Georgetterox

January 30, 2010

Jual Diri

Filed under: Fresh from d'Oven — Vicky Laurentina @ 10:44 am

Ketika John Fitzgerald Kennedy mau ngapel ke rumah Jacqueline Lee Bouvier, dia mendapat kesulitan klasik yang dialami oleh setiap laki-laki yang mau melamar pacarnya: tidak disukai oleh calon mertua. Soalnya, JFK itu senator dari Partai Demokrat, sedangkan bokapnya Jackie penggemar Republikan tulen. Tukas Mr Bouvier waktu itu, “Ketimbang gw beramah tamah sama Yankee Demokrat itu, mendingan gw nontonin tinju di tipi!” Jackie kecil hati karena merasa hubungannya dengan JFK tidak akan direstui.

Malam itu, JFK datang sungguhan ke rumah Jackie dengan baju rapi. Bisa ditebak, Mr Bouvier cuek bebek. Apa yang dilakukan JFK? Dia bergabung ke ruang tengah, lalu melonggarkan dasi, dan minta ijin, “Boleh nggak saya numpang nonton tinju?”

Kita tahu bahwa JFK akhirnya menikahi Jackie, dan beberapa tahun kemudian JFK menjadi presiden Amrik.

Cerita itu cuman dramatisir dari sebuah film lama yang pernah gw tonton sekitar 15 tahun yang lalu, judulnya lupa, tapi ceritanya tentang biografi Jackie Kennedy, dan Jackie-nya sendiri dimainin oleh Jaclyn Smith. Tapi gw menarik pelajaran dari sana tentang sebuah konsep bernama jual diri.

JFK tahu diri, dia tidak memenuhi kriteria yang diharapkan oleh Mr Bouvier untuk menjadi menantunya, tapi dia tetap bersikukuh memberikan alternatif kriteria yang bisa memuaskan bokap pacarnya itu. Misalnya Mr Bouvier memberlakukan syarat bahwa untuk menjadi suaminya Jackie, orang itu harus pendukung Republik, yang mungkin tidak bisa dipenuhi JFK. Maka JFK men-“jual” dirinya sendiri dengan nyodorin kriteria lain yang kira-kira disenangi Mr Bouvier, yaitu dirinya adalah penyuka pertandingan tinju. Cara ini ternyata berhasil, sehingga proposalnya untuk menikahi Jackie pun gol.

Gw menulis ini setelah semalam gw nonton siaran tivi tentang Ayu Azhari yang mencalonkan diri jadi wakil bupati Sukabumi. Kita semua tahu bahwa Ayu beken lantaran dia sendiri seorang bintang film dan sinetron, jadi tahu apa sih dia tentang mengatur kabupaten? Tapi Ayu bilang di siaran itu bahwa meskipun dirinya nggak pernah terjun di kehidupan politik, tetapi dia punya kemampuan untuk mengajak rakyat Sukabumi menjadi mandiri. Buktinya, meskipun sudah berulang kali ganti suami, tapi dia nggak pernah sampai kepayahan menjadi single parent buat membesarkan anak-anaknya yang jumlahnya balapan sama anaknya Titi DJ itu. Katanya, kalau dia bisa membesarkan semua anaknya sendirian, kenapa dia harus diragukan untuk mengawal rakyat Sukabumi untuk membangun wilayah itu secara mandiri. Dan perkara reputasi keluarga Azhari yang doyan terseret skandal, Ayu menepis dengan mengajak kru tivi buat nyiarin dirinya dari pesantren miliknya yang terpencil di Sukabumi dan merawat sekitar 16.000 anak.

Agak sulit buat gw untuk yakin bahwa Ayu Azhari bisa menang menjadi wakil bupati Sukabumi. Tapi gw harus mengapresiasi upaya Ayu untuk menjual dirinya menjadi calon pejabat. Rakyat awam mungkin menginginkan seorang bupati atau wakil bupati itu lazimnya mulai dari tingkat bawah dulu, misalnya menjadi sekretaris daerah atau jadi pentolan pengurus partai politik cabang daerah, bukan yang berangkat dari karier sebagai bintang film. Tetapi Ayu berusaha menyodorkan alternatif-alternatif lain yang bisa dijual dari dirinya, kualitas yang mungkin layak diharapkan untuk menjadi seorang pemimpin daerah: sifat mandiri dan tidak tergantung kepada kucuran anggaran dari pemerintah, hati yang agamis, dan komitmen untuk membangun Sukabumi dengan sungguh-sungguh (dia sudah berencana vakum syuting film kalau sampai sungguhan jadi wakil bupati).

Kita semua, mungkin pernah berada dalam situasi di mana kita harus jual diri kepada calon pembeli. Misalnya melamar jadi suami, atau mengajukan diri jadi wakil bupati, atau melamar kerja, atau mungkin menawarkan sewa kamar di sebuah hotel. Siyalnya, kadang-kadang calon pembeli itu sudah punya standar sendiri tentang apa yang mau dia beli, dan dia tidak menemukan standar yang dia cari itu dalam diri kita. Misalnya, calon mertuanya kepingin calon mantunya bisa macul sumur. Wakil bupatinya harus dari kalangan pegawai negeri sipil. Pelamar kerja harus bisa bahasa Mandarin. Dan calon tamu hotel minta kamarnya menghadap air terjun. Kita sebagai penyedia tawaran nggak bisa mengakomodasi semua keinginan itu.

Tapi tentu saja kita bisa nawarin alternatif lain. Misalnya:

“Saya mungkin nggak bisa macul sumur, Om. Tapi saya tahu ke mana manggil tukang gali sumur yang kerjanya langsung sehari dan bayarnya murah.”

“Saya belum pernah jadi PNS. Tapi kalau kita mau membangun suatu daerah, saya tahu caranya meningkatkan potensi diri sendiri tanpa menunggu investor.”

“Saya tidak bisa bahasa Mandarin. Tapi saya bisa bahasa Jepang, Korea, dan saya pernah kerja magang di Vietnam selama dua tahun.”

“Di sini hotelnya tidak menghadap air terjun, Bu. Tapi semua kamar kami menghadap kolam renang yang letaknya di sebelah kolam lotus raksasa.”

Jadi, daripada orang melihat sisi negatif diri kita karena nggak nemu apa yang dia cari, lebih baik membantu dia melihat sisi positif diri kita yang bermanfaat baginya.

Bagaimana, Sodara-sodara?

Advertisements

January 28, 2010

Kuantar ke Penghulu, Tapi Kembalilah

Filed under: features — Vicky Laurentina @ 12:17 pm

Kata orang, banyak anak itu banyak rejeki. Tapi gw nggak pernah percaya pepatah itu di rumah gw cuman ada dua anak, tapi adek ngabisin stick roll lebih banyak ketimbang gw sampai-sampai gw hampir nggak kebagian.

Mungkin lebih tepatnya, banyak anak berarti akan banyak cara untuk selamat. Di ajaran agama gw, kesempatan seorang manusia untuk dapet pahala akan putus begitu dia meninggal, sehingga tinggal timbangan antara amal baik dan amal jeleknya aja yng akan mutusin apakah dia akan menghabiskan masa akhiratnya di surga atau malah nyungsep di neraka. Kesempatan untuk menghapuskan dosanya, sesudah dirinya meninggal, hanya bisa difasilitasi oleh anak-anaknya yang masih hidup dan mendoakan sang orang tua supaya dosa-dosa sang orang tua diampunin. Itulah sebabnya makin banyak anak, berarti makin banyak kesempatan suara dari anak yang memohon supaya orangtuanya selamat di dunia akhirat. Ini seperti menyelamatkan kontestan favorit dari Zona Tidak Aman di Indonesia Idol.

Seharusnya begitu kan? Kalau bukan begitu, apa manfaatnya punya anak banyak? Jangan bilang karena orang kepingin rumahnya rame macam Dufan setiap hari.

***

Grandma gw berumur 85 tahun, dan masih punya sembilan orang anak yang semuanya udah menikah. Cucu-cucunya sekarang ada 29 orang, dan gw yang nomer 16. Seharusnya hidupnya meriah.

Semenjak Grandpa gw meninggal tujuh tahun yang lalu, Grandma gw kesepian. Sehari-hari hidupnya cuman ditemenin asisten pribadi. Gw sangat menyesal Grandma gw nggak punya hobi yang cukup membuatnya sibuk untuk mengalihkan kesepiannya. Kesembilan anaknya sering datang ngunjungin, tapi Grandma gw cuman kepingin paman-paman dan tante-tante gw tinggal di situ. Jelas nggak bisalah. Anak-anak udah punya keluarga sendiri.

Kadang-kadang gw melihat rasa bersalah di mata anak-anak Grandma gw coz mereka lebih memilih ngurusin keluarga mereka ketimbang tinggal bareng Grandma. Tapi bukankah udah firman Tuhan begitu? Dia berfirman kepada Adam dan Hawa supaya turun dari surga ke dunia dan beranak-pinak. Artinya manusia memang harus punya keturunan. Jadi sah dong kalau mereka lebih mengutamakan anak ketimbang orang tua?

Tentu saja kita semua tahu jalan tengahnya. Jika kau udah punya anak, nggak berarti kau boleh melupakan orangtuamu. Kalau perlu, jika kau udah dewasa, milikilah rumahmu sendiri untuk istri/suami dan anak-anakmu, dan bawa orangtuamu untuk tinggal di rumahmu juga. Gw sendiri ngidam, kalau gw udah punya suami nanti, gw kepingin sekali punya rumah dengan dua pavilyun. Satu pavilyun buat bonyok gw, satu pavilyun lagi buat mertua gw.

Di dunia nyata, itu tidak gampang. Salah satu pakde gw punya rumah yang letaknya persis di sebelah rumah gw, tapi ternyata itu tidak membunuh kesepian Grandma gw. Soalnya, pakde gw dan istrinya kerja dari pagi sampai malam, jadi hampir nggak pernah di rumah. Sepupu-sepupu gw udah pada sekolah dan sibuk dengan dunia remajanya sendiri. Siapa mau nemenin Grandma gw?

Kenapa orang tua mengeluh kesepian ketika ditinggal anak-anaknya yang berkeluarga sendiri? Apakah dia lupa, bahwa dia sendiri yang dulu semangat menyuruh anaknya menikah? Memangnya siapa sih orang di sekitar kita yang paling sering nyap nyap nyuruh-nyuruh kawin? Orang tua, kan? Jadi ketika anaknya itu sudah punya keluarga sendiri, kenapa dirinya harus merasa kesepian?

Orang tua selalu bilang, “Menikahlah. Jangan pikirkan Mami/Papi. Mami/Papi bisa jaga diri sendiri.”
Tapi ketika orang tua sudah renta, mereka akan bilang, “Anak-anakku sudah minggat semua dan mereka nggak butuh aku lagi.”

Lalu orang tua yang kesepian akan menghabiskan hari-hari tuanya dengan mengamuki anak-anaknya yang selalu bekerja hingga nggak pernah ada di rumah. Mereka menjadi pribadi yang mudah tersinggung, nangisan, dan pemarah. Dan para anak, akhirnya akan menyesal karena pernah meninggalkan rumah demi menuruti fitrah manusia untuk menikah dan membentuk keluarga.

Orang-orang warga senior itu (sebutan gw buat lansia), kalau ngamuk bisa sampai nggak karu-karuan. Kolega gw, bulan lalu, ditinggal mati neneknya, lantaran aspirasi makanan. Wanita malang itu sedang makan, sambil marah-marah, lalu keselek. Demi menolong, rumah sakit terpaksa masukin slang via hidung si nenek supaya nenek itu tetap bisa makan dan makanan pun dimasukin lewat slang itu.

Gw menulis ini, coz kemaren gw baru aja dapat ide bahwa mungkin aja gw harus ninggalin orang tua gw sendiri suatu saat nanti, untuk berbakti kepada suami gw. Semoga mereka cukup pengertian nanti, bahwa apa yang gw lakukan ujung-ujungnya hanya karena gw mau mereka bahagia. Gw menikah karena Tuhan menyuruh begitu, karena bonyok gw mau begitu, dan supaya anak gw sah di mata hukum. Jika gw nggak punya norma agama, hidup selibat bukanlah ide buruk buat gw.

Yang di atas itu Emily Grillot, tinggal di Ohio, tersenyum lebar di depan foto-foto anak-cucunya kepada kamera Jodi Cobb, untuk National Geographic. Orang itu, makin tua seharusnya makin bahagia, bukan jadi depresi.

January 26, 2010

Nak, Jangan Lihat Burung Papa

Filed under: features — Vicky Laurentina @ 11:36 pm

Bagaimana caranya mencegah anak-anak dari pelecehan seksual seperti yang dilakukan Babeh yang akhir-akhir ini beritanya wara-wiri di media? Kita nggak bisa bilang itu semata-mata karena nasib buruk, tapi orang tua dari masing-masing korban layak ditanyai kenapa anak-anak mereka bisa berakhir seperti itu. Kalau dipikir-pikir, anak-anak yang menjadi korban Babeh tidak kenal pria itu begitu saja, kan? Tapi ada tahap-tahap tertentu di mana mereka dimanipulasi sedemikian rupa sampai mereka sulit membedakan kapan hubungan mereka dengan Babeh adalah semata-mata hanya sebagai “paman dan keponakan” dan kapan hubungan nista itu sudah berkembang menjadi “sepasang pacar”.

* * *

Beberapa bulan yang lalu, gw sempat nginap selama beberapa hari di rumah seorang sepupu. Sepupu gw adalah seorang nyokap dari tiga orang anak perempuan yang usianya merentang antara sembilan bulan sampai lima tahun. Suaminya sibuk kerja, pergi pagi pulang sore.

Suatu pagi gw melihat Dinara (bukan nama sungguhan lho!), ponakan gw yang umurnya lima tahun itu masuk kamar mandi. Gelagatnya kayaknya mau mandi, mengingat dia masuk kamar mandi sambil telanjang. Nah, beberapa saat kemudian, suami sepupu gw masuk juga ke kamar mandi itu, terus nutup pintu. Lalu gw dengar suara jebyar-jebyur disertai suara berisik Dinara yang seneng main air.

Agak lama Dinara di dalam sana bareng bokapnya. Batin gw, “Halah, mandiin anak sak precil aja kok lambreta bambang seh?”

Lalu gw dengar suara jebyar-jebyur lagi. Dan terakhir itu gw dengar suara kakak ipar gw itu nyanyi-nyanyi sumbang. Lagunya, “Are you lonesome tonight? Do you miss me tonight?” (Oke, yang ini gw karang-karang sendiri.. *siap-siap dipentung kakak ipar*)

Tapi ada sesuatu yang menghenyakkan gw. Lalu gw nanya ke sepupu gw, “Si Mas lagi mandi?”

Jawab sepupu gw, “Yeah.”

Gw tertegun. “Mandi bareng Dinara?”

Sepupu gw ketawa. “Iya.” Dikiranya itu lucu.

* * *

Banyak orang sulit membayangkan seperti apa memberikan pendidikan seks pada anak-anak usia kecil seperti Dinara dan adek-adeknya, padahal sebenarnya gampang. Ketika anak mencapai usia 4-5 tahun, dia mulai belajar membedakan apakah dirinya laki-laki atau perempuan. Ini saat yang tepat buat ngajarin tentang alat kelamin, dan juga ngajarin anak bahwa sebaiknya dia nggak boleh nunjukin alat kelaminnya kepada orang lain.

Termasuk ngasih tahu anak perempuan bahwa sebaiknya bokapnya juga jangan lihat, coz bokapnya kan cowok. Kecuali kalau anak itu lagi sakit ya.

Namun kan susah, soalnya kadang-kadang anak-anak umur balita begitu belum bisa mandi sendiri, jadi mesti dimandiin orangtuanya, termasuk juga dimandiin bokapnya. Oke, namanya juga masih belajar, nggak pa-pa sih. Kalau begitu bokapnya jangan ikutan mandi juga, coz pada saat mandi bareng itu, anak perempuan akan lihat bahwa bokapnya punya penis dan dia akan merasa bahwa melihat penis laki-laki itu “halal”.

Anak-anak yang diperkosa oleh Babeh, rata-rata berumur 10-12 tahun (meskipun ada juga yang baru berumur tujuh tahun), usia yang sebenarnya sudah semestinya ngerti bahwa alat kelamin milik pribadi nggak boleh dibagi-bagi ke orang lain. Dalam usia gini mereka mestinya sudah diajari waspada tentang sentuhan-sentuhan seksual, dan sebaiknya mereka juga sudah bisa membedakan, mana sentuhan kebapakan dari bokapnya sendiri, dengan dan mana sentuhan erotis dari “orang yang dianggapnya sebagai ayah”.

Modus pelecehan yang dilakukan Babeh sebenarnya bisa diraba-raba. Pertama-tama Babeh memanjakan anak-anak dengan makanan, uang, hiburan, dan sebagainya. Berikutnya Babeh akan memacarin anak-anak itu, dan anak-anak itu nggak sadar bahwa mereka sedang dipacarin coz buat mereka perlakuan Babeh sehari-hari itu sudah biasa. Kalau sudah begini, tinggal selangkah aja buat Babeh untuk melakukan aksi pelecehan seksualnya.

Tulisan ini nggak pas buat mengatakan bahwa anak-anak korban Babeh mungkin anak-anak yang nggak dapet kasih sayang cukup dari orang tua kandung mereka. Tetapi bermaksud menginformasikan tentang contoh kecil dari pendidikan seks kepada anak-anak usia dini, dan ini bisa dilakukan oleh orang tua dari strata pendidikan dan kondisi ekonomis manapun.

Sebaik-baiknya pendidikan seks adalah berpulang kepada ajaran agama masing-masing.

Foto di atas jepretan Jonas Bendiksen, National Geographic Indonesia, Mei ’07. Lokasi di Dharavi, Bombay, India.

Garuda 29 Dolar

Filed under: Fresh from d'Oven — Vicky Laurentina @ 7:57 am

Jelas ini bukan iklan tiket pesawat. Rute Jakarta-Bandung aja nggak bakalan semurah itu.

Gw curiga Giorgio Armani baru nonton film Garuda di Dadaku. Kalau tidak, gimana caranya dos-q bisa bikin kaos yang gambarnya burung Garuda?

Eh, sebentar, dia bilang ini bukan gambar garuda. Katanya ini gambar elang militer. Ya elah, garuda kan elang juga. Iya nggak, seh? Haloo..teman-teman pakar burung, bantuin gw dong.

Jadi, spesifikasinya, burung di kaos ini nggak beda-beda jauh dari lambang negara kita. Cuman diubah dikitlah. Gambar yang mestinya banteng diganti jadi huruf A. Gambar beringin diganti huruf X. Ini karena nurutin inisial Armani Exchange, merknya si perancang itu.

Lalu, garuda kan biasanya mencengkeram pita bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika. Kalau burungnya Armani ini, malah megang pita Armani Exchange.

Bahannya 100 persen katun, model pas badan. Gambar burungnya dibikin dengan sablon timbul.

Kaos ini dijual di website-nya Armani Exchange, dibanderol dengan harga USD 29. Masih diskon lho, coz harganya USD 42. Ada ukuran XS sampai XXL. Tapi beberapa situs yang gw baca masih simpang siur nyebutin warna yang tersedia. Yang bisa dipastiin adalah warna putih dan item. Katanya ada juga sih yang warna ungu, tapi ada yang nyebutin itu warna biru tua.

Gw nggak ngerti bahwa dari sekian banyak burung di dunia ini, kenapa Armani mesti niru burung garuda sih? Kan masih ada burung-burung lain buat dijiplak, misalnya burung kasuari, burung parkit, burung beo, burung pipit? Kayaknya hil yang mustahal deh kalau gambar burung ini karang-karangan Armani sendiri, coz bentuknya sama persis dengan garuda. Dan harap diingat bahwa di dunia nyata nggak ada itu burung garuda sungguhan, itu simbol rekaan pahlawan-pahlawannya Indonesia jaman dulu. Jadi bingung nih, gimana sebaiknya reaksi kita sebagai warga Indonesia? Tersanjung, atau tersandung?

Coz, kalau kita mau misuh-misuh, buktinya mungkin juga kurang kuat. Kalau lambang negara dijiplak mentah-mentah oleh pihak asing buat jadi produk komersial, maka sah aja kalau kita menuntut. Tapi burung kaos ini kan cuman dijiplak sebagian? (atau 90 persennya jiplakan?)

Nah, menurut Anda gimana? Sebagai orang Indonesia, Anda mau tersinggung, atau mau tersungging?

Foto diambil dari sini dan sini

January 25, 2010

Syiar Pasangan Anyar

Filed under: Gimme a break — Vicky Laurentina @ 5:55 am

“Nikah kok nggak bilang-bilang?”

SMS itu jatuh ke inbox gw minggu lalu, dari seorang kolega di Jakarta. Bikin gw terpingkal-pingkal sampai sakit perut.

Jadi, pangkal permasalahannya gini. (ceilee..serasa ngurus sengketa tanah)
Isi SMS itu resminya berbunyi gini, “Vic, td wkt gw lg nunggu giliran periksa d SpOG, gw ngeliat ibu hamil mukanya mirip lo. Sumpah mirip bgt, smpe gw brkta dlm ht, ‘vicky nkh ga ngasihtau..'”

Sebenarnya batin gw rada tersinggung, soalnya kok bisa-bisanya ada orang yang nyama-nyamain muka sama gw sih. Memangnya beli muka di mana sih, kok bisa sama? Heyy..muka gw ini cuman satu-satunya, nggak ada lho Tuhan nyiptain muka orang lain sama persis dengan muka gw..
*mengerutkan kening, berpikir jangan-jangan pada siang bolong di Pulang Pisau itu nyokap gw memang bukan melahirkan satu anak, tapi dua*

Oke, kenapa gw terpingkal-pingkal? Yah, kolega gw itu cukup kenal gw dengan baik, dia tahu kelakuan gw yang memang selalu bikin kejutan. Termasuk ide nikah nggak bilang-bilang itu mungkin saja jadi ide gw, jadi wajar aja kolega gw langsung mencurigai gw, hahaha.

Setiap anak gadis pasti pernah mengimpikan pernikahan, dan gw juga pernah dong. Cuman, ide khayal gw itu nggak pernah melibatkan “resepsi yang ngundang sampai 2000 undangan”. Busso..bejibun amat seh, mosok gw mesti berdiri nyalamin tamu sebanyak itu, bisa pegel punggung gw nanti.
(Tapi mungkin begitu konsekuensinya kalau gw bersedia jadi menantunya presiden, jadi gw harus siap-siap)
*dipelototin my hunk*

Itu masalah teknis. Di lain pihak, sebagai perempuan generasi X yang dibesarkan dengan tontonan film Hollywood, gw pernah terkesan sekali sama beberapa film di mana tokohnya nikah nggak pakai pesta-pestaan.
Di Lois and Clark-nya Teri Hatcher, Lois Lane dan Clark Kent nikah cuman dihadirin bonyok dan adeknya Lois, sementara pendetanya adalah Perry sendiri. (Tahu Perry, kan? Iya, boss-nya Daily Planet itu ternyata pernah ditahbiskan jadi pendeta.)
Di Sex and the City, Carrie Bradshaw akhirnya nikah berdua aja sama Big di Balai Kota New York. Nggak pakai resepsi, tapi mereka traktir-traktir Charlotte dan keluarganya, Miranda dan keluarganya, Samantha, dan Stanford bareng pacar gay-nya, di kedai kopi tempat mereka biasa sarapan.
Ide lebih asyik lagi di film What A Girl Wants. Perdana menteri Inggris-nya yang diperanin oleh Colin Firth akhirnya kawin sama mantan pacarnya secara diam-diam di Maroko, dan mereka naik onta yang buntutnya dipasangin panel bertuliskan “Just Married”.

Sebenarnya di dunia nyata kita juga lihat beberapa orang yang kita kenal menikah diam-diam. Cindy Fatika terpaksa nggak bilang-bilang kalau dia sudah menikahi Tengku Firmansyah, coz takut dipecat dari Mustika Ratu yang mengontrak dia sebagai model iklan kosmetik remaja. Pernikahan Armand Maulana dan Dewi Gita baru ketahuan bertahun-tahun kemudian, entah kenapa. Anda pasti bisa nyebutin contoh-contoh lainnya.

Di agama gw, nikah itu yang penting sah kalau ada penghulu, ada saksi minimal dua orang, ada persetujuan dari bokapnya penganten perempuan. Juga ada kepercayaan di suku gw bahwa anak perempuan harus minta restu dulu dari nyokapnya kalau menikah. Lain-lainnya, nggak wajib.

Paling-paling yang ngambek adalah temen-temennya bonyoknya penganten yang merasa nggak diundang. Soalnya merasa nggak diajakin makan-makan, hahaha..

Dewasa ini, kebiasaan ngundang-ngundang pas hajatan nikah itu meluas ke “tahap-tahap lain”. Jangankan orang yang nikah, baru tunangan aja udah bikin hajatan meriah. Di kalangan kelas ingusan, anak a-be-geh yang baru “jadian” aja ditodong teman sesekolahannya buat ditraktir makan bakso.

Intinya sama aja, kita menikah, atau tunangan, atau baru pacaran, nampaknya “dituntut” kudu bilang-bilang. Gw pikir, haruskah?

Mungkin ada benarnya. Ada semacam konsensus nggak tertulis di kalangan pemuka agama gw, bahwa nikah itu sebaiknya diumumin ke orang banyak. Alasannya, biar nggak jadi fitnah. Misalnya, laki-laki dan perempuan digosipin kumpul kebo coz mendadak mereka tinggal serumah, padahal mereka memang udah legal sebagai suami-istri.

Termasuk berdiri berjam-jam nyalamin 2000 tamu undangan?

Salaman = ucapan selamat. Dalam ucapan selamat berarti ada doa. Ada restu. Artinya ada semacam pengakuan kedaulatan dari orang lain atas hubungan baru mereka sebagai suami-istri.

Dan tidak ada yang lebih membanggakan, selain dari kenyataan bahwa kedaulatan kita sebagai “new couple” dapet pengakuan dari orang lain, kan? Kedaulatan itu tidak akan bisa diberikan secara resmi, kalau pasangan baru itu hanya menikah diam-diam saja di atas onta.

Pengen difoto sama Jim Liaw, seperti karyanya di atas.. Gaunnya bisa buat nyapu lantai.

Older Posts »

Blog at WordPress.com.