Georgetterox

December 30, 2009

Ditowel Hujan

Filed under: me daily — Vicky Laurentina @ 11:43 am

Apakah Anda percaya sama pawang hujan? Gw nggak. Tapi masih banyak orang, tanpa membedakan dia intelek atau enggak, dia religius atau ateis, merasa kurang sreg kalau mau bikin hajatan tanpa ngundang pawang hujan.

Seperti yang gw tulis di sini, Braga Festival digelar di Bandung selama empat hari, mulai Minggu lalu dan baru kelar sedianya tadi sore. Acara ini sebenarnya menarik sekali, siyalnya diganggu oleh hujan. Gw datang hampir setiap hari (kecuali Senin lalu), dan gw perhatiin tiap siang selalu aja hujan mengguyur sampai sore. Sungguh mengganggu, coz acaranya kan digelar outdoor. Akibatnya gw kesulitan menikmati setiap atraksi yang ada, coz tiap atraksi digelar di panggung, gw susah cari tempat strategis buat motret-motret, tapi gw malah sibuk cari tempat buat berteduh.

Panitia seolah-olah nggak belajar dari Braga Festival tahun lalu. Bukankah tahun lalu juga Braga Festival digelar pada akhir tahun? Semua orang juga tahu kalau bulan yang ada ”ber”-“ber” di belakang namanya ya pasti rawan hujan. Mbok bikin festival tuh jangan pas waktunya musim hujan dong, bikin rusak dandanan penonton aja..

Padahal gw hadir lho di hari pembukaan festival Minggu lalu. Ada pidatonya pejabat gitu deh, pakai upacara resmi segala plus pelepasan burung-burung, dan gw duduk di deretan bangku penonton tapi gw duduk paling pinggir. (Tahu kenapa gw cuman bisa duduk di pinggir? Padahal gw tadinya kepingin duduk di bangku paling depan lho sebagai penonton setia. Tapi entah kenapa gw dilarang duduk di bangku paling depan, soalnya alasannya, bangku paling depan itu buat walikota. Hah, alasan apaan tuh, jelas-jelas walikotanya lagi pidato di atas panggung, lha kalau ada kursi nganggur mosok nggak boleh gw dudukin?)

Maka jadilah gw duduk di pinggir. Nah, tahu-tahu gw lihat ada laki-laki aneh di pinggir jalan. Dia jongkok megang air mineral kemasan gelas plastik. Lalu tiba-tiba dia pecahin gelas plastiknya itu sehingga airnya muncrat ke jalan yang bersih. Gw terhenyak, lho kok air dibuang-buang sih? Setelah itu dia melakukan gerakan aneh dengan kedua lengannya yang panjang, yang mengingatkan gw pada gerakan senam Tai Chi. Lalu dia pergi. Plastik yang sudah penyok, dia buang ke pinggir trotoar.

Gw pikir tadinya dia orang gila yang buang-buang air mineral, coz jaket dan topinya rada kumal gitu. Tapi kalau dilihat dari gerak-geriknya kok nggak kayak orang skizofrenia. Maka gw terpikir, jangan-jangan itu pawang hujan?

Tapi kalau benar panitia sudah menyewa pawang hujan, kenapa selama empat hari festival ini sorenya hujan melulu? Dan kenapa hujannya selalu jatuh pada jam-jam yang sama? Apakah bayaran pawangnya kurang?

Oh ya, hujan ternyata bawa hikmah juga. Sewaktu gw ke festival pada hari terakhir tadi sore, gw cuman bentar aja di situ coz nggak betah sama hujannya. Gw pulang sama kolega gw jam 3 sore, meskipun katanya satu jam kemudian gubernur mau dateng buat menutup festival. (Maaf ya, Pak Gubernur, saya pulang duluan tanpa menunggu Bapak.) Gw pulang ke rumah, sementara kolega gw yang udah kopi darat sama gw dua hari ini, turun di stasiun kereta buat pulang ke Jogja. Ternyata pas dia mau pesen tiket, kereta yang jam 8 malem tinggal nyediain tiket berdiri. Tiket yang duduk ada di kereta yang jam 5 sore itu juga. Hwaduh, untung gw ngajak pulang lebih awal dari festival! Tuhan ada-ada aja ya kalau mau menyelamatkan manusia dari ketinggalan kereta, ck ck ck..

Oke, jadi maaf ya, nggak kayak kebiasaan gw kalau lagi jalan-jalan sambil motret-motret, kali ini gw nggak bisa nampilin banyak foto dari festival itu. Ini ada foto engkong-engkong lagi (heran, kenapa yang gw liput selama festival ini selalu engkong-engkong?) yang mengira dirinya adalah penari ular. Hujan sedang turun rintik-rintik dan gw motret ini sambil payungan, bingung kenapa ada orang senang main-main sama piton dan sanca. Badan ular itu lebih gede dari betis gw, dan moncongnya mangap lebih gede dari mulut gw. Apa orang ini nggak takut dimakan? Pasti sebelum atraksi, ular-ular ini sudah dikasih makan dulu sampai kenyang. Tapi kok ularnya masih lincah ya? Padahal gw kalau udah makan kekenyangan bawannya kepingin molor aja, nggak mau diganggu apalagi disuruh nari-nari, hihihi.. (Itulah sebabnya, Vic, dirimu nggak sama dengan ular.) Oh ya, menurut pembawa acaranya yang bicara diiringi musik kendang Sunda, engkong-engkong penari ular ini bernama Ki Kebo. (It must’ve been incomplete. His middle name must be “Dangerous”.) Bolak-balik pembawa acaranya memperingatkan kepada penonton supaya tidak meniru ini di rumah. Tapi mereka nggak ngusir anak-anak yang nonton, sungguh paradoks. Gw aduin KPI loh!

Mudah-mudahan, tahun depan ada festival lagi di Braga. Mudah-mudahan, tahun depan festivalnya lebih menarik dan promosinya lebih informative lagi. Mudah-mudahan, tahun depan festivalnya nggak ditowel hujan lagi. Dan mudah-mudahan, tahun depan gw masih punya cukup nyawa dan waktu buat dateng ke sana..

December 29, 2009

Dan Seragam Itu Berguna

Filed under: features — Vicky Laurentina @ 1:23 pm

Sewaktu kecil, gw mikir betapa membosankannya sekolah coz setiap hal yang gw lakukan harus sama seperti yang anak lain lakukan. Misalnya, anak-anak beli sepatu hitam yang ada cap sekolahnya, lalu gw sebaiknya beli (padahal modelnya juga nggak terlalu gw suka). Anak-anak lain ikut les tambahan sepulang sekolah sama wali kelas, dan gw satu-satunya yang nggak ikutan (nilai gw udah bagus-bagus, kenapa gw harus ikut pelajaran tambahan yang “mbayar”?). Lalu, setiap kali pelajaran bahasa Indonesia, tiap halaman buku tulis harus digarisin di sisi kirinya (sampai sekarang gw masih nggak ngerti gunanya garis pinggir itu).

Dari semua itu, yang paling nggak gw suka adalah seragam sekolah.

Mungkin coz dulu sinetron nggak sengetop sekarang, maka tontonan tivi sehari-hari gw adalah film-film bikinan Hollywood, dan di film-film itu gw lihat anak-anak di luar negeri tidak pakai seragam sekolah dan mereka nampak lebih “ekspresif”.

Tentu saja waktu itu gw nggak tahu bahwa tidak semua negara yang maju dalam menegakkan hak kebebasan berekspresinya juga membolehkan murid-murid SD-nya nggak pakai seragam. Gw nggak tahu bahwa anak-anak SD di Inggris dan Jerman pakai seragam. Itu salah mereka, kenapa mereka tidak mengekspor film-film serial mereka ke Indonesia.

Nah, kira-kira minggu lalu, gw lagi jalan di pusat kota, lalu gw melewati SD gw. Gw lihat di depan SD gw, lagi jajan seorang anak kecil berseragam putih merah. Gw perhatikan sekarang murid-murid di SD gw itu pakai seragam berupa rompi merah. Padahal dulu, seragam gw ya standar-standar aja: kemeja putih dan rok merah. Cuman pakai topi dan dasi kalau lagi upacara. Tahu kenapa di kelas nggak pakai dasi? Soalnya kelasnya panas. Tahu kenapa di kelas nggak pakai topi? Soalnya nggak ujan.

Sekitar minggu lalu juga, gw baca di koran, sebuah sekolah setingkat SMA gitu di Jawa Barat yang mewajibkan seragam muridnya pakai blazer. Katanya sih, supaya setelah lulus nanti, alumninya terbiasa bertampang eksekutif. Gw ketawa terbahak-bahak bacanya. Setahu gw, untuk nyuci blazer dibutuhkan lebih banyak air buat ngelarutin deterjennya. Ini akan menuntut penggunaan air ekstra, padahal kita kan mestinya hemat air. Sekolah ini nampaknya nggak ngajarin muridnya peka lingkungan.

Buat gw, pakai seragam aja udah menghalangi kebebasan ekspresif murid sekolah, apalagi ditambah-tambah rompi dan blazer segala yang nggak hemat energi.

Sampai minggu lalu, gw nonton Denias, Senandung di Atas Awan.
(Haiyah..ke mana aja aja kau, Vic? Tuh film ngetop tiga tahun yang lalu.)
*Jangan salahkan gw. Salahkan masa kuliah dan kerja yang mencuri kesempatan gw buat menikmati hidup dan memaksa gw sulit nonton film-film kelas festival.*
Film yang bagus sekali, bikinan Ari dan Nia Sihasale, tentang kisah anak bernama Denias dari suku pedalaman di Mimika, Papua yang setengah mati kepingin sekolah. Karena di desanya nggak ada sekolah sungguhan, maka dia belajar di sebuah sekolah darurat yang cuman berupa saung kecil, yang dimiliki seorang tentara yang diperankan oleh si Ale itu. (Film ini pasti kepingin ngirit sampai-sampai produsernya merangkap jadi aktor utama, hahaha..)

Lalu sampailah gw di adegan ini. Denias dikasih tahu bahwa kalau di Jawa, anak-anak pergi ke sekolah pakai seragam. Lha Denias sendiri kalau pergi ke sekolahnya Ale itu nggak pakai seragam. Suatu hari Ale minta kiriman bantuan berupa seragam sekolah buat murid-muridnya. Bantuan seragam itu akhirnya datang dianterin sebuah helikopter, dan anak-anak itu blingsatan lantaran berebutan seragam. Denias? Dia menangis terharu.

Gw tercengang bagaimana seorang anak bisa nangis cuman gara-gara bahagia dapet seragam sekolah. Padahal seragamnya ya biasa aja, cuman kemeja putih standar, celana merah, dan topi berikut desanya. Nggak ditambah-tambah rompi, apalagi blazer.

Lalu gw menyadari esensi lain dari seragam. Seragam bukan menghalangi kebebasanmu buat berekspresi. Seragam itu bikin Denias nampak seperti murid SD sungguhan. Nampak seperti murid SD di Jawa yang selama ini dikesankan lebih maju ketimbang desanya Denias di Mimika. Kau boleh berbeda lokasi, berbeda warna kulit dan model rambut, tetapi kalau kau pakai seragam itu, kau tidak ada bedanya dengan anak-anak sekolah lain yang berhak dapet pendidikan. Hakmu adalah mendapatkan ilmu. Kewajibanmu adalah datang setiap hari ke sekolah, dari Senin sampai Sabtu, pada waktu yang ditentukan, dan kerjakan tugas dari Pak dan Bu Guru.

Sekarang gw nggak empet lagi sama seragam sekolah. Gw justru bersyukur banget negara kita mewajibkan anak-anak SD-nya pakai seragam. Seragam kemeja dan celana/rok itu bikin kita semua terdidik untuk tidak merasa sombong dan menerima bahwa setiap manusia itu punya derajat yang sama. Karena, kecuali ibumu mencuci kemejamu dengan deterjen yang lebih putih atau dengan air sungai tercemar, kau tidak lebih baik atau lebih buruk dari orang lain dengan seragam itu.

December 28, 2009

Pertolongan buat Turis

Filed under: features — Vicky Laurentina @ 3:28 pm

Backpacking adalah fenomena di mana ada orang yang senang pergi ke tempat asing dan menikmati kesasar. Coz dari kesasar itulah dia menemukan pelajaran atas pengalaman baru yang nggak dia peroleh dalam kehidupan normalnya sehari-hari. Dari kegiatan backpacking ini ada jenis orang-orang yang senang membantu orang-orang yang kesasar ini. Mereka nggak kenal betul dengan para backpacker-nya, tapi mereka dengan senang hati bersedia jadi tuan rumah, nunjukin jalan, bahkan mencarikan tempat menginap yang nyaman dan terjangkau oleh kocek.

Hampir tiga tahun yang lalu, gw belajar pergi ke Jogja sendirian. Waktu itu tujuan utama gw adalah menghadiri konferensi dokter di sana, bukan buat jalan-jalan. Kebetulan, gw dapet nginep di rumah sepupu gw di Kaliurang. Ternyata, selama tiga hari gw tinggal, setiap malam sepulang dari konferensi, sepupu gw dan bininya bawa gw keliling-keliling Jogja. Mereka ngajarin gw nyusurin Malioboro, mblusuk ke tempat-tempat batik, dan melintasi kampus Universitas Gajah Mada yang teduh. Sambil nyetir, mereka cerita-cerita tentang Jogja: mana gudeg yang enak, gimana caranya dapet penjual yang murah tapi tetep tersenyum, kebiasaan studio foto orang Jogja yang pelit, sesuatu yang mungkin nggak pernah gw temukan di brosur-brosur resmi biro perjalanan. Itu yang gw sebut, wisata sungguhan.

Pada waktu konferensi, gw ketemu sesama kolega dari Bandung. Dia nginep di hotel, coz dia nggak punya sodara di Jogja. Gw ceritain bahwa semalam gw dan sepupu gw main di taman depan keraton dan berusaha jalan dengan mata tertutup tapi ujung-ujungnya kami selalu nabrak pohon. Konon di situ ada “cerita rakyat”-nya, yang bilang bahwa titik tempat kami main itu ada roh penunggu keratonnya. Kolega gw bilang dia nggak betah di Jogja dan kepingin konferensinya segera kelar. Soalnya yang dia pelesirin cuman mal di Malioboro, yang ternyata nggak beda-beda jauh dari mal-mal di Bandung. Dia pergi ke sana coz dia tahunya tentang Jogja ya cuman Malioboro, dan tempat itu yang satu-satunya dia tahu nggak akan bikin dia kesasar dari hotelnya (waktu itu di Jogja belum ada busway).

Pada hari terakhir konferensi, kolega gw dapet masalah kecil. Konferensi selesai jam lima sore, dan kereta pertama yang akan bawa ke Bandung ada jam sembilan malam. Kopernya ada di hotel, dan hotel minta check-out jam dua siang. Akibatnya kolega gw itu mesti meninggalkan konferensi lebih awal, buat check-out. Lalu dia pergi ke stasiun, duduk di lounge menunggu kereta sampai jam sembilan malam. Karena dia tidak mungkin mengikuti sisa konferensi sambil menggeret-geret koper, bahkan meskipun dia bisa aja minta tolong panitia buat jagain kopernya.

Gw dijemput sepupu gw pas konferensi betul-betul selesai, lalu dia ngajakin gw beli bakpia isi cokelat dan gudeg, dan setelah itu baru gw pulang ke rumahnya buat mandi dan makan malam, sebelum kemudian gw dianterin ke stasiun. Gw seorang peserta konferensi dan turis yang sangat puas.

Semua itu ngajarin gw betapa susahnya jadi seseorang yang pergi ke tempat asing jika kita nggak punya shelter di tempat tujuan. Shelter yang gw maksud adalah kenalan seorang penduduk lokal yang ngerti gimana bikin perjalanan kita yang singkat itu menjadi menarik. Kadang-kadang sebuah perjalanan itu berkesan bukan karena kita menginap di hotel beken atau nyatronin spot yang ada di brosur-brosur Dinas Pariwisata, tetapi nilai tambah akan diperoleh jika kita belajar tentang kehidupan penduduk setempat, dan itu hanya bisa diperoleh jika selama kunjungan itu kita di-escort oleh penduduk lokal. Itu sebabnya enak sekali kalau punya kenalan yang tinggal di tempat itu.

Semenjak itu, gw mutusin buat mendedikasikan diri gw buat dunia backpacking. Bukan berarti gw mau gandol tas punggung segede-gede gaban dan pergi keliling dunia ke tempat-tempat yang nggak jelas, tapi gw nolong orang-orang asing yang jadi turis dengan cara jadi guide bagi mereka yang mau pergi liburan ke Bandung dengan anggaran cekak. Gw nolong dengan ngasih tips gimana caranya ke Bandung, gimana caranya naik angkot sendirian di Bandung, mana hotel yang enak, dan mana spot yang kira-kira cukup menarik buat didatangin, baik buat turis yang orientasi belanja, orientasi sejarah, ataupun orientasi politik. Yang menarik, orang-orang yang gw bantuin ini, umumnya nggak pernah gw temuin sungguhan di dunia nyata alias cuman berkomunikasi via jalur kabel doang. Di sinilah pentingnya mengoptimalkan blog dan jaringan sosial, coz makin sering kita berhubungan dengan sopan dengan orang asing melalui kedua situs itu, makin besar kepercayaan yang timbul meskipun kita nggak pernah bertemu sungguhan di dunia nyata.

Jika nggak ada aral melintang, besok seorang kolega dari Jogja mau liburan di Bandung, dan gw mau nge-guide. Sudah bertahun-tahun gw dan laki-laki ini temenan di blog, dan ini akan jadi pengalaman kopi darat dan escorting yang menyenangkan. Persahabatan di dunia maya itu indah jika kepercayaan terus dipelihara, dan lebih indah lagi kalau diteruskan di dunia nyata.

December 27, 2009

Nostalgia Nanggung

Filed under: Fresh from d'Oven — Vicky Laurentina @ 4:22 pm

“Saksikan berbagai keunikan, romantika, memori, gegap-gempita musik, keindahan Seni, dan berbagai ragam pameran dan pertunjukan, serta menikmati kelezatan makanan dan segarnya minuman di Braga Festival 2009.”

Gw harus mengakui bahwa orang-orang ini pintar berkata-kata untuk bikin orang tertarik datang ke festival ini. Termasuk gw.

Jadi, gw menulis ini sambil kecapekan lantaran jalan sepanjang siang tadi di sepanjang Jalan Braga. Orang-orang panitia itu telah menutup dua pertiga ruas jalan buat diadakan festival. Braga adalah sebuah jalan paling beken di Bandung lantaran menjadi kawasan penuh nostalgia. Seperti yang digambarkan pada salah satu lukisan yang dijual di festival ini, Braga adalah sebuah jalan di mana orang-orang Belanda dulu sering mejeng buat belanja. Umumnya bangunan bekas toko peninggalan jaman Belanda masih dipertahankan sampai sekarang. Festival ini diadakan untuk mengenang Braga sebagai pusat ekonomi kelas atas jaman dulu, makanya banyak pendukung acaranya yang didaulat buat berkostum a la sinyo-nonik Belanda dan mang-mang Sunda yang ke mana-mana suka naik sepeda ontel, coz memang begitulah keadaan Jalan Braga jaman dulu.

Lumayan ada beberapa atraksi yang cukup menarik perhatian gw di festival ini, salah satunya adalah pertunjukan perkusi dari Tatalu, sebuah klub penggemar alat musik pukul dari Universitas Pasundan. Yang unik di sini, kalau biasanya kita nonton orang main musik dengan peralatan snare drum, ketipung, gong, dan semacamnya, maka kali ini alat musik yang dipukul-pukul oleh klub ini adalah barang-barang yang biasa kita temuin sehari-hari, seperti panci, mangkok, tong sampah, kaleng cat, sampai drum yang biasa dipakai buat bak mandi. Ternyata lagu yang dihasilkan oke punya lho, biarpun tentu saja nggak ada melodi do-re-mi-fa-sol-la-si-do-nya, hahaha.. Gw aja bawaannya kepingin joget-joget melulu pas nontonnya, tapi nggak bisa. Lantaran gw kan megang kamera, kalau gw joget-joget ntar motretnya jadi goyang dong..

Sudut yang juga paling banyak ditonton orang adalah engkong-engkong ini. Bayangin, dari pas gw dateng ke venue, sampai gw pulang, nih engkong masih aja tekun menyulap batang pohon jadi patung, tanpa peduli orang-orang udah rebutan motret dos-q. Gw nggak tahu persis sih berapa waktu yang engkong ini perlukan buat menyulap batangan menjadi sebuah patung, tapi bisa diperkirakan dari foto ini. Foto pertama, diambil jam 11.04, sang engkong lagi bikin tangannya. Foto kedua, diambil 39 menit kemudian, sang engkong lagi memahat mukanya. Foto ketiga, diambil hampir dua jam semenjak foto pertama, perhatikan bahwa mukanya udah berbentuk dan sang engkong sedang berusaha supaya patung itu bisa berdiri tegak.

Nanti, hasil akhirnya kira-kira jadinya kayak ini. Ciamik kan? Hihihi..

Gw harus mengakui bahwa festival ini nggak secihui yang dicitrakan di iklannya, coz festivalnya lebih didominasi bazaar makanan dan barang mode ketimbang atraksi seninya. Memang sih kuliner yang dijual nampak enak-enak, tapi yah kalau gw lihat, tempat ini lebih layak disebut pasar kaget berkelas ketimbang parade budaya. Citra Braga sebagai ikon memori Bandung jaman doeloe malah tidak terlalu menonjol, kecuali kalau mendongak ke atas tenda-tenda bazaar dan menyadari bahwa bangunan di kiri-kanan jalan rata-rata udah berusia tua sekali. Nama Braga cuman diusung sebagai lokasi festival, tetapi makna nostalgianya nggak terlalu dioptimalkan. Pindahkan festival ini ke Jalan Cihampelas, maka nama festival ini akan berubah jadi Cihampelas Festival, tetapi hasilnya juga akan sama-sama aja: bazaar lagi, bazaar lagi.

Pameran seni yang dijanjikan ternyata nggak begitu eksis, coz sampai gw tersesat di festival itu, gw nggak melihat ada tanda-tanda ekshibisi barang-barang seni dalam jumlah banyak. Selain itu, biarpun di iklan sudah dijanjikan akan ada beberapa seniman beken yang mau tampil, tidak ada informasi tentang run down acara, tentang siapa yang mau tampil pada jam berapa, atau lebih spesifik lagi, pada hari apa. Padahal, gw kepingin nonton Saratus Persen, Musik Genteng Jatiwangi, dan Panas Dalam.

Akan lebih baik kalau panitia bisa menyediakan guideline buat pengunjung, minimal kasih jadwal acara. Kalaupun nggak sempat nyetak brosur, minimal kan bisa nampilin jadwalnya di website. Ngomong-ngomong, wahai panitia, website resminya Braga Festival ada di mana sih? Saban gw googling tentang keyword ini, kok gw nemunya halaman-halaman dari situs-situs berita melulu deh.

Masih terlalu dini buat menilai apakah festival ini bisa menaikkan pamor industri budaya kreatif di Bandung atau tidak, seperti yang direncanakan oleh panitia sebagai tujuan awal festival ini. Festival ini masih berlangsung sampai Rabu nanti, dan gw berencana ke sini lagi besok buat hang out. Pada akhirnya, meskipun nggak terlalu puas, gw tetap pulang dari festival dengan sumringah karena sudah melihat banyak pemandangan bagus. Biarpun kuping gw jadi agak pekak dikit, soalnya tadi gw berdiri terlalu dekat sama anak-anak pemukul tong sampah itu, hahaha..

December 26, 2009

Setan Suster Lagi

Filed under: Fresh from d'Oven — Vicky Laurentina @ 4:58 pm

Setan + sintal + suster = film horror laris. Siapa sih yang nyiptain rumus ini sampai jadi pedoman suksesnya film horor di Indonesia? Coba Anda ingat-ingat, seberapa banyak film horor yang mengusung setan sebagai tokoh utamanya? Hampir semua. Lalu dari setan-setan itu, berapa persen yang setannya berjenis kelamin cewek? Buanyak. Selanjutnya, dari setan-setan cewek itu, berapa persen yang tampangnya cantik-cantik dan bodinya sintal? Hampir 100%. Sekarang, profesi apa yang paling sering dipakai buat jadi latarnya setan cewek cantik itu? Jawabannya: suster.

Berbahagialah, para penggemar film horor Indonesia. Nanti tanggal 31 Desember, bakalan premiere film horror bikinan negeri sendiri di bioskop-bioskop, judulnya Suster Keramas. Entah apa yang bikin produser filmnya sampai mengusung profesi suster yang lagi cuci rambut sebagai tajuknya. Yang lebih mengagetkan lagi, bintang utama yang memerankan suster keramas ini nanti bernama Rin Sakuragi, bintang film saru (yang lain lagi) dari Jepang.

Kenapa buat bikin film horor yang mengusung cewek bahenol aja, Indonesia mesti mengimpor bintang film saru dari luar negeri? Apakah bintang-bintang film Indonesia sedikit yang pantes buat di-casting untuk itu? Ke mana itu Julia Perez, Rahma Azhari, Sally Marcellina? *referensi jadul*

Kenapa Indonesia begitu ribut waktu dulu Miyabi mau dateng sampai orang-orang berisik itu mengancam mau menutup bandara Cengkareng segala, sementara Rin Sakuragi dateng syuting ke Indonesia malah pemberitaannya adem-ayem sama sekali? Padahal, disinyalir bahwa di Jepang, untuk urusan film saru-saruan, Miyabi masih kalah ngetop ketimbang Rin Sakuragi. Sementara itu, dulu penulis skenario Menculik Miyabi sudah janji bahwa tidak akan ada adegan jorok sama sekali di film yang sedianya akan melibatkan Miyabi itu, tetapi orang-orang berisik tetap aja melarang Miyabi datang. Herannya, di internet sudah banyak beredar trailer film Suster Keramas yang menggambarkan Rin Sakuragi mencopot bajunya waktu keramas (tentu saja disyuting dari belakang, tapi apa bedanya sih?), dan sejauh ini belum ada pemberitaan tentang pemboikotan Rin Sakuragi.

Titik yang menjadi perhatian gw adalah profesi suster alias perawat yang diusung oleh film ini. Gw risih mendengar suster dijadiin obyek film horror. Mulai dari jamannya tokoh Suster Ngesot, sampai Suster Keramas yang ini. Kenapa sih setannya mesti suster? Suster itu perawat, kerjaannya merawat orang sakit. Gw yang dokter aja kalang kabut kalau mau periksa pasien tapi nggak ada perawatnya. Mbok ya profesi perawat itu dijunjung mulia, jangan dijadiin setan.

*Kalau sampai ada orang berani bikin film tentang dokter ngesot atau dokter keramas, awas ya..!*

Coba sekali-sekali pakai profesi lain buat dijadiin setan yang keramas. Apa gitu kek, pengacara keramas, tentara keramas, insinyur keramas, dosen keramas, astronot keramas.. Memangnya filmnya nggak bakalan laku ya kalau yang jadi setannya profesi-profesi itu?

Dan satu lagi: gw bosen lihat trailer film horor Indonesia yang setannya cewek cantik melulu. Mbok sekali-sekali bikin film horror yang setannya berupa cowok yang ganteng, badannya berotot atletis kayak Mr Universe. Pasti laku! 😛

Eh, kalau ada bintang film pria Indonesia buat dijadiin setan film horror, enaknya siapa ya? Ari Wibowo? Tora Sudiro? Nicholas Saputra? Duh, duh, rasanya kok nggak ada yang cocok..

P.S Untuk memeriahkan blog ini, gw nyari gambarnya film Suster Keramas di Google kemaren. Alamak, ternyata hasilnya gw dapet gambar-gambar yang layak disensor semua. Masalahnya blog gw nggak sudi masang gambar-gambar yang kontra edukatif, jadilah gw terpaksa nggak bisa masang gambar suster yang lagi keramas. Gw sendiri nggak mau nonton filmnya minggu depan nanti, Anda mau?

Older Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.