm


Sudah banyak ditulis tips-tips tentang liburan, termasuk nyari hotel yang bagus dan murah, jalur alternatif yang belum diketahui orang, dan tempat makan yang enak. Tapi nggak ada yang pernah ngasih tips yang satu ini: Selalu bawalah baju hitam.

Selasa pagi di Semarang, gw sedang ngatur strategi buat beli bandeng. Heyy..bahkan beli bandeng aja harus pake strategi lho. Soalnya menurut tradisi keluarga gw, nggak lengkap pergi ke Semarang kalo nggak beli bandeng. Dan kami selalu beli bandeng di toko yang sama, di kawasan Pandanaran itu, meskipun saban kali ke sana kami selalu ngomel coz nggak pernah dapet tempat parkir yang enak. Saking penuhnya toko itu, sampai-sampai polisi Semarang terpaksa bikin pos mudik di seberangnya lantaran pengunjung toko itu selalu bikin macet.

Ada banyak macam bandeng dan gw pengen beli semuanya, mulai dari bandeng pepes duri lunak yang dibanderol Rp 52.500,- bisa dapet dua ekor; sampai bandeng otak-otak yang untuk dapet tiga ekor aja Anda harus ngerogoh kocek sampai Rp 78.500,-. Ada juga inovasi bikin-bikinan penjualnya berupa bandeng teriyaki yang seekornya dihargain Rp 28.500,-. Favorit gw sih jelas bandeng asap duri lunak, yang Rp 56.500,- bisa dapet empat ekor.

Beli bandeng itu mesti pake strategi, soalnya penjualnya mewanti-wanti bahwa tuh bandeng cuma tahan dua hari kalo nggak ditaruh di kulkas. Padahal menurut analisa gw, baru besok malam kami baru bisa dapet kulkas, coz paling baru besok malam kami tiba di Bandun lantaran selama liburan ini setir mobil dimonopoli bokap gw yang sudah mulai gampang capek. Belum tentu kami bisa dapet hotel yang ada kulkasnya, coz liburan Lebaran gini pasti semua hotel dijamin penuh. Sudah untung kalo nanti malem kami nggak tidur di pom bensin lagi.

Bisa aja sih beli banding vacuum yang tahan tiga bulan tanpa masuk kulkas. Harganya cukup Rp 66.500,- bisa dapet tiga ekor. Tapi nyokap gw nggak suka ide itu. Takut pengawet.

Sang toko bandeng sebenarnya juga nyediain jasa pelayanan pengiriman bandeng ke seluruh Indonesia. Kalo ngirim bandeng ke Bandung, sekilonya dipasangin tarif pengiriman sekitar Rp 14.000,-. Yang paling jauh ke Mimika, tarifnya Rp 96.000,-.

Lalu pas gw lagi mikir-mikir strategi beli bandeng itu, tau-tau bokap gw dapet SMS. Sepupu bokap gw ternyata lagi sekarat di Jakarta lantaran sakit jantung bonus radang liver. Gw nggak suka berpikir gini, tapi sebagai dokter, kami bisa meramal kapan seseorang akan meninggal, dan si Pakde itu sudah masuk kriteria di mana setiap orang harus mulai mengintensifkan doa. Yang dicemaskan oleh gw dan bokap, kalo sampai Pakde meninggal, maka hari itu juga kami kudu ke Jakarta untuk berkabung. Padahal dengan posisi kami yang masih ada di Semarang, paling-paling kami baru bisa sampai ke Jakarta besok sore. Lha kalo besok di Jakartanya melayat dulu, berarti sampai ke Bandungnya kapan? Lha kalo ke Bandungnya masih lama, gimana dong nasib bandengnya? Mosok mau melayat sodara sambil numpang nyimpen bandeng di kulkas mereka?

Akhirnya hari Selasa itu, gw sambil bersungut-sungut meninggalkan cottage kami di Semarang dan turun ke Pandanaran buat beli bandeng. Selesai acara belanja bandeng plus bonus wingko dan loenpia itu, kami buru-buru cabut dari Semarang dengan tujuan ngejar kulkas di Bandung sambil siaga telepon dari Jakarta.

Pas jam tiga sore kami baru sampai di Tegal waktu SMS masuk. Pakde meninggal barusan. Akan dimakamkan di Tanah Kusir besok pagi. Lupakan saja rencana kita pulang langsung ke Bandung.

Malam itu rasanya seperti malam yang panjang. Jalan masih panjang pula coz bokap gw berusaha menargetkan Jakarta secepat mungkin. Kami semua ngantuk, kecapekan, dan mencemaskan bandeng di bagasi belakang. Gw juga bingung coz gw teringat bahwa di koper gw cuman ada dua baju bersih yang semuanya tipikal khas baju liburan. Yang satu baju kembang-kembang warna item yang berkerut-kerut sexy, yang satu lagi gaun hamil kembang-kembang warna putih yang melayang-layang. Mana pantes gw pake baju-baju ginian buat melayat??

Gw rasanya meringis waktu jam delapan malem itu kami masih di perbatasan Brebes dan Cirebon. Kasihan bokap. Duuh..mudah-mudahan kabinet pemerintahannya yang berikut ini betul-betul dari kalangan profesional supaya mereka bisa bikin jalan tol dari Cirebon yang langsung ke Jakarta. Gw benci banget lewat Panturanya Kabupaten Indramayu yang jalannya nggak pernah tertib itu.

Perjalanan ini ngasih gw pelajaran penting. Kau tidak pernah tau kapan persisnya seseorang akan meninggal. Seseorang bahkan bisa aja meninggal saat kita lagi liburan. Makanya, kalo kau pergi liburan, jangan pernah lupa bawa baju buat melayat!

Dan satu lagi, nampaknya kami harus sedia kulkas dalam mobil. Saat gw menulis ini, gw masih belum percaya bagaimana sebuah perjalanan yang direncanakan hanya akan sampai Baturaden malah akan berakhir di sebuah toko bandeng di Semarang. Padahal kan mobil normal mana pun juga nggak akan ada kulkasnya. Coz kalo sebuah kendaraan beroda empat sampai punya kulkas, itu namanya bukan mobil. Itu namanya..karavan.

Older Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.