Georgetterox

November 30, 2009

Stigmata Lengket

Filed under: Fresh from d'Oven — Vicky Laurentina @ 9:16 pm

Sudah hampir tengah malam waktu itu dan gw menguap kuat-kuat di ruang unit gawat darurat yang lagi gw jagain. Sudah nggak ada lagi pasien malam itu, dan gw lagi siap-siap mau tidur ketika pasien ini dateng.

Dia pemuda tanggung, dianter kakak perempuannya dengan keluhan yang sangat tidak spesifik, “Merasa berdebar-debar.”

Mantri gw ngukur tekanan darahnya dan gagal nemu angkanya, sehingga dia buru-buru masang kabel monitor buat ngitung denyut jantungnya. Rasanya seperti mimpi buruk. Gw baru aja ketiban pasien syok kardiogenik yang denyut jantungnya lebih cepat daripada pelari marathon dikejar herder. Seumur-umur baru kali ini gw denger denyut pasien yang nadinya 300 lebih per menit.

Penyakit jantung macam apa ini? Pasien ini baru berumur 22 tahun!

Lalu kata si madam yang nganter itu, adeknya itu memang biasa ke dokter, tapi adeknya nggak pernah bilang bahwa adeknya sakit jantung. Adeknya biasa cerita bahwa katanya dia “sakit paru-paru”.

Bosen denger cerita si madam yang cuman serba “katanya” itu, gw akhirnya nanya adeknya itu ke dokter siapa, truz obatnya seperti apa. Barulah si madam bilang bahwa adeknya itu ke klinik bernama Klinik Teratai di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, dan semestinya besok pagi itu jadwal adeknya kontrol ke sana, tapi entah kenapa malam ini adeknya itu malah mengeluh berdebar-debar.

Untung pengantar kontrolnya dia bawa. Gw baca kode-kode rahasia yang ditulis kolega gw di situ, dan gw langsung sadar bahwa adeknya ini menderita HIV. Gw melihat muka si madam dan menyadari, nampaknya keluarganya ini tidak tahu apa-apa masalah per-HIV-an adeknya.
Gw minta keluarganya keluar sebentar.
Lalu diam-diam gw hampirin si pasien, pura-pura notol-notol stetoskop di dada kanannya dan bertanya dengan lembut, “Kerja di mana?”
Jawabnya, “Nggak kerja.”
Gw pindah ke dada kirinya. “Suka ngerokok?”
“Jarang.”
Gw turun ke dada bawah. “Suka nyuntik?”
“Iya.”
I got it. Langsung gw berhenti notol-notol stetoskop dan minggat.
“Dok!” serunya tiba-tiba.
Gw berbalik badan. “Ya?”
Katanya ragu-ragu, “Saya nggak pake suntik.”

Gw tersenyum datar. Berbohonglah semaumu, Nak.

Gw tau gw harus bertindak cepat, coz pasien ini bisa meninggal setiap saat dengan jantung lari-lari macam begitu. Mungkin beberapa jam lagi. Mungkin beberapa menit lagi. Dan gw satu-satunya dokter yang ada di rumah sakit itu. Ya Tuhan.

Malam itu gw telfon ke boss gw yang spesialis penyakit dalam dan melapor ada pasien HIV masuk dalam keadaan syok kardiogenik. Obat HIV nggak ada di rumah sakit kita. Lalu kata boss gw, beresin dulu itu syok kardiogeniknya, nanti urusan HIV-nya belakangan. Yang penting tuh pasien malam ini harus hidup.

Jadi gw oper telfonnya ke boss gw yang spesialis jantung. Dia merestui gw buat melakukan terapi kejut.

Si pasien pun dipasangin infus.

Berikutnya gw DC shock dia. Nadinya turun ke level 200-an.
Gw shock-in lagi. Nadinya sekarang 100-an. Oh syukurlah. Gw benci banget sama bunyi monitor itu, mengingatkan gw ke stasiun NASA yang baru diinvasi alien Mars.

Gw telfon lagi ke boss gw. “Udah nggak syok lagi, Dok. Pasiennya merasa lebih nyaman, tapi nadinya masih di atas 100.”
Boss gw bilang, “Oke, kalo belum stabil gini, masukkan ke ICU. Besok pagi saya liat.”

Gw bilang ke keluarganya, minta maaf coz adeknya harus gw tahan di ICU sampai jantungnya stabil. Setelah si keluarga ngerti, gw minta keluarganya ngurus administrasi dulu.

Setelah mereka pergi, gw bilang ke si pasiennya,”Kamu harus dirawat. Mau?”

Pasien itu nampak ragu, lalu berujar, “Dokter, saya punya HIV, tapi keluarga saya nggak tahu..”

Mantri UGD gw blingsatan lantaran berantem sama suster di ICU. Bilang ke suster ICU, jangan bilang-bilang sama keluarga pasiennya kalo pasiennya punya HIV. Suster ICU panik dan bilang nggak mau ruangannya dimasukin, alasannya pasiennya penuh. Mantri UGD marah coz tau si suster ICU cuman pura-pura kepenuhan, padahal pasiennya di sana stabil semua dan udah bisa dipindahin ke kamar biasa. Ini ada pasien yang butuh ICU, ya harus jadi prioritas tinggi.

Malam itu juga, pasien syok jantung itu masuk ICU. Gw denger di sana dia tidur dengan nyenyak.

Besoknya, dan sepanjang sisa minggu itu, perawat-perawat geger semua coz ICU dimasukin OHIDA. Termasuk boss gw ngamuk ke gw coz dia nggak sadar bahwa kode yang gw laporkan semalam adalah kode untuk penderita HIV. Menurut kemarahannya yang nggak karuan itu, orang kalo punya HIV tuh jangan dirawat di tempat kita, tapi harus langsung dirujuk ke rumah sakit pusat malam itu juga.

Gw marah sekali, coz menurut gw, malam itu pasien itu nggak boleh dilempar ke rumah sakit lain. Dia syok jantung, demi Tuhan! Jadi harus dimonitor ketat! Apa gunanya dirujuk ke tempat lain kalo di perjalanan ambulans tau-tau dia tewas gara-gara syoknya belum stabil? Kalo kita punya ICU yang bisa merawat pasien syok kardiogenik sampai stabil, kenapa harus kita tolak merawat pasien itu cuman gara-gara dia punya HIV?

Lalu gw menyadari bahwa kemarahan orang-orang itu lebih karena factor sosial: Mereka panik karena nggak siap ICU tempat kerjanya dimasukin penderita HIV.

Sudah hampir dua tahun peristiwa itu berlalu, dan gw sudah keluar dari tempat itu, tapi gw masih mengingatnya dengan jelas. Masalah besar seorang penderita HIV ternyata adalah stigma yang mengusir mereka dari kehidupan normal sebagai manusia. Pasien yang gw urus malam itu ternyata bekas pecandu narkoba, dan bisa jadi lewat situlah dia ketularan HIV. HIV itu nampaknya bikin badan dia jadi nggak beres, sehingga dia jadi lebih gampang sakit paru-paru. Makanya dia berobat ke Klinik Teratai, sebuah klinik khusus penderita HIV, supaya bisa dapet obat antiretroviral buat ngilangin HIV-nya itu. Dia sengaja nggak bilang ke keluarganya bahwa dia ngidap AIDS, mungkin coz dia takut dijauhi keluarganya.

Perjuangan untuk melepaskan stigma jelek yang nempel dengan lengket di dada penderita HIV, ternyata masih dapet tantangan dari kaum medis sendiri. Banyak dokter dan perawat yang paranoid kepada HIV, sehingga mereka bahkan tidak mau merawat penderita yang cuman butuh infus sekalipun. Padahal penderita HIV juga sama seperti pasien-pasien lain yang butuh pengobatan.

HIV hanyalah virus. Kalo kita tau cara menghindari penularannya, kita nggak akan pernah ketularan. Sekarang yang jadi problem, kalo rumah sakit aja masih pilih kasih kepada penderita HIV, lantas orang mana lagi yang bisa dipercaya buat merawat mereka?

Ditulis untuk Hari AIDS Sedunia, 1 Desember 2009.

Advertisements

Ketika Alis Tinggi Sebelah

Filed under: tips n trick — Vicky Laurentina @ 2:24 am

“Kok makannya sedikit? Lagi diet ya? Kan udah langsing?”
Pertanyaan gini yang hampir selalu bikin gw risih menjadi orang Indonesia.

Pertanyaan itu dilontarin kalo gw dateng ke pesta keluarga dan kebetulan di pesta itu disuguhi makan prasmanan. Yang nanya biasanya ibu-ibu warga senior (sebutan gw untuk emak-emak yang umurnya sudah musim menopause). Dan biasanya pemicu kenapa mereka nanya gitu, adalah karena melihat gw ngambil makanan, khususnya nasi, di mejanya itu dikit.

Gw menatap emak-emak bawel yang sok perhatian banget sama porsi nasi gw itu, dan tiba-tiba gw tersenyum melihat wajahnya. Lukisan alisnya si tante itu, nggak simetris, coz arahnya tinggi sebelah. Si tante mungkin telah berdandan di ruangan yang kurang terang, atau matanya sudah mulai nggak awas. Dan dengan mengaitkan pertanyaan si tante barusan, gw bisa ngerti kenapa gw ditanya macam begitu.

Banyak sebabnya kenapa perempuan susah dandan sendiri kalo udah tua. Alasannya gampang aja, matanya udah nggak melihat dengan baik. Kadang-kadang karena matanya memang udah tua. Tapi bisa juga karena diabetes.

Ketika seseorang mengidap diabetes yang sudah stadium menengah, bagian badan yang pertama kali diganggu adalah mata. Gula numpuk di dalam pembuluh darah dan merangsang sel-sel radang, dan sel-sel yang berlebihan itu bikin dinding pembuluh darah jadi rusak. Kalo kebetulan pembuluh darah yang rusak itu adalah pembuluh di mata, bisa ditebak ujungnya mata tidak akan bisa berfungsi dengan baik. Dan gangguan fungsi mata yang pertama dikeluhkan itu berupa mata yang bolor. Nggak bisa melihat jelas. Biarpun untuk hal-hal sepele, misalnya seperti menggaris alis.

Jadi kalo nggak mau bolor pas tua ya kudu jaga mata baik-baik, termasuk dari diabetes. Yang susah buat orang Indonesia untuk menghindari diabetes, adalah makan dalam porsi yang cukup. Sebagian besar orang makan terlalu banyak nasi, akibatnya gula yang terkandung dalam nasi pun jadi numpuk di darah.

Padahal kita tau persis, orang Indonesia belum merasa kenyang kalo belum makan nasi yang banyak. Malah ada orang yang di piringnya cuman makan kepala ayam doang, sayur lalapan, kerupuk, tapi nasinya sampai dua pincuk. Pantesan diabetes menggila.

Gw selalu bilang bahwa masalah umum pasien diabetes Indonesia bukan obat yang nggak cocok. Ternyata sebagian besar masalah berasal dari urusan budaya. Merasa harus makan nasi, dan merasa nasinya mesti porsi yang banyak.

Jadi, diabetes bisa dikurangin resikonya dengan pendekatan budaya. Misalnya mengurangi ketergantungan kepada porsi nasi. Kalo di piring udah ada mie, ya jangan ambil nasi lagi. Soalnya baik mie maupun nasi itu sama-sama gula, jadi harus pilih salah satu. Atau boleh juga makan dua-duanya bersamaan, tapi porsinya ya mesti dikit. Yang suka terjadi kalo emak-emak arisan tuh, udah nasinya dua pincuk, mienya banyak sampai menuhin piring, krupuknya kecil-kecil dan bejibun pula, plus minumnya teh manis pake gula yang buanyak..

Susah nggak orang tua ngurangin porsi nasi? Ya susah kalo nggak dibiasain semenjak muda. Makanya orang-orang yang umurnya masih ranum kayak kita ini baiknya belajar ngatur nasi dari awal. Tipsnya gini:

1. Makan hanya untuk keperluan hidup. Artinya makan cukup tiga kali sehari (pagi, siang, dan malem), dan nggak boleh cuman dua kali doang. Kalo memang mesti ngemil, pilih cemilan yang nggak ada gulanya, misalnya salad buah.

(Masalahnya adalah kalo kita males makan buah..)

2. Bukan berhenti makan sebelum kenyang. Tapi yang benar adalah berhenti makan kalo udah nggak lapar. Artinya kalo udah merasa perut terisi dengan makan nasi satu pincuk, ya jangan nambah satu pincuk lagi.

(Masalahnya adalah, kita suka nggak bisa membedakan, mana perut yang kenyang, dan mana perut yang udah nggak laper lagi.)

3. Godaan di pesta biasanya adalah kepingin makan banyak, mumpung gratis, hehehe.. Sah aja sih, tapi nggak perlu ambil nasi segentong kan? Mending ambil nasi sesendok, lalu sate penyu dua batang, ayam suwir sesendok, selada sehelai, kacang polong sesendok. Lihatlah, kita bisa menikmati banyak suguhan tanpa harus takut kelebihan porsi. Perkara habis makan nanti ternyata masih laper? Ya nanti nambah lagi dong..

(Masalahnya suka malu kalo nanti nambah lagi, takut dikira rakus. Mendingan ngambil sekali tapi langsung banyak, hehehe..)

Alangkah asyiknya kalo udah tua nanti masih bisa menggaris alis sendiri dengan simetris karena matanya tetap sehat dan bebas diabetes. Makanya, dari sekarang, makan nasinya jangan banyak-banyak dong..

November 29, 2009

Ayah Duluan, Bunda Belakangan

Filed under: features — Vicky Laurentina @ 12:22 am

Logikanya, anak kecil mestinya bisa manggil emaknya duluan ketimbang manggil bapaknya. Alasannya, emaknya yang biasa meluk dia, nggendong dia, sekalian nyusuin. Jadi anak pasti lebih dekat ke emaknya dong ketimbang ke bapaknya.

Coba Anda ingat-ingat, anak Anda manggil yang mana duluan, Mimi atau Pipi?

*Vic, nggak ada orang nyuruh anaknya manggil Mimi-Pipi. Yang kayak gitu cuman Krisdayanti dan Anang..*

Teman gw tahun lalu curhat, jadi anaknya yang baru umur setahun itu baru bisa manggil “Ayah, Ayah”, gitu. Padahal teman gw yang ngelahirinnya belum juga dipanggil anaknya. “Kok duluan manggil bapaknya sih ketimbang manggil ibunya? Kan gw yang ngelahirin..”

Lalu gw tanya, emangnya dia maunya dipanggil apa? Ibu? Mama?

Jawab teman gw itu, “Bunda..”

Gw ngakak keras. Ya iyalaah..

Sekedar info ya, anak itu belajar ngomong kata-kata itu kan juga harus ada alatnya. Misalnya, untuk ngucapin “bunda”, dibutuhkan huruf b, huruf n, dan huruf d. Bilang huruf b sih gampang, coz cuman butuh bibir doang. Tapi untuk ngucapin huruf d, kita perlu naruh ujung lidah di ujung langit-langit depan atas mulut. Anak umur setahun akan susah buat kordinasi lidah dan langit-langitnya untuk itu. Apalagi juga kalo yang diucapin itu huruf n, coz ujung lidahnya bukan diparkir di ujung langit-langit depan, tapi di langit-langit agak ke belakang sedikit. Pusing? Cobain aja sendiri, pasti susah.

Makanya lebih gampang manggil “ayah”, coz cuman butuh huruf y dan huruf h. Mau ngucapin huruf h cukup nafas via mulut. Mau ngucapin huruf y, cukup melayang-layangkan lidah dan ini gampang buat anak kecil. Itu sebabnya, biasanya anak duluan manggil ayah ketimbang bunda.

Dan, ini menjelaskan kenapa anak Indonesia jaman sekarang lebih banyak yang manggil Mama-Papa ketimbang Ayah-Bunda. Manggil Mama-Papa itu bukan karena dididik orangtuanya a la ke-Barat-Barat-an, tapi karena ngucapin huruf m dan huruf p itu cuman butuh bibir, dan bibir itulah alat pertama yang bisa dipake anak buat belajar bicara.

Jadi kapan dong anak manggil bunda-nya? Ya nanti, kalo anak sudah bisa mengkordinasi alat-alat mulutnya, markir ujung lidahnya di ujung depan langit atas.. 🙂

Sabar ya, para bunda. Yang penting sekarang, biarpun belum bisa manggil bunda, anak kalo pengen nyusu ya tetep nyariin bundanya, bukan nyariin ayahnya. Kalo anak pengen nyusu malah nyariin ayahnya, kan berabe nanti..

November 28, 2009

Advokasi untuk Sapi

Filed under: Gimme a break — Vicky Laurentina @ 5:21 am

Kepada yang terhormat Para Pengurus Sapi Kurban,

Saya menulis ini karena rasa prihatin terhadap kesejahteraan para sapi kurban yang stres akhir-akhir ini. Semalam saya baca berita bahwa seekor sapi ngamuk di Sumatera Utara waktu mau disembeleh. Saya tidak tahu kenapa sapi itu ngamuk. Apakah karena sapi itu merasa tidak dapat ruang penyembelehan kelas VIP? Atau juru sembelehnya tidak minta ijin dulu ke sapinya waktu mau nyembeleh lehernya? Atau sebenarnya sapinya nggak ngamuk, cuman kebetulan aja perangainya keras karena itu sapi Batak?

Saya juga mendapat berita semalam, bahwa di suatu tempat, sapi yang dipersembahkan seorang pejabat di sana ternyata sakit. Saya tidak tahu sakit macam apa yang diderita sapi itu. Apakah sapinya sakit pusing-pusing, atau keseleo, atau masuk angin? Kalau manusia gampang saja sakit itu, pergi saja ke Puskesmas, kan Puskesmas itu singkatan dari PUSing, KESeleo, MASuk angin? Persoalannya, Puskesmas buat sapi adanya di mana?

Yang terhormat para pengurus sapi kurban, kita tahu bahwa menyembeleh binatang adalah kewajiban umat Islam untuk dibagi-bagikan kepada orang miskin. Itu sebabnya Sodara-sodara Pengurus Sapi menjadi orang paling dicari-cari banyak orang melebihi DPO-nya Densus 88, karena kalau tidak ada Sodara-sodara, ke mana mau berkorban sapi? Tapi kita juga menuntut Sodara-sodara berperilaku profesional selaku pengurus sapi, termasuk juga profesional kepada sapi itu sendiri. Kenapa demikian, karena sapi itu kan mau disembeleh untuk orang miskin, jadi harus diberikan sapi yang terbaik. Artinya sapi yang mau dikurbankan harus sapi yang gemuk, bukan sapi yang kurang gizi. Harus sapi yang sehat seperti Mr Universe, bukan sapi yang sakit-sakitan. Harus sapi yang bahagia, bukan sapi yang stres dan tukang ngamuk.

Sodara-sodara Pengurus Sapi Kurban, kalau sampai terjadi sapi ngamuk dan lepas dari ikatan di Sumatera Utara itu, apa bukan tidak mungkin sapinya stres? Jangan-jangan dia sudah dijemur berhari-hari dan dijejalkan ke truk sempit bersama sapi-sapi lain yang tidak dia kenal. Memangnya dipikirnya siapa mereka itu, korban Nazi yang mau dijebloskan ke kamp Auschwitz? Mbok sapi itu disenang-senangkan dulu sebelum disembeleh, Sodara-sodara. Dikasih hiburan naik kendaraan yang ada AC-nya, bukan disuruh naik truk panas-panas. Dikasih tempat duduk yang enak, bukan disuruh berdiri berjejal-jejal. Dikasih makan rumput yang segar-segar, bukan dijemur di pinggir jalan di tempat yang isinya pasir melulu. Sapi juga kepingin sehat sebelum dikurbankan, karena itu sapi harus rajin dibawa ke dokter sapi. Mungkin sapinya harus periksa kolesterol, pasang IUD, atau vaksinasi anti TBC. Kalau sapi sehat badannya, tentu jiwanya juga bahagia. Bukankah dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat?

Karena itu, Sodara-sodara Pengurus Sapi Kurban, saya mohon Sodara-sodara menindak tegas kelakuan kolega-kolega Sodara-sodara itu yang masih suka menyengsarakan para sapi. Janganlah sapi itu dijejalkan semena-mena, disuruh naik-turun truk nggak jelas, dijemur lama-lama dan nggak dikasih makan enak. Kalau sapi kehujanan, ya coba diberi payung. Sapi perlu dihibur, didandanin pake asesoris warna-warni yang cantik, dan diputerin musik lagunya Maliq and d’Essentials. Kalau sudah waktunya disembeleh, ajak sapi ke tempat eksekusi dengan lembut, bukan ditarik-tarik kasar. Lalu tebas lehernya dengan secepat kilat, bukan pelan-pelan seperti Stradivari main biola lagu Silent Night. Jadi sapinya nggak perlu menderita lama-lama. Sebab cara-cara kejam itu tidak sesuai dengan asas perikeadilan dan perikesapian.

Sodara-sodara Pengurus Sapi Kurban, daging sapi ini untuk orang miskin. Jadi harus daging yang berkah. Kalau dagingnya dari binatang stres yang disembeleh dengan cara yang keji, ya itu namanya tidak berkah. Bagaimana kalau nanti di akhirat Sodara-sodara disuruh mempertanggungjawabkan perbuatan kejam Sodara-sodara kepada sapi-sapi itu? Apa Sodara-sodara mau di akhirat nanti dikejar-kejar sapi yang kepalanya menggantung-gantung karena Anda menyembeleh lehernya pelan-pelan?

Saya menulis ini bukan berarti saya membela para sapi. Sapi-sapi tidak pernah kenal saya, mereka tidak pernah nge-follow blog saya, atau nge-add saya di Facebook. Saya juga bukan aktivis klub pecinta sapi, karena saya lebih cinta Brad Pitt ketimbang sapi. Tapi saya menulis ini karena saya peduli kepada kesejahteraan para sapi, karena Tuhan menciptakan sapi untuk dimakan manusia, apalagi sapi kurban. Kalau Nabi saja lembut kepada anjing yang haram buat dimakan, kenapa kita tidak mau bersikap ramah kepada sapi yang memang disuruh buat dimakan?

Sekian surat saya, mohon maaf jika ada kata-kata saya yang tidak pantas. Semoga tidak ada lagi berita sapi yang sakit pada musim kurban tahun depan, baik sapi sakit badan maupun sekedar sapi yang sakit jiwa. Jayalah para pengurus sapi kurban, semoga Tuhan memberikan berkah karena Sodara-sodara merawat sapi dengan baik.

Tertanda,
Vicky Laurentina
Pecinta Steak Daging Sapi

November 27, 2009

Jemaah Kelas Dua

Filed under: features — Vicky Laurentina @ 1:57 am

Kata nyokap, dengerin khotbah itu kegiatan yang mulia. Makanya kalo habis ritual itu, jangan langsung copot kerudung lalu ambil sendal truz minggat.

Gw sih mufakat aja kalo dengerin khotbah itu mulia. Yang nggak mufakat itu kalo gw denger pengkhotbahnya itu berkhotbah sambil marah-marah. Entah apa yang diamuknya itu, mulai dari ngamukin orang yang nggak seagama, ngamukin orang yang nggak mau nyembeleh ayam, sampai ngamukin perempuan-perempuan yang nggak sudi dipoligami.

Tapi sudahlah, gw bukan mau ngomongin itu hari ini.

Ceritanya gw udah dateng pagi-pagi buat ritual hari ini. Udah dandan yang cantik, pake baju bersih, pake parfum kesayangan. Sampai di TKP, jemaah laki-laki dan jemaah perempuan dipisah. Jemaah laki-laki di lantai dua, sedangkan jemaah perempuan di lantai tiga dan satu. Gw pilih duduk di lantai paling bawah, biar nggak usah naik-naik.

*Dasar pemalas! Olahraga, napa?*

(Bukan gituu.. Ntar kalo naik-naik kan jadi keringetan dan bedaknya luntur. Mosok kalo ngadepin orang lain kita mau dandan secantik mungkin, tapi kalo ngadepin Tuhan nggak mau usaha cantik sih?)

Jadi gw ambil lantai pertama, barisan paling depan. Di sana cuman ada layar in focus yang nyutingin lantai dua tempatnya jemaah laki-laki. Gw lihat beberapa laki-laki disyuting di situ, ada yang pake kumis, ada yang jenggotnya kayak embek, ada yang cakep, ada yang mulutnya perot, lhoo..kok malah jadi nontonin cowok-cowok? Ke sini kan mau menghadap Tuhan? Ayo fokus, fokus!

Singkat cerita, gw kudungkan kepala gw, lalu mulai nge-silent HP. Eh, kok panas ya? Gw ngedongak, eh ternyata nggak ada kipas angin. Gw ngelirik ke pojok langit-langit. Ada sih AC, tapi pitanya diem aja lunglai nggak melambai-lambai. Haiyaah..AC-nya mati.

Gw nunggu tukang AC, tapi kok nggak dateng-dateng. Ingin rasanya gw teriak, “Hoii..yang ngumpetin remote AC, balikin dong!” (Serasa masih kuliah di gedung sekolah gw nan panas dulu di Jatinangor, hahaha..)

Dari luar terdengar sayup-sayup pidato sambutan ketua panitia hari raya. Gw sebenarnya kepingin nyimak tahun ini yang disembeleh kambingnya ada berapa ekor, sapinya berapa ekor. Tapi gw nggak bisa denger. Lha ruangan jemaah tempat gw nggak ada pengeras suaranya..

Untunglah ada tivi itu. Jadi begitu di tivi keliatan para pria berdiri sembari siap-siap ritual, maka wanita-wanita di ruangan gw pun berdiri juga. Ritual pun jalan. Ironis. Untung pintu ruangan gw dibuka, jadi suara di luar masih bisa kedengeran. Gw yang di dalam gedung harus dengerin pengeras suara dari luar supaya gw bisa ngikutin imamnya.

Dalam 10 menit ritual pun selesai. Sekarang waktunya khotbah. Gw bengong ngeliat tivi. Imamnya sih ngomong komat-kamit. Tapi suaranya nggak kedengeran, bo’..

Gw lirak-lirik jemaah wanita sekitar gw. Satu per satu ada yang melipat kerudungnya. Ada yang berusaha nenangin anaknya yang rewel minta pulang. Ada yang merogoh-rogoh tasnya ngemil permen. Ada yang ngerumpi sama tetangga sebelahnya ngajakin bisnis kerudung. Ada yang asyik main Opera Mini (ini sih gw, hehehe..)

Singkatnya, nggak ada jemaah cewek yang dengerin khotbah.

Rumah ibadah harusnya melayani semua jemaahnya, nggak cuman melayani jemaah cowok doang. Melayani itu memastikan seluruh jemaah bisa beribadah dengan nyaman. Termasuk juga memastikan bahwa AC dan pengeras suaranya nyala di tempat jemaah wanita. Coz, jemaah wanita juga sama mulianya dengan jemaah laki-laki di mata Tuhan. Jadi nggak boleh jadi jemaah yang dinomorduakan.

“Bukan gitu masalahnya, Vic. Itu yang tanggung jawab ngurusin AC dan pengeras suaranya kan laki-laki. Jadi mungkin dia nggak berani masuk ke wilayah jemaah cewek, coz mereka kan bukan muhrimnya. Kuatirnya mungkin si tukang AC dan tukang sound-system-nya ngerasa kecakepan, jadi kalo mereka mondar-mandir di situ nanti ibadahnya cewek-cewek jadi pada nggak konsen..”

Older Posts »

Blog at WordPress.com.