Georgetterox

February 28, 2010

Ditikung Kolega Sendiri

Filed under: Gimme a break — Vicky Laurentina @ 7:26 am

Setiap orang mungkin pernah kemalingan pacar. Tapi tidak banyak yang mendapati malingnya mau ngajak salaman setelah memalingi pacarnya.

Semalam, dalam keadaan flu berat dan insomnia, gw nontonin bokap gw dan adek gw nonton Chelsea vs Manchester City di tivi. Bokap gw ngakak waktu John Terry ngajak Wayne Bridge salaman, dan ternyata Bridge nggak nyalamin balik, malah langsung melengos seolah-olah Terry nggak ada.

Gw mencoba mengira-ngira alasan kenapa Bridge nggak mau salaman sama Terry:

1. Mungkin tangannya Terry nggak ada duitnya, sedangkan Bridge nggak mau salaman kalau bukan salam tempel.
2. Mungkin Bridge habis dari toilet, terus belum sempat cuci tangan, jadi sungkan kalau mau salaman.

*Gw bukan pemerhati sepakbola dari sisi olahraganya, gw lebih tertarik pada sisi infotainment-nya.*

Gw harus googling dulu untuk memastikan bahwa hipotesa-hipotesa sesat gw di atas itu benar. Ternyata, gw salah besar.

Jadi rangkuman opera sabunnya begini:
John Terry adalah kaptennya Chelsea, nyambi juga jadi kaptennya tim nasional Inggris. Wayne Bridge adalah karyawannya City.

Terry sudah menikah dengan seorang mbak-mbak bernama Toni, dan disinyalir Bridge turut menghadiri syukuran pernikahan itu dan memberikan doa restu bersama pacarnya yang bernama Vanessa Perrocel.

Dari hasil pernikahannya, Terry dapet anak kembar. Sementara dari hasil kumpul kebonya, Bridge punya satu anak laki-laki.

Masalah datang ketika kedapatan bahwa Terry ternyata selingkuh sama Jeng Vanessa. Bridge ngamuk.

Bridge nggak mau masuk timnas Inggris buat Piala Dunia di Cape Town nanti coz nggak sanggup pura-pura kompakan sama Terry yang jadi kaptennya.

Semua orang juga tahu bahwa kapten adalah pemimpin, dan yang lain-lainnya adalah anak buah. Gimana perasaan kita kalau pemimpin kita adalah orang yang malingin pacar kita sendiri?

Tadi pagi gw mbaca di koran bahwa menjadi korban perselingkuhan adalah stres yang sangat besar. Korban sibuk bertanya-tanya: Kenapa kekasih selingkuh? Kenapa selingkuhnya harus sama teman gw sendiri? Kenapa teman gw malingin kekasih gw? Bagaimana sekarang gw mesti menghadapi orang yang malingin kekasih gw?

Siyalnya, nggak setiap orang punya sistem pertahanan diri yang kuat untuk digoncang tsunami macam begitu. Ada beberapa mekanisme sikap yang bisa diambil Bridge untuk menghadapi maling pacarnya:

1. Terima. Memisahkan sosok Terry antara kolega sepakbola dan maling. Kita salaman di lapangan, tapi nanti pas bulan Desember nggak usah kirim kartu Natal.

2. Lawan.
Habisin itu si Terry. Kempesin ban sepedanya. Kirimin klepon yang udah basi. Umpetin bajunya waktu mandi di Sungai Thames. Upload fotonya Terry di Facebook waktu lagi ngelem aibon. Pas di lapangan, hajar idungnya si Terry.

3. Lupakan.
Cari pacar baru dan cari teman baru. Prinsipnya orang Jawa, gak ono koen gak patek’en. Biarpun nggak ada kamu, gw nggak bakalan kena kusta kok.

4. Menghindar.
Sebisa mungkin, jangan ketemu Terry di mana pun. Jangan di timnas, jangan di Liga Inggris. Jangan salaman. Prinsip ini seperti lagunya Boyz II Men yang dulu kolaborasi sama Uncle Sam, “I don’t ever wanna see you again. Tell me, why did it have to be my best friend?”

Dengan berpegang pada ringkasan opera sabun di atas, gw nyimpulin bahwa Bridge nggak bisa ngambil mekanisme pertahanan diri nomer 1, 2, atau 3. Alasannya:

1. Tidak bisa menerima. Bridge nggak mau munafik, pura-pura temenan di lapangan tapi benci di luar. Itu namanya kebohongan publik, apalagi Bridge dan Terry sama-sama jagoannya rakyat Inggris. Sebaik-baiknya idola adalah idola yang nggak bo’ong.

2. Tidak bisa melawan. Soalnya kalau ketahuan FA, nanti Bridge bisa diskors. Lagipula implementasinya susah, mengingat Terry jarang makan klepon dan nggak pernah mandi di Sungai Thames.

3. Melupakan lebih gampang. Masalahnya, Terry itu nikung dengan pacarnya yang udah kasih dia anak. Kebayang kalau mau lihat si bayi, terus ingat emaknya yang nikung, hih..pengen ngelemparin tombak deh!

Dengan demikian, paling gampang ya bereaksi seperti nomer 4, menghindar. Praktis, nggak kuatir kena skors, nggak melibatkan tombak, nggak usah bohong, dan nggak perlu repot beli klepon.

Bagaimana kalau Anda yang jadi Wayne Bridge? Gimana kalau Anda diajak salaman oleh kolega yang udah nikung sama pacar Anda sendiri? Terima, atau kemplang?

February 27, 2010

Dicari, Belly-phone

Filed under: features — Vicky Laurentina @ 4:56 am

Anda hamil? Carilah belly-phone. Anda belum hamil? Cari juga belly-phone. Apa sebab? Soalnya janinnya akan lebih pinter kalau didengerin musik pakai belly-phone.

Kalau kita biasa dengerin musik via earphone, alias plug atau empuk-empukan yang disumpal ke kuping, maka kali ini gw akan memperkenalkan belly-phone, yaitu empuk-empukan yang ditempelin di perut. Bisa dipakai untuk ibu hamil yang mau memperdengarkan musik kepada bayinya.

Ini hasil oleh-oleh gw setelah dengar kuliah Dr dr Hermanto Tri Joewono, SpOG(K) di Surabaya, Jumat minggu lalu. (Maaf, baru gw reportase sekarang, coz kemaren-kemaren sibuk ngoceh perkara perjalanan kereta, hehehe)

Kenapa harus diperdengarkan musik?
Jadi gini, untuk menjadi manusia yang pintar, bayi perlu diberikan rangsangan-rangsangan berupa rangsangan sentuh, lihat, dan dengar. Dan rangsangan ini bukan cuman diberikan semenjak lahir, tapi akan lebih baik kalau diberikan semenjak masih dalam kandungan alias masih janin. Karena saraf-saraf otak janin sudah tumbuh semenjak masih dalam rahim ibunya. Jadi makin sering dirangsang, maka janin akan semakin pintar.

Rangsangan yang paling sederhana yang bisa diberikan adalah berupa rangsangan suara. Dan kali ini yang gw tulis dari hasil dengerin kuliah ini adalah pengaruh mendengarkan Mozart buat janin dalam kandungan.

Kenapa Mozart? Hehehe..banyak penelitian yang bilang bahwa musiknya Mozart ternyata bagus banget buat merangsang sel-sel otak bayi. Jika komposisi karya Mozart dimainkan pakai biola, gelombang musik yang dihasilkan ternyata sejalan dengan gelombang di dalam otak janin.

Kapan waktu yang tepat buat mendengarkan belly-phone ini? Harap diinget bahwa tidak semua waktu kehamilan pas buat diperdengarkan musik. Sebaiknya janin diperdengarkan musik mulai kehamilan usia 20 minggu. Soalnya, telinga janin baru bisa berfungsi baik setelah kehamilan usia 20 minggu, hehehe..

Paling baik dimainkan Mozart-nya pas malem-malem. Karena resonansi suara yang paling bagus diterima janin ya pas malem, selain itu juga karena malem memang saat yang paling tenang.

Gimana kalo emaknya nggak doyan dengerin Mozart, tapi senengnya dengerin Mbah Surip? Ya nggak masalah, coz yang memang butuh dengerin Mozart ya janinnya, bukan emaknya. Jadi plug yang nyambung ke pemutar musik ditempelin di perut emaknya, bukan disumbatin ke telinga emaknya. Maka yang ngedengerin Mozart adalah janinnya, sementara emaknya boleh suka-suka dengerin yang lain, yihaa.. Berapa lama? Butuh waktunya 60 menit. Oh ya, dengerin musiknya sesuai urutan lagu lho, jangan diloncat-loncat. :p

Masalah kecil muncul: Di mana beli belly-phone? Hahaa..gw juga nggak tahu. Well, kalau gw sih pakai cara primitif aja: Ear plug yang biasa gw sumbatin di kuping, tempel aja di perut pakai selotip. :p Alah, gw belum hamil ini, nanti aja deh mikirnya, mudah-mudahan pas gw hamil nanti, udah ada alat belly-phone di toko..

Kenapa kabel musiknya kudu ditempelin di perut, bukan didengerin aja pakai loudspeaker? Well, kalau didengerin pakai loudspeaker, akan timbul atenuasi pada suara yang dihasilkan, jadi gelombang suara tidak akan sampai kedengeran oleh janin dengan kualitas yang kita mau.

Sayangnya gw sendiri bukan penggemar Mozart, jadi gw nggak ngeh lagu mana aja yang jadi karyanya Mozart. (Gw taunya cuman Bryan Adams, hahaha..) Tapi yang harus digarisbawahi di sini, sebaiknya lagu yang diperdengarkan adalah lagu dalam nada mayor, bukan yang minor. Ya iyalah, kalau janinnya denger lagu minor nanti jadi pribadi yang tukang sedih dong.. 🙂

Oke, Ladies, sudah siap nyari belly-phone?

February 25, 2010

Toilet Tidak Jujur

Filed under: Gimme a break — Vicky Laurentina @ 9:26 pm

Akhirnya gw mutusin buat pipis juga. (Ck ck ck..gw terheran-heran bagaimana dari yang namanya kebelet pipis bisa jadi ide buat tulisan sampai dua biji! Kenapa ide menulis selalu datang tiap kali lagi kebelet?)

Lalu gw lihat tulisan ini dan tercengang.


Baiklah, mereka salah menerjemahkan. “Pergunakanlah saat kereta berjalan”, seharusnya hasil terjemahannya adalah “Please use when the train is going.”

Karena, “Please use only the train is running” artinya hanya dipakai kalau keretanya lari.

Gw bayangin, kalau penumpangnya kaum kulit putih alias bangsa Kaukasus, mereka harus nunggu keretanya lari dulu, baru mereka bisa pipis. Tapi bangsa Indonesia nggak bisa disalahkan kalau pakai toiletnya waktu kereta lagi jalan pelan di stasiun, misalnya waktu mau nyambung gerbong. Bukankah tulisannya “pergunakanlah saat kereta berjalan”?

Lalu gw masuk ke kamar toilet itu, dan nyari-nyari lobang toiletnya. Wijna, minggu lalu bilang di blog ini bahwa hasil buang hajat di toilet kereta itu langsung jatuh ke rel, bukan “ditabung” dulu di container atau entah apa. Ternyata dia benar. Lobang toilet yang lagi gw potret ini, jelas-jelas jatuhnya ke tanah.

Pantesan bangsa ini susah banget dibikin jujur kalau berbuat salah. Orang-orang kita senang lempar batu sembunyi tangan, kalau bikin salah suka nggak mau ngaku. Dan toilet ini sudah mencerminkan itu. Orang tinggal lempar produk hajatannya di atas rel, lalu meninggalkannya lari bersama kereta. Lempar tokai, sembunyi bokong.

Ini masih mendingan kalau keretanya lewat di kawasan persawahan. Hasil tokai atau pipis bisa dijadiin zat hara yang bikin subur tanah. Tapi gimana kalau keretanya lewat di kawasan perkotaan? Apalagi kalau relnya melintas di tengah jalan raya. Gimana perasaan kita kalau mobil kita mesti ngantre di depan pintu lintasan kereta api, nungguin keretanya lewat, lalu ternyata di dalam kereta itu ada orang lagi boker, dan hasil bokerannya jatuh ke rel, dan setelah keretanya selesai sehingga mobil kita bisa lewat, ternyata di depan kita ada tokai bekas bokeran penumpang kereta? ^^

Atau mungkin harus dibikin pengumuman dulu, “Perhatian, perhatian! Sebentar lagi kita akan memasuki jalan raya di kota. Penumpang jangan boker dulu..!”

Gini nih akibatnya kalau pembangunan transportasi kita nggak banyak melibatkan faham religius. Katanya ajaran agama gw, mbok ya habis buang hajat itu dibersihkan supaya produk hajat itu tidak merugikan orang lain. Ya termasuk hasil buang hajat di toilet itu dibuang di container yang benar, jangan sampai dibuang di rel. Bukankah kebersihan itu sebagian dari iman? Pertanyaannya sekarang, apakah negara kita punya cukup anggaran buat membangun container toilet, supaya penumpang kereta tidak buang hajat sembarangan?

February 24, 2010

Mengejar Pesona, Taruhan Nyawa

Filed under: features — Vicky Laurentina @ 10:02 pm

Pagi itu, gw mutusin buat mengalah kepada kandung kemih gw yang udah gw empet semalaman lantaran gw nggak mau pipis di toiletnya kereta. Sadar bahwa gw nggak mau menginvestasikan hidup gw dengan percuma hanya untuk sakit batu saluran kemih, akhirnya gw ambil tas gw dan gw berjalan terhuyung-huyung ke toilet di belakang gerbong. Itu hampir jam enam dan gw mengasumsi kereta lagi jalan antara Tasikmalaya dan Bandung.

Gang belakang gerbong adalah tempat yang strategis untuk melakukan apa aja. Pada perjalanan dengan kereta yang lalu, gw lihat gang itu adalah tempat paling strategis buat dipakai klepas-klepus untuk penumpang kereta eksekutif yang dilarang ngebul di dalam gerbong. Tapi pagi itu, gw lihat laki-laki ini berdiri di pinggir pintu sambil keasyikan motret sawah-sawah. Pintunya terbuka lebar-lebar.

Gw nggak tahu apakah kondektur tahu bahwa ada pintu kereta yang nggak dikunci. Jika kereta ini berhenti di manaa gitu, siapapun bisa masuk: pedagang kacang tanah, penumpang liar, atau bahkan kambing. Tapi gw kuatir kalau ada orang celaka lantaran jatuh dari pintu kereta itu, dia bisa aja jatuh di tengah-tengah sengkedan sawah dan saat dia bisa berteriak minta tolong, kereta sudah lari sejauh dua kilo.

Namun yang gw lihat di gang ini, laki-laki ini nampak sama sekali tidak takut jatuh.

Beberapa bulan terakhir ini gw melakukan riset kecil-kecilan terhadap hobi fotografi. Gw iseng meniru para pelakunya, berpikir seperti mereka, macam begitulah. Gw melihat bagaimana hobi ini bisa bikin orang kecanduan pada pelakunya; mereka bela-belain jungkir balik demi mendapatkan foto yang bagus, kadang-kadang sampai taruhannya adalah keselamatan diri mereka sendiri. Dan di gang ini, gw melihat contohnya yang nyata.

Apa yang kau cari dari gambar sawah-sawah itu, Bung? Apa kau memang terobsesi dengan pemandangan itu, atau kau hanya menikmati sensasinya memotret dari pintu kereta yang terbuka lebar-lebar? Kalau kau jatuh, apa yang mau kau potret?

Gw harus bilang fotografi itu hobi yang seksi. Pelakunya bisa membingkai sebuah kejadian biasa menjadi hal yang sama sekali nggak biasa. Itu perlu naluri yang tajam, mata yang teliti, kesabaran yang tinggi, dan selera yang bagus. Gw nggak heran sekarang sekolah-sekolah fotografi menjamur di Jawa. Mungkin cuman satu mata kuliah aja yang perlu ditambah di sekolah itu: pelajaran keselamatan jiwa.

Dan melihat fotografer ini, mendadak gw jadi kangen sama my hunk. Dia mencintai kamera, melebihi apapun di dunia ini. Kadang-kadang gw cemburu coz tangannya nyantol ke kameranya lebih lama ketimbang nyantol ke gw.

Siyalan, gw sampai lupa bahwa gw mau pipis.

February 23, 2010

Gojlokan buat Si Cantik

Filed under: Gimme a break — Vicky Laurentina @ 5:31 am

Gw selalu bermimpi, punya foto di mana gw keluar dari sela-sela asap. Bukan, bukan maksudnya gw punya cita-cita terpendam buat jadi pemadam kebakaran. Bukan juga karena waktu kecil gw terlalu sering nonton pertunjukan Nicky Astria atau Ita Purnamasari di Aneka Ria Safari. Tapi gw pikir, keren aja kalau gw berpose dengan latar belakang asap. Dan dua hari lalu, impian gw akhirnya terwujud. Meskipun dengan setting yang sama sekali nggak pernah gw idamkan.

Yang tidak pernah terpikir oleh gw itu, bahwa kalau mau pose dengan latar belakang asap itu adalah, jangan sekali-kali pakai parfum. Percuma, wanginya langsung ilang.

Ini semua gara-gara gw jalan-jalan ke Surabaya beberapa hari yang lalu. My hunk ngajak gw ngincipin sate kelapa di kawasan Ondomohen, mumpung gw lagi ada di sana. Tante gw bilang, bo’ong tuh, nggak ada yang namanya sate kelapa, adanya juga sate lapa. Soalnya yang jual itu orang Madura, jadi mereka nggak bisa ngomong “kelapa”, bisanya ngomong “lapa”.

Jadi gw bela-belain bangun pagi, mandi pakai sabun wangi, semprot-semprot pakai minyak harum dan dandan yang cantik dengan semangat ‘45 gw bakalan sarapan sama my hunk. Tiba di venue, alangkah bengongnya gw liat ternyata yang dimaksud counter sate kelapa itu posisinya di pinggir trotoar. Orang-orang ramai ngantre di situ berdesak-desakan, bergerilya melawan kepulan asap yang membubung dari pembakaran sate. Nggak ada nomer antrean, jadi setiap orang berteriak-teriak dalam bahasa Madura minta pesenannya didulukan. Penjualnya balas teriak-teriak dalam bahasa Madura minta pembelinya bersabar. Gw bingung caranya mau mesen gimana, lha gw sudah lupa caranya ngomong Madura.

Lalu my hunk bilang sama gw, “Biasanya yang mesen mamaku. Aku nunggu di mobil.”

Gw menatapnya nanar. Yupz, inilah pelajaran penting dalam setiap relationship: Pria mengompori wanita mereka untuk belanja makan, tapi mereka tidak mau nyerondol antrean dan mereka merayu wanita mereka untuk melakukan itu.

Tempat itu gila banget. Antrean gila-gilaan, dengan kemampuan bahasa Madura gw yang mengharukan, bisa-bisa baru nanti siang pesenannya kita diladenin, dan takutnya satenya udah abis. My hunk nawarin kita berdua sarapan di tempat lain aja, tapi gw tolak coz gw udah kadung sampai sini jadi gw mesti nyobain.

Akhinya jadilah gw ikutan menggojlok diri sendiri dalam kepulan asap di situ, dan mencoba berteriak ke penjualnya dalam bahasa Madura yang patah-patah, pesan sate kelapa 20 tusuk. Bussoo deh..gw udah dandan cantik-cantik ujung-ujungnya malah terperangkap di antara antrean sate kelapa. Badan gw bau asap, mata gw perih sampai keluar air mata. My hunk? Oh, dia berdiri di pinggir jalan dan malah keasikan motret gadisnya berjuang beli sate.

Saat itulah tiba-tiba gw jadi kangen nyokap gw. Biasanya nyokap gw yang bertugas mblusuk-mblusuk ke antrean penuh asap gini, lalu mesan empat porsi buat gw, adek, dan bokap gw. Nyokap gw juga fasih ngomong Madura, soalnya nyokap gw kan orang Jawa Timur tulen dan nyokap gw bisa mendesak penjual manapun buat minta diduluin. Sementara gw dulu kan masih kecil, nggak pernah mau ikutan nemenin nyokap dan maunya enak-enak tidur-tiduran di mobil. Hwaa..coba kalau dulu gw ikutan sama nyokap, pasti sekarang gw tahu caranya nyerobot antrean beli sate dan ngeyel dalam bahasa Madura!

Untunglah akhirnya gw dapet sate kelapanya. Gw keluar dari antrean asap itu dengan tampang berantakan, bubar sudah harum dari badan gw. Kontras, gw menghampiri my hunk yang masih segar dan wangi.

Sahut gw, “Aku sampek nangis, Mas.” Dia malah ketawa terbahak-bahak.

Bagus, bagus, batin gw. Jadi ini sebabnya kenapa para istri selalu nampak kucel setiap kali baru pulang dari pasar. Karena mereka mblusuk-mblusuk nggak karuan demi belanja makanan buat suami mereka, sementara suaminya cukup jadi seksi makan. Oh ya, sekaligus seksi mbayarin dan seksi nyetirin.

Satenya enak, hehehe. Tadinya gw kirain itu sate isinya kelapa, tapi ternyata daging sungguhan yang dibumbuin kelapa. Bisa juga pesen sate yang ada lemaknya atau ada sumsumnya. Sate 20 tusuk plus nasi yang dibumbuin kelapa juga, dibanderol Rp 34.000,-.

Lain kali, gw mau ke situ lagi. Dan gw mau bela-belain belajar bahasa Madura dulu sebelum ke sana, biar gw bisa nyerobot antrean dengan leluasa.

My hunk dan gw sendiri yang menjepret fotonya.

Older Posts »

Blog at WordPress.com.