Georgetterox

October 31, 2009

Suatu Hari "Sok Nyeni"

Filed under: me daily — Vicky Laurentina @ 8:08 pm

Menjadi perempuan ternyata cukup pusing. Harus bisa dandan cantik, harus bisa isi perut. Dan harus selalu nampak bersih. Siyalnya nggak semua perempuan bisa kayak gitu. Setidaknya itu yang gw tangkap dari pameran lukisan ini.

Sebenarnya gw nggak tau persis alasan gw ke pameran seni rupa kemaren. Gw lagi kepingin belajar memahami profesi orang lain, dan waktu gw baca bahwa ada pameran tunggal seorang seniman bernama Hanafi, gw mutusin untuk datang biarpun gw nggak pernah kenal namanya. Soalnya:
1. Masuknya gratis, nggak bayar.
2. Tempatnya nggak jauh dari rumah. Pamerannya digelar di Jalan Perintis Kemerdekaan, Bandung.
3. Digelar di Gedung Indonesia Menggugat. Katanya itu gedung bersejarah di Indonesia. Gw penduduk Bandung, tapi gw nggak pernah dateng ke situ. Sungguh memalukan. Meskipun menurut gw, bukan salah gw juga. Di sana nggak ada yang jual makanan.
4. Pada waktu gw bisa ke sana kemaren, nggak ada jadwal syuting, nggak ada janjian wawancara dengan pers, nggak ada pemotretan..:-P

Jadi gw dateng ke sana, agak sedikit pangling coz gw sempat mengira gw kesasar. Tempat itu nyaris kosong, nggak ada apa-apanya. Satu-satunya yang menyambut gw adalah meja buku tamu, menandakan bahwa di situ sedang digelar “sesuatu”. Gw nyaris ketawa coz di meja itu nggak ada yang jaga. Batin gw, ini yang bikin acara, niat nggak, seeh? Kalo gw maling yang niat nyolong lampu, gimana dong?

Jadi gw melangkah masuk, lalu celingukan di ruangan dalam. Yang pertama kali menarik perhatian gw adalah barisan baju ini. Dan gw sempat mengira gw sudah kesasar masuk butik setengah jadi.

Untunglah daya nalar gw masih bekerja. Butik mana pun nggak akan gantung baju di tempat gantungan yang bentuknya mirip cewek yang gesturnya berkata, “Cape deeh..!”

Oke, gw salah. Ini bukan baju. Ini adalah kain-kain yang dibentuk dengan dua dimensi sehingga membentuk baju. Tiap figur dipasangin celana dalam putih (itu CD beneran!) seolah menegaskan seksualitas perempuan. Hm, sayang. Mestinya senimannya cari celana dalam cewek yang bentuknya lebih modis, jangan yang model konvensional gitu.

Selanjutnya gw disambut lukisan-lukisan yang digantung berjejer di tembok. Eh, bukan tembok ding, seseorang nampaknya telah menggantung kain belacu putih di sepanjang dinding, menyulap gedung yang tadinya rumah biasa itu menjadi sebuah galeri yang cukup ciamik (atau dalam kesan awam gw: polos).

Lukisannya rata-rata suram. Gw sengaja nggak riset duluan tentang pelukisnya, coz gw kepingin mengapresiasi karya-karyanya dengan jujur dari pandangan orang awam yang nggak tau apa-apa tentang seni rupa. Lukisannya menggambarkan perempuan telanjang yang mukanya ketutupan rambutnya yang panjang, dan semuanya digambar dalam posisi putus asa. Semuanya nampak sedih dan perempuan di sini nampak menderita.

Karena gw nggak suka gambar yang suram-suram, maka gw nggak motret banyak-banyak. Jujur aja, ini bukan jenis lukisan yang mau gw pasang di ruang tamu gw. Satu-satunya lukisan yang jadi favorit gw justru lukisan ini.

Perempuan ini telanjang dalam keadaan posisi nelangsa. Pelukisnya membelah lukisannya menjadi dua bagian, lalu menancapkan gergajinya persis di gambar selangkangan. Adakah ini bercerita tentang perempuan yang sudah ngalamin pelecehan seksual habis-habisan dan pada akhirnya daya kewanitaannya telah dikebiri?

Setelah puas ngecengin lukisan-lukisan perempuan sedih itu sendirian (nggak ada pengunjung lain saat itu), akhirnya seorang satpam menyambut gw di pintu dan ngasih gw souvenir berupa buku, dan gw baca pas gw udah pulang ke rumah.

Hahahah..ternyata memberikan buku pengantar acara, ngasih pengaruh beda ke gw. Ternyata, pameran lukisan itu diilhami dari puisi Rendra yang berjudul Nyanyian Angsa. Puisi ini berkisah tentang Maria Zaitun, perempuan yang terpaksa jadi pelacur lantaran kepepet jadi melarat. Sampai kemudian Maria Zaitun kena sifilis sehingga dia nggak laku lagi jadi perek. Sudah telat stadium sifilisnya buat diobatin waktu Maria Zaitun minta bantuan dokter, dan ketika ia minta bantuan religius kepada pastor, dia nggak mendapatkan ketenangan yang dia impikan.

Barulah gw ngerti kenapa lukisan-lukisan itu tadi nampak suram sekali. Bahkan keseluruhan pamerannya mencerminkan sedih. Dinding dan lantai ruangan yang dibungkus kain yang putih bersih, kontras dengan lukisan-lukisannya yang hampir semuanya bercerita tentang perempuan “kotor”. Seolah-olah mau bilang, di dunia ini nggak ada yang seluruhnya baik-baik aja. Pasti ada yang nggak beres, dan siyalnya, yang nggak beres itu hampir selalu diumpetin, tapi sebenarnya keliatan kalo kita mau perhatikan dengan jeli.

Gw bukan peminat seni rupa. Gw adalah dokter, dan satu-satunya kerjaan seni rupa yang gw sukai hanyalah menjahit luka orang. Tapi datang ke pameran seni rupa dalam keadaan tidak tahu apa-apa dan belajar sesuatu, adalah pengalaman yang sangat mengesankan buat gw.

Proposal Halloween Indonesia

Filed under: tips n trick — Vicky Laurentina @ 2:27 am

Halloween yang populer di Amrik, belum begitu populer di Indonesia coz orang Indonesia belum ngeh-ngeh amat dengan Halloween. Halloween sebenarnya berasal dari tradisi orang-orang Celtic kuno di tanahnya Ratu Victoria sana. Mereka percaya bahwa pada tanggal 31 Oktober, batas antara dunia nyata dengan dunia roh halus jadi tipis, sehingga roh-roh halus berdatangan ke dunia manusia. Roh halus itu ada yang jahat dan ada yang baik, dan manusia waspada coz takut roh jahat itu bakalan merasuki manusia. Supaya nggak kesurupan, manusia membentengi diri mereka dengan make topeng sehingga tampangnya jadi mirip roh jahat itu, biar roh jahat yang mau nyurupin manusia ini merasa bahwa manusia ini “masih temennya”, jadi nggak usah disurupin. Hm..mungkin tips ini bisa ditiru anak-anak sekolah menengah dan pekerja-pekerja pabrik yang paling sering diberitakan kesurupan. 😛

Pada perkembangannya Halloween nggak dipake lagi sebagai hari buat membentengi diri dari roh jahat. Malah cuman diambil sisi hiburannya yaitu buat pawai keliling dusun pake kostum unik. Kostum yang dulu populer pas Halloween adalah kostum roh jahat seperti kostum setan, nenek sihir, vampir, dan sejenisnya. Sekarang banyak banget orang merayakan Halloween pake kostum Putri Salju, kostum Batman, bahkan kostum tomat. Membuat gw sering sulit membedakan apakah ini Hari Halloween atau Hari Pesta Kostum?

Di Indonesia, Halloween dirayakan di beberapa sekolah yang memang seneng bikin pesta. Sekolah-sekolah ini bikin pesta di hari apa aja, entah itu Valentine, prom night, agustusan, dan entah apa lagi. Di mal-mal kota besar, Halloween dimanfaatkan sebagai momentum buat mendekorasi mal, dan para pengusaha mal memang senang nunggu hari-hari istimewa buat ngedekor mal, entah itu pas Imlek, Natal, Lebaran, dan lain-lain. Tujuannya apalagi kalo bukan buat mendekor mal dan diharapkan bisa mendongkrak omzet mal. Contohnya yang di foto ini.

Foto ini gw jepret di Mal Paris van Java, Bandung, dua minggu yang lalu. Mal ini mendekor plaza tengahnya dengan boneka-boneka penyihir yang digantung di udara. Kenapa di foto ini ada angklungnya? Yup, karena pada malam gw jepret foto ini, di mal itu baru diadain parade angklung, dan pertunjukan angklungnya dipentasin di plaza tempat digantungnya dekorasi boneka penyihir itu. Keputusan yang cerdas, menurut gw, coz pada dua titik pandang yang sama orang bisa melihat dua simbol dari dua budaya yang berbeda, yang satu budaya dari negeri orang dan yang satu lagi adalah budaya dari negeri sendiri.

Sewaktu hari Sumpah Pemuda lalu, gw agak jenuh dengan blog-blog yang sok nasionalis, dalam hal ini yang isi tulisannya mengecam generasi muda yang lebih senang mengagung-agungkan budaya barat. Well, menurut gw, itu sempit banget coz nggak semua pemuda Indonesia kayak gitu, malah cuman segelintir doang yang sok westernisasi. Menurut gw budaya barat itu, atau bahkan budaya utara, selatan, tenggara, atau timur laut sekalipun, nggak masalah kalo diaplikasikan kepada kehidupan sehari-hari kita asalkan memang nggak nyenggol prinsip identitas kita. Malah kalo kita mau kreatif, hasil budaya negeri orang itu bisa kok dimodifikasi ulang dengan budaya kita sendiri. Contohnya aja, kita bisa bikin Halloween a la Indonesia.

1. Pake aja cara mistis a la negeri sendiri, misalnya mal-mal didekorasi pake bau kemenyan.

2. Supaya lebih menghayati Halloween, pegawai-pegawai tokonya disuruh pake kostum pocong, genderuwo, leak, wewe gombel, atau sejenisnya. Kan biar Halloween-nya lebih ng-Indonesia gitu, hehehe..

3. Mal-mal bisa masang booth-booth mistis selama hari Halloween, misalnya bikin stand paranormal, dengan mengundang paranormal tradisional yang suka muncul di tivi-tivi itu.

4. Stasiun-stasiun tivi bisa ikut merayakan Halloween dengan memutar parade film-film horor Indonesia, kalo perlu 24 jam penuh isinya film horor semua. Eneg biar eneg dah!

Selamat Halloween! Bagaimana proposal Halloween a la Anda? 😉

October 30, 2009

Jalannya Mbahmu

Filed under: features — Vicky Laurentina @ 5:23 am

Temen gw baru cerita ke gw bahwa sekarang dia lebih sering naik angkot ketimbang bawa mobil sendiri. Tadinya gw kirain dia mau sok ikut-ikutan green life gitu, atau mau ngirit bensin, atau lebih parah lagi jangan-jangan mau ngecengin kenek angkot. Tapi ternyata dia menampik semua tuduhan gw itu sambil menggerutukan alasannya yang benar, “Orang-orang krucuk itu ngehalangin jalan gw.”

Jadi gini, teman gw ini, sebut aja namanya Fiona, tinggal di sebuah komplek perumahan di sebuah kota di Indonesia. Rumah sebelahnya rumah Fiona itu kosong blong, udah lama nggak ada penunggunya. Lalu beberapa minggu terakhir ini datanglah segerombolan orang kerja di rumah itu, membenahi beberapa tembok yang mau roboh, genteng yang mau bocor, mengecat ulang tembok, termasuk membangun beberapa ruangan baru. Wah, mau punya tetangga baru nih, batin Fiona.

Lalu, ada yang bikin Fiona, dan juga beberapa tetangga lain yang tinggal di jalan itu, jadi ngegosipin rumah itu. Soalnya kuli-kuli itu membangunnya sembarangan. Maksudnya, gundukan pasir buat mbangun rumah itu, ditumpuk di pinggir jalan, dan tumpukannya meluber ke mana-mana sampai makanin 75% badan jalan. Alhasil, tetangga-tetangga lainnya yang bawa mobil, nggak bisa lewat. Eh, bisa sih, tapi ya kudu liat-liat dengan super hati-hati gitu, supaya mobilnya nggak sampai nyebur selokan, cuman gara-gara menghindari gundukan pasir yang udah mirip gunung-gunungan itu.

“Dikiranya jalannya mbah’e, apa?” ujar Fiona ketus waktu bilang itu ke gw.

Lalu gw bilang sama Fiona, ya bilang dong sama mandornya, supaya tuh pasir bangunan ditata yang rapi biar nggak ngalang-ngalangin jalan. Jadi mobil dia bisa lewat. Tapi, jawab Fiona, “Mandornya yang mana, gw juga kagak tau.” Dan memang tidak ada seorang pun yang tau. Pasalnya, dari hari pertama pembangunan rumah sampai sekarang, tuh pemilik rumah maupun pimpinan proyeknya nggak kulo nuwun dulu sama para tetangga.

“Tau ya, rumah lu ya rumah lu sendiri, tapi jalan depan rumah lu bukanlah punya lu sendirian. Biarpun mbah lu Kepala Dinas PU yang mbangun jalannya! Mbok kenalan gitu sama tetangga kiri-kanan yang tinggal duluan di situ, ‘Permisi..ini saya mau bikin rumah. Maaf ya, kayaknya nanti pasir buat pembangunannya bakalan ngalangin jalan..’ Lhoo..kalo kayak gitu kan lebih elok. Kita juga tau kok halaman rumah kita di kompleks ini sempit-sempit, pasti mau nggak mau bahan-bahan bangunan itu bakalan ngeganggu jalan. Kita juga pasti maklum. Tapi ya bilang-bilang dulu dong sama pemake jalan yang lain. Minimal kenalan dulu gitu, kek!” jawab Fiona berapi-api.

Gw mencoba menghibur Fiona bahwa tidak semua orang itu punya sifat pemberani yang sama seperti kita. Beberapa orang masih malu buat ngajak kenalan duluan ke orang lain, apalagi buat bilang bahwa pasir dia bakalan ngehalangin jalan mereka.. 

Jemaah blog gw mungkin nggak ada yang sebloon kuli-kuli ini ya, yang bisa naruh-naruh pasir sampai ngehalangin jalan. Tapi pasti banyak dari kita yang punya impian kepingin bikin rumah sendiri suatu hari nanti, bukan sekedar beli jadi dari developer. Bikin rumah itu ternyata prosesnya nggak main-main, bukan sekedar milih arsitek atau milih kontraktor yang jagoan bikin rumah artistik yang tahan gempas. Tapi juga kudu milih pimpinan proyek yang punya etika, yang bisa meminimalisir segala kerugian yang harus diderita oleh kepentingan umum, sebagai akibat dari pembangunan rumah itu. Pasir ngehalangin jalan baru contoh kecil. Contoh lainnya:
1. Kalo bikin sumur, jangan sampai nyedot air tanah dari sumurnya tetangga.
2. Kalo bikin ruangan yang ngehimpit ke temboknya tetangga, jangan sampai balok langit-langitnya nyodok ke tembok.
3. Kalo bikin balkon, jangan sampai menghadap ke tamannya tetangga coz itu kesannya mau ngintip rumah tetangga.
4. … (isi aja sendiri)

Barangkali calon tetangga barunya Fiona itu bukan orang terpelajar. Atau setidaknya, nggak lulus pelajaran tata krama, hahaha.. Ah, jadi nyesel nih. Pantesan orang jaman sekarang rata-rata nggak sopan. Lha dulu waktu SD pelajaran PMP-nya juga cuman 2 x 30 menit..

October 29, 2009

Pengunjung Gelap

Filed under: Fresh from d'Oven — Vicky Laurentina @ 7:29 am

Jika ada yang dongkol tentang gimana seorang bayi yang lagi dirawat bisa hilang di sebuah rumah sakit, barangkali cerita berikut bisa menjelaskannya sedikit.

Alkisah di sebuah bangsal yang khusus merawat orang-orang sakit jiwa, suatu hari pada bangsal inap itu mau diadakan visite besar. Hari itu sudah berkumpul para mahasiswa residen yang lagi belajar buat jadi psikiater, dan para mahasiswa koass yang lagi belajar buat jadi dokter umum, menunggu datangnya seorang psikiater yang akan memeriksa satu per satu kasus pasien yang sudah mereka pelajari sepanjang minggu itu. Perawat berseru kepada semua pasien sakit jiwa yang lagi main di bangsal, “Ibu-ibu, Bapak-bapak, ayo semuanya kembali ke tempat tidur ya. Mau diperiksa sama Pak Dokter!”

Yah namanya juga pasien sakit jiwa, ada yang nurut, ada yang nakal. Pasien-pasien yang nurut mau aja disuruh duduk yang manis di tempat tidurnya. Sementara pasien yang mbandel tetap mondar-mandir keliling ruangan.

Gw pernah berada di situasi seperti itu waktu gw masih jadi koass dulu, dan gw sering ketawa ngeliat mantri-mantri harus main kejar-kejaran sama pasien-pasien sakit jiwa yang seneng main petak umpet. Senior-senior gw yang jadi residen itu nampak stress karena mereka mau dites oleh dosen kami, sehingga kadang-kadang gw susah membedakan yang mana yang lebih waras, apakah dokter residen psikiatrinya, atau malah justru pasien psikiatrinya, hehehe.. Oh ya, kami para koass waktu itu ngga tau yang mana dosen ahli jiwanya, sebab dosen itu sibuk banget dan jarang menemui kami.

Lalu tiba-tiba situasi ruangan itu menjadi hening. Seorang bapak yang bajunya cukup kumal berjalan nyelinap di antara mahasiswa-mahasiswa itu. Seorang mahasiswa koass yang ganteng dan cukup awas matanya langsung berpikir ini pasti satu lagi pasien bandel yang ngga mau duduk di tempat tidur, jadi dia segera menghampiri bapak itu, dan berkata dengan lembut, “Bapak, ayo Bapak ke tempat tidur dulu yuuk.. Biar bentar lagi diperiks..”

Belum selesai ngomong, tiba-tiba koass ganteng itu ditarik oleh residen-residen dan dengan panik residen-residen itu berusaha ngumpetin si koass di antara koass-koass yang lain. “Adek!” desis seorang dokter residen marah sambil berusaha supaya suaranya ngga kedengeran yang lain. “(Bapak) itu dosennya..!”

*****

Stereotype bahwa dokter itu pasti pake baju putih itu ngga selalu benar. Masalahnya, umumnya pasien suka ngeri duluan kalo liat dokter pake baju putih (jadi harus pake warna apa dong?). Belum lagi kadang-kadang rumah sakit tuh suka panas karena kebanyakan pasien, jadi gw sering ngerasain bahwa jas putih itu bikin kegerahan aja. Dokter menyadari hal ini, jadi kadang-kadang mereka mencopot jas putih mereka kalo lagi tugas di rumah sakit. Meskipun kadang-kadang itu tidak bijak. Bahkan kalo nggak pake jas putih pun, gw lebih mirip model ketimbang dokter. 😛

Tentu saja orang-orang rumah sakit sadar ini, tapi siapa sih yang berani marahin dokter yang ngga mau pake jas putih? Sejauh ini gw belum pernah dengar ada orang yang berani ngomong, “Dokter, besok-besok kalo Dokter ngga pake jas lagi, Dokter ngga boleh periksa pasien di sini!” Hahaha..
Makanya orang rumah sakit suka cuek aja kalo liat dokter-dokter berkeliaran di ruang opname tanpa jas putih dan nampak seperti pengunjung biasa.

Ketika gw denger bahwa seorang bayi baru lahir hilang dari perawatannya di sebuah rumah sakit di Semarang tiga hari lalu, gw ngga kaget. Di kebanyakan rumah sakit, orang manapun bisa aja masuk ke ruang-ruang perawatan pasien, ngga jelas apakah dia dokter, apakah dia perawat, apakah dia petugas yang bagi-bagi jatah makanan, apakah dia pasien, apakah dia keluarga pasien, atau apakah dia maling.

Banyak rumah sakit ngga mewajibkan pasiennya pake seragam piyama, padahal itu tanda bahwa mereka adalah pasien yang menjadi tanggung jawab rumah sakit tersebut. Keluarga pasien tidur numpuk-numpuk di sebelah tempat tidur pasien, akibatnya satu ruangan yang seharusnya cuman merawat delapan orang malah jadi dihuni oleh 16 orang. Pengunjung pasien yang membesuk keluar-masuk kamar seenaknya, ngga peduli apakah itu jam besuk atau bukan, padahal bisa jadi itu jam pasien harus tidur siang, pasien harus dimandiin, pasien harus makan malam, dan sebagainya. Memang ada satpam sih, tapi lama-lama seolah-olah satpam itu cuman jadi figur pajangan doang.

Gw memuji kenapa perawat sering dicap galak. Memang beban tugas mereka berat banget. Merawat orang sakit aja udah cukup berat, apalagi sampai ditambah-tambah mengatur keluarga pengunjung pasien yang ngga mau tertib. Gw melihat perawat itu suka bertindak jadi agen ganda, ya perawat, ya satpam, bahkan kadang-kadang jadi tukang tagih.

Mudah-mudahan bayi yang hilang itu buru-buru ditemukan. Kesiyan orangtuanya yang udah ngebet kepingin nyusuinnya. Memang kita masih harus banyak belajar supaya bisa punya sistem yang mengatur mutu rumah sakit dengan tegas, termasuk mengatur keamanannya. Supaya kejadian bayi hilang dari ruang perawatan, tidak terjadi lagi di rumah sakit kita.

October 28, 2009

Generasi Cuek? Kita?

Filed under: Fresh from d'Oven — Vicky Laurentina @ 1:12 pm

Jika gw menulis blog ini dengan melibatkan kata “politik” pada paragraf pertamanya, dijamin jemaah blog gw langsung kabur tanpa mau repot-repot baca seluruh tulisan. Bagaimana pun juga kata itu sudah bikin banyak orang sepantaran gw alergi atau minimal gatel-gatel. Tapi gw terpaksa menulis ini coz gw cukup terusik dengan artikel jajak pendapat di Kompas, dua hari lalu, “Pemuda Indonesia, Generasi Apolitis yang Optimistis”.

Pada grafik di samping yang mendeskripsikan hasil jajak pendapat itu, dibilang bahwa yang disebut pemuda adalah orang berusia 16-30 tahun. Ini adalah area generasi ABG veteran (rata-rata masih ditanggung orang tua, masih belum tahu mau kariernya jadi apa) dan generasi X (sudah mulai berusaha cari makan sendiri biarpun masih tertatih-tatih, dan sudah bisa membayangkan kepingin bekerja seperti apa). Gw adalah generasi X, dan gw merasa jajak pendapat ini bicara tentang kaum gw, tapi sayangnya gw nggak merasa ini menggambarkan kaum gw dengan tepat.

Apa alasannya generasi pemuda Indonesia dibilang apolitis? Pasalnya dari hasil jajak pendapat ini disuratkan (bukan disiratkan lho..) bahwa, hanya sedikit responden yang bilang tertarik buat jadi anggota berbagai organisasi politik dan sosial. Sesuai yang dilansir di grafik sebelah, tidak sampai setengah responden bersedia jadi anggota organisasi kemasyarakatan, organisasi kepemudaan, dan lembaga swadaya masyarakat. Bahkan tidak sampai 20% yang sudi masuk partai politik apalagi buat jadi anggota parlemen. Selanjutnya pada tabel diungkapkan bahwa yang paling banyak diinginkan oleh pemuda adalah menjadi tajir, jauh di atas keinginan untuk “menjadi pemimpin di komunitasnya”.

Gw nggak tau metode macam apa yang dibikin dalam jajak pendapat ini, yang jelas gw nggak suka kalo dengan kedua hasil di atas maka serta-merta disimpulkan bahwa “pemuda Indonesia itu apolitis”.

Sebelum mulai bilang bahwa kita mungkin apolitis, kita patut nanya, memangnya politis itu apa sih? Apakah bersedia jadi anggota partai politik itu lantas dibilang politis? (Tentu aja, Vic, apalagi kalo tujuannya masuk partai politik itu buat ngincar gaji anggota DPR, iya kan?) Lantas, apakah kalo nggak mau jadi anggota partai politik itu berarti apolitis?

Gw sangat ragu soal itu. Menurut gw, nggak mesti jadi anggota partai politik, organisasi masyarakat, dan sejenisnya itu kalo kepingin dibilang politis. Menurut gw, kalo kita kerja di suatu kantor, lalu berani nanya ke boss kenapa gaji kita nggak naik-naik padahal kita sudah bikin perusahaan kita untung besar, itu sudah bisa disebut politis coz kita sudah berani bersikap kritis terhadap manajemen kenaikan gaji pegawai. Di lingkungan rumah, kalo kita berani bilang enggak kepada petugas kelurahan yang seenaknya mungut biaya perpanjangan KTP, itu juga udah politis coz kita nggak mau disemena-menakan sebagai warga negara yang udah bayar pajak yang mestinya dipake buat bayar pegawai negara. Dan kalo teman-teman gw udah berani bikin petisi di Facebook yang bilang bahwa konstitusi anti pornoaksi itu melecehkan banyak perempuan dan tidak menghargai keberagaman budaya di Indonesia, itu juga udah termasuk politis.

Memangnya kenapa kalo kita nggak mau jadi pemimpin di komunitas? Maksudnya, misalnya jadi ketua Karang Taruna, gitu? Gw nggak tau apakah kelompok-kelompok yang mengira dirinya “organisasi kepemudaan” itu bisa mewakili semangat muda atau enggak, atau cuman sekedar jadi perpanjangan Pak RT buat minta sumbangan pesta Agustus-an doang. Sebagai generasi muda, gw ngaku aja kalo gw maunya berada di situasi kelompok yang mau dengerin gw bicara jujur, bukan sekedar bicara “asal bapak senang”. Gw juga kepingin dengerin informasi masukan dari orang lain yang membangun, bukan sekedar yang bilang “setujuuuhh!” kayak anggota paduan suara, bukan juga kecaman yang nggak jelas bilang “kau masih ingusan, jangan sotoy, sudah nurut aja sama orang tua sini”. Dan gw yakin yang kayak gini nggak cuman gw doang, tapi juga orang-orang sepantaran gw yang lain dari generasi gw.

Memang generasi pemuda kita masa sekarang nggak bisa dibandingin sama generasi yang nelorin Sumpah Pemuda pada tepatnya 81 tahun yang lalu. Tapi nggak adil kalo generasinya Bung Karno dicitrakan sebagai generasi gigih yang membangun bangsa, sedangkan generasi kita cuman dicibir sebagai generasi yang mau ongkang-ongkang kaki dan sibuk Facebok-an doang. Situasi jaman sekarang dengan jaman dulu juga beda. Dulu kita melawan sebuah tirani bernama kolonialisme Belanda, sedangkan kita sekarang melawan kaum konservatif yang katanya mau melawan budaya korupsi tapi nggak jadi-jadi. Dulu generasi muda cuman bisa mengekspresikan paling banter dengan menulis di Koran. Sekarang? Kalo kita bisa internetan di HP, kenapa mesti susah-susah buat mengaspirasikan pikiran? Pemuda jaman dulu ya berpolitik dengan cara terbaik yang bisa mereka lakukan di masa itu, sedangkan pemuda sepantaran jaman kita ya punya cara sendiri buat berpolitik.

Selamat Sumpah Pemuda. Usia boleh nambah, tapi semangat harus tetap muda. Biar gw tanya kepada Anda semua, gimana caranya Anda supaya nggak disebut apolitis?

Older Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.