Georgetterox

May 31, 2010

Suara Pedas yang Mau Sembahyang

Filed under: features — Vicky Laurentina @ 3:42 am

Sekedar peringatan kecil, hati-hati buat Sodara-sodara semua yang berniat menghelat pesta pernikahan di gedungnya kompleks mesjid. Ternyata ada aja orang mesjid yang suka rewel kalau ada orang bikin hajatan. Mudah-mudahan rewelnya bukan karena merasa nggak kecipratan suguhan makanan.

Semalem, saya pergi ke pernikahan kolega. Pesta yang cukup rame, dan pengantennya pakai acara lempar kembang buket segala ke para jomblo. Saya tadinya disuruh my hunk ikutan berbaris buat nangkep kembang, tapi saya lebih ngeri kalau sepatu hak tinggi saya kenapa-kenapa. Maklumlah, hal-hal buruk selalu terjadi kalau saya terlalu excited, entah itu tali sepatu saya putus lah, atau tahu-tahu saya jatuh dan kaki saya keseleo lah. Dan ternyata bener aja, yang berhasil nangkep kembangnya adalah temennya si penganten, dalam proses penangkapan yang sedemikian brutal, dan ternyata sepatunya si penangkap itu ilang pas dia dapet kembangnya.. Wkwkwk..

Oke, itu yang lucunya. Sekarang, saya cerita yang nggak enaknya. Gedung kondangannya itu ada di Jalan Diponegoro, salah satu gedung yang paling sering jadi langganan orang Bandung buat disewa bikin hajatan. Sebelahnya gedung itu adalah salah satu mesjid paling beken se-Bandung.

Pas lagi nyari-nyari tempat parkir, terdengarlah dari pengeras suara yang bisa kedengeran sampek seluruh lapangan, seorang khatib (atau muadzin? Entahlah) memperingatkan siapapun untuk tidak main gamelan. Soalnya ada orang lagi sholat. Saat itu kan jam tujuh malem, tahu sendirilah kalau itu jamnya orang baru adzan sholat Isya.

Saya pikir si halo-halo itu berhenti di satu kalimat aja. Nggak taunya dia nyerocos. Katanya, cobalah buat nggak membunyikan apapun kalau waktunya orang sholat. Biarpun Anda sudah merasa menyewa gedung dan manggil tukang gamelan sampek artis sekalipun. Kalau cuman sekedar mau menabuh-nabuh, apapun bisa ditabuh kalau di sekitar mesjid. Tapi jangan pas waktunya orang sholat. Jangankan tabuh-tabuhan, malah kalau di depan kita ada orang lagi sholat pun, kitanya jangan ngaji. Ngaji itu bisa gangguin konsentrasi orang sholat.

Lalu si halo-halo ngelanjutin lagi. Katanya dia kesiyan sama Anda (entah itu siapa) yang nekat tabuh-tabuhan gamelan. Kesiyan coz nggak ngehormatin orang sholat. Katanya dia ngomong gini bukan karena merasa dirinya pemilik mesjid. In fact, mesjid itu milik Allah Subhana Wa Ta’ala.

Nggak ngerti, mungkin kadar takwa saya yang tipis atau saya yang lagi sensi, tapi mendadak saya jadi sebel dengernya. Itu maunya nyindir yang lagi bikin hajatan ya? Kok nggak sekalian aja bilang kalau di deket mesjid jangan bikin kondangan gitu? Memangnya orang kalau shalat tuh cuman pas jam 12 siang atau jam tujuh malem doang, enggak kan? Shalat itu bisa kapan aja, entah itu jam satu siang, atau jam sembilan malem, dan kalau ada yang shalat jam segitu, orang tetep nggak boleh bikin kondangan di gedung sebelahnya?

Saya yakin, itu yang nyewain gedung hajatannya juga nggak bego-bego amat. Dia sudah tahu bahwa gedung itu sebelah mesjid. Konsekuensinya, tuh gedung mestinya ya kedap suara, supaya bunyi-bunyi apapun yang ditabuh di dalam gedung, nggak sampek kedengeran ke mesjid sebelahnya. Jadi nggak usahlah orang mesjid mengkritik tajam via pengeras suara untuk orang-orang yang nabuh gamelan di gedung hajatan supaya nggak gangguin orang sembahyang. Kalau memang orang merasa terganggu dengan suara-suara apapun waktu sholat, sekalian aja tukang parkir suruh libur dan jangan niup-niup peluit parkir. Memangnya bunyi peluit itu nggak potensial gangguin orang sembahyang ya?

Atau ya sekalian aja, jangan nyewa-nyewain tuh gedung buat orang bikin kondangan. Jadi adil toh?

Lagian juga, saya yakin tuh si halo-halo nggak maksud nyepet kolega saya yang lagi bikin hajatan. Lha waktu saya masuk ke tempat hajatan itu, ternyata nggak ada gamelan sama sekali. Soalnya buat hiburannya, kolega saya nyewa pianis jazz. Dan semua orang juga tahu, segaduh-gaduhnya musik jazz yang cuman pakai piano dan string itu, masih kalah berisik ketimbang musik gambus..

Mestinya orang nggak cuman disuruh bertoleransi kepada orang yang sedang beribadah. Tetapi orang yang mau beribadah juga nggak boleh nyindir-nyindir orang yang tidak sedang hendak beribadah. Kritik seharusnya disampaikan dengan cara yang lebih elegan, bukan dengan cara yang menggurui dan menyindir-nyindir. Bukan begitu?

Eh, mendadak saya jadi terhenyak. Saya mengkritik si halo-halo di blog saya ini, itu elegan juga nggak ya? :-p

Gambarnya dari http://madah.com

Advertisements

May 30, 2010

Go Green, Dong!

Filed under: tips n trick — Vicky Laurentina @ 7:19 am

Ada yang menarik waktu saya pergi ke sebuah toko kosmetik keluaran Inggris beberapa minggu yang lalu bareng adek saya. Ceritanya saya beli body lotion, sementara adek saya beli minyak wangi. Variannya banyak banget di tempat itu, ada yang wangi rasa buah, ada yang wangi rasa kembang. Saya dengan cepat nemu wangi peach, lalu saya bawa ke kasir. Sementara adek saya susah nemu pilihan. Abis semuanya wangi sih.

Sang petugas kasir membungkus body lotion saya dalam sebuah kantong kertas kecil, lalu menjepretnya. Dan transaksi pun selesai.

Beberapa saat adek saya pun datang dan siap bayar minyak wangi yang dos-q beli. Saya membuka jepretan kantong belanjaan saya, memastikan sang kasir sudah masukin belanjaan saya dengan benar dan nggak ketuker sama orang lain. Sang kasir ngeliatin kita berdua, menyadari bahwa kita berdua adalah kakak-adek, dan menawari, “Mau barang ini (yang dibeli adek saya – Red) dimasukin ke situ, Mbak?”

Saya mikir sebentar. Mm..saya takut kantong kertas itu jebol sih. Tapi nampaknya minyaknya adek saya ringan-ringan aja. “Ya deh, boleh. Demi para orang utan.”

Sang petugas kasir pun ketawa. Akhirnya dia membuka kantong belanjaan saya yang isi lotion tadi, lalu masukin minyak adek saya ke dalamnya. Padahal kan beda transaksi mestinya beda kantong belanjaan ya?

Di toko itu, digelar poster segede gaban bergambar orang utan. Saat ini toko tersebut mengklaim bahwa untuk penjualan kosmetik dari cabang-cabangnya di seluruh dunia, prosesnya dibikin seefisien mungkin untuk membantu pelestarian orang utan di Cali. Beberapa cara yang mereka lakukan untuk itu, antara lain bikin supaya tiap botol plastik yang mereka pakai untuk mengemas kosmetik itu, dibikin sebanyak 30%-nya dari plastik yang bisa didaur ulang. Cara lainnya adalah dengan membiasakan belanjaan produk mereka yang dibawa pulang oleh konsumen dibungkus dalam tas dari kertas daur ulang.

Saya pikir, lucu juga kalau setiap toko menggunakan cara ini. jika kita bisa meminimalisir tiap kantong plastik yang dipakai buat belanja dan menggantikannya dengan barang-barang yang bisa didaur ulang, bumi nggak akan kecapekan karena mesti menanggung beban sampah plastik yang dihasilkan penduduk dunia setiap tahunnya. Cara sederhana yang bisa kita lakukan, antara lain membungkus tiap belanjaan kita pakai tas kain yang syukur-syukur kita bawa sendiri dari rumah.

Beberapa hari lalu, seperti biasa saya pergi belanja ke supermarket buat beli barang kebutuhan sehari-hari. Saya bawa tas kain hasil menangin kuis dari Didut ini, hehehe. Lumayan lho, si petugas kasir supermarketnya nggak jadi mbungkusin belanjaan saya pakai kantong plastik. Lagian tampang tasnya juga cukup modis dan serasi dengan kostum saya, hihihi.

Kita mengurangi sampah plastik, sebetulnya bukan sekedar karena kita sayang sama orang utan. Tetapi, semakin banyak sampah plastik dibakar setiap tahunnya, maka semakin sulit tanah harus megap-megap mengandung polimer-polimer bekas plastik, sehubungan polimer plastik itu paling susah diuraikan menjadi zat hara. Kalau tanah penuh dengan zat-zat anorganik, maka tanah akan susah ditanemin pohon. Padahal pohon perlu untuk ventilasi udara yang dihirup sehari-hari, tidak saja oleh para orang utan yang hidup di kawasan hutan, tetapi juga oleh manusia, kaum kita sendiri.

Kalau Anda mau sekedar berbaik hati, gimana kalau Anda beli barang apa aja di toko manapun, sedapat mungkin bawa tas sendiri buat mbungkusinnya. Entah itu dimasukin ke dalam tas kanvas Anda, atau ditenteng masukin ke dalam saku celana. Kalaupun Anda nggak biasa bawa tas, bilang sama mas-mas kasirnya supaya nggak usah repot-repot misahin mana kantong plastik buat sampo, dan mana kantong plastik buat makanan kaleng. Satu-satunya kondisi di mana kita mesti misahin belanjaan adalah saat kita belanja daging cincang dan sabun mandi sekaligus. Oh ya, juga saat kita beli oli dan sekaligus minyak goreng.. 😀

May 29, 2010

Lovely Shock

Filed under: me daily — Vicky Laurentina @ 12:58 pm

Giling, giling, giling!

My hunk sempat nanyain saya, beberapa minggu lalu, saya mau dikadoin apa buat ulang tahun. Saya tahu dia belum bisa kabulin daftar keinginan saya. Tapi akhirnya saya bilang ke my hunk, “Kadonya kamu aja deh. Kamu yang dimasukin kotak terus dibungkus pakai pita..”

Saya cuman becanda. Soalnya, dia kan tinggalnya jauh banget, ngapelin saya aja mesti naik pesawat dulu. Jadi saya berharap, yah mudah-mudahan dia kirim kado.

Sampek hari Kamis sore, nggak ada orang berhenti di depan rumah sama sekali. Saya jadi gemes. Nggak ada orang tukang kurir nganterin paket malem-malem, kan? Saya jadi nyesel, soalnya waktu my hunk nanyain saya mau kado apa, saya dengan sok tegarnya bilang saya nggak dikadoin juga nggak pa-pa.. (Huu..padahal..)

My hunk ng-sms, dia lagi nonton Fariz RM di tivi. Uh..jadi jam segini dia lagi ongkang-ongkang kaki di rumahnya dan nggak ngepakin saya kado.

Saya pakai kimono saya, tidur cepat malam itu. Baru bangun besoknya pas saya ulang tahun. Itu hari Jumat, libur Waisak, dan saya memutuskan bahwa “the birthday girl kepingin bangun siang”. Setengah masih merem, saya nyalain HP dan membiarkan SMS-SMS dan e-mail-e-mail masuk buat bilang selamat ulang tahun. Termasuk my hunk. Saya mulai bikin beberapa varian dari kata “terima kasih”.

Lalu my hunk ng-sms, godain saya yang masih di kasur. Saya jawab, “Tadi malem aku mimpi Mas dateng ke sini dan lihat aku baru bangun n belum mandi. Waktu aku bangun, aku kecewa coz ternyata cuma mimpi..”
Jawabnya, dia lagi di jalan dan nanti mau nelfon saya. Saya melirik jam. Biasanya jam segini dia lagi keluyuran nyetir cari pecel buat sarapan.

Ternyata beberapa menit kemudian dia nelfon. Saya langsung nyamber, “Kamu kalo lagi nyetir kamu jangan nelfon aku.” Bahaya, tahu.
Tapi dia malah jawab, “Aku nggak nyetir. Aku ada di depan rumahmu.”
Saya masih setengah ngantuk. “Apa?”
Dia: “Aku di depan rumahmu.”
Saya pikir telinga saya berhalusinasi. “Apa??”
Dia: ”Aku di depan rumahmu!”
Saya kaget. “APA?!”

Serentak saya mengikat kimono saya yang longgar dan lari keluar kamar, lari ke teras, celingukan dan berharap saya mimpi. Ketika saya menoleh ke depan pintu pager rumah, saya terperanjat. My hunk berdiri di luarnya, menatap saya sambil bersidekap, persis Romeo nggak dibukain pager oleh Juliet.

Saya melongo persis ikan mas koki. “Mas..?”
Dia tersenyum.
Tapi yang keluar dari mulut saya kemudian, “What are you..(doing)?!”

Sumpah, saya kaget setengah mati. My hunk ada di depan rumah saya? Di Bandung? Jam enam pagi?!
Dan saya menyadari tampang saya kacau total saat itu. Saya kan baru bangun!
Alih-alih bukain dia pager, saya malah lari masuk ke rumah. Dan dia tetap tinggal di luar pager..

Saya ngeliat muka saya di cermin kamar dan mufakat tampang saya betul-betul awut-awutan. Tapi saya nggak bisa langsung mandi, coz asisten pribadi nyokap saya baru aja bukain pager dan minta my hunk duduk di teras..

Saya keluar lagi ke teras dan siap mengomeli dia karena mau datang nggak bilang-bilang dulu. Tapi dia malah membungkam mulut saya, “Selamat ulang tahun..”

Ya Tuhan, mestinya saya nangis terharu atau semaput? Tega bener dia, dateng mendadak ke rumah saya pagi-pagi dengan tampang ganteng, padahal saya belum mandi dan mata masih penuh belekan..

Ternyata, diam-diam dia udah pesen tiket pesawat jauh-jauh hari buat ke Bandung dan booking hotel. Dia tiba di Bandung Kamis sore dan survey bagaimana naik angkot dari hotelnya ke rumah saya. Jadi Kamis sore, pas saya lagi ngeluh kenapa nggak ada pak pos nganterin paket kado buat saya, sebenarnya dia udah sampek jalan depan rumah saya tapi dia balik lagi ke hotelnya. Waktu dia ng-SMS dan bilang dia lagi nonton Fariz RM di tivi, itu sebenarnya dia nonton di tivi kamar hotelnya, bukan di tivi rumahnya. Dan hotel tempat dia nginep itu, sebenarnya jaraknya cuman tiga kilo dari rumah saya. Dan sore itu saya malah ngomel dalam hati, kenapa dia nggak kirimin saya kado..?

“Makasih ya, Mas, udah dateng buat ulang tahun aku,” gumam saya bahagia.
Dia tersenyum dan manggut. “Iya.”
“Tapi, Mas,” saya nelan ludah. “Kok Mas nggak pake pita..?”

***

Jadi..terima kasih ya temen-temen semua yang udah nyelametin ulang tahun saya di Twitter dan Facebook, dan maaf belum sempet saya bales. Soalnya dari kemaren saya nggak sempet on-line, lantaran saya ngedate dua hari penuh sama my hunk. Saya bawa dia keluyuran, berburu cari tempat buat manjain hobi dia motret-motret sambil wisata kuliner. Baru saya lepas dia tadi, coz dia mesti cabut naik pesawat pulang ke rumahnya. Sewaktu saya nulis blog ini, saya masih kepingin nyakar punggungnya gara-gara dia dateng nggak bilang-bilang dulu. Padahal, kalau dia dateng, saya kepingin masak buat dia..

Ternyata cinta memang indah. Saya nggak ngira cinta bakalan bikin my hunk nggandol pesawat jauh-jauh dan menyesatkan dirinya di Bandung sendirian cuman buat survey nyari jalan ke rumah saya. Dan saya pikir, saya udah dapet kado terindah yang saya inginkan tahun ini. Kemaren, umur saya genap 28 tahun dan saya gadis paling beruntung di muka bumi ini.

May 27, 2010

Keanehan Wanita

Filed under: me daily — Vicky Laurentina @ 8:56 am


Kemaren kau terlambat datang bulan, dan kau uring-uringan.

Sekarang bulannya sudah datang, kau lebih uring-uringan.

Mau kau bawa ke manaa.. rahim kitaa..?

May 25, 2010

Kenapa Kita Mau Balik Lagi?

Filed under: me daily — Vicky Laurentina @ 8:55 pm

Seorang cewek dateng ke sebuah salon dalam keadaan suntuk berat. Matanya nampak sembab dan mukanya cuman berpulas bedak. Dia bilang ke petugas kasir di salon bahwa dia kepingin creambath, lalu dilulur kaki.

Si mbak-mbak kasir itu nganterin dia ke ruang creambath dan menyilakan si cewek ini cuci rambut dulu. Karena suntuk dan kepingin yang seger, dia bilang ke kapster yang nyuci rambutnya, tolong cuciin pakai air dingin aja.

Setelah itu creambath pun dimulai. Si cewek bilang pijetannya kurang keras, maka si kapster pun pijet kepala si cewek lebih keras lagi. Bahkan si cewek bisa melihat di kaca, urat-uratnya si kapster itu sampek nonjol semua, padahal si kapster itu ceking.

Selesai creambath, si kapster mau bilas rambut si cewek. Tahu-tahu si cewek merasakan guyuran hangat nyiram ke kepalanya. “Air dingin aja, Mbak,” katanya.
Tapi si kapster malah nyela, “Bersihin pake air anget dulu ya, Teh. Supaya lemak bekas rambutnya ilang semua..”
Si cewek melongo. Dibiarinnya aja si kapster bilas rambutnya pakai air anget, tapi setelah itu baru diguyur air dingin.

Selesai creambath, si kapster nganterin si cewek ke bilik refleksiologi buat luluran kaki. Yang meladeni si cewek buat luluran kaki ternyata kapsternya beda lagi. Jadi si cewek pun duduk tenang sementara kakinya dipijet pakai lulur oleh kapster yang kedua.

Sembari dipijet, si cewek noleh keluar bilik itu via partisi, dan ngeliatin seruangan salon yang lagi rame. Ada yang lagi diroll, ada yang lagi blow, ada yang lagi dikeriting. Tahu-tahu si cewek denger si kapster ngomong sesuatu ke dia sayup-sayup.
“Apa?” tanya si cewek.
“Mau baca majalah, nggak, Teh?” tanya si kapster.
“Oh enggak, enggak, makasih,” jawab si cewek.

Akhirnya selesailah acara luluran kaki itu. Sebelum si cewek mbayar di kasir, dia ke toilet dan nyiapin beberapa lembar fulus. Lalu keluar dari toilet, si cewek balik ke ruang creambath dan nyariin mbak-mbak yang mijetin kepalanya tadi. “Mbak, makasih ya,” katanya sambil nyelipin fulus ke si kapster.
Si kapster seneng, sementara si cewek minggat dan nyariin kapster yang tadinya mijetin kakinya. Ternyata si kapster itu lagi fesbukan di HP. “Mas, makasih ya,” tiba-tiba dia menghampiri si kapster itu.
Si tukang pijet kaki itu nampak terkejut, tapi berseri-seri waktu nerima tip yang menurut gw nggak seberapa itu.

“Tumben lu ngasih tip, biasanya lu saban creambath di situ nggak pernah ngasih tip,” kata gw waktu si cewek cerita itu ke gw.
Lalu si cewek cerita ke gw. “Gw udah creambath di situ berkali-kali dengan kapster yang beda-beda, dan mereka selalu iya-iya aja apapun yang gw minta. Tapi sekali ini gilirannya gw minta dibilas pake air dingin, si neng itu malah ngeguyur pake air anget dulu coz dia peduli perkara lemak di rambut gw. Coba kalo dia nggak kasih tahu gw bahwa bekas creambath itu kudu diguyur air anget dulu, barangkali hasil creambath gw nggak akan seoptimal yang gw inginkan.”
Dan perkara tukang pijet refleksi itu, dia melanjutkan, “Gw masuk ke salon itu dalam keadaan be-te berat gara-gara gw berantem sama adek gw dan nyokap gw. Nampaknya si kapster ngerti hati gw lagi susah, jadi dia mencoba nyenengin hati gw dengan nawarin majalah.”
Dia menelan ludah dan bilang, “Orang-orang ini nggak cuman menjalankan pekerjaan mereka, Vic. Tapi mereka juga peduli sama konsumennya. Makanya gw kasih tip. Coz gw suka hasil kerjaan mereka. Mereka bekerja itu pake hati.”

***

Kita kadang-kadang melayani klien cuman seperlunya aja, tapi kadang-kadang kita lupa menarik hati konsumen supaya mereka seneng sama layanan kita. Sebagai contoh kecil aja, minggu lalu bokap gw pergi ke Banceuy beli kopi di toko langganan kami. Adek gw bertanya-tanya kenapa bokap gw harus pergi sejauh itu, padahal kopi yang sama banyak dijual di toko-toko yang lebih dekat dengan rumah kami.

Lalu nyokap gw menjelaskan, bahwa waktu bokap gw pergi ke toko itu, si penjualnya nanya, bokap gw mau nyimpen kopi itu sampek kapan. Jawab bokap gw, paling-paling sebulan juga udah abis. E-eh, si penjual kopi malah bilang, bokap gw nggak usah beli banyak-banyak, tapi sedikit-sedikit aja. Soalnya kalo disimpennya sampek lama a la penyimpanan rumah tangga kami, bisa-bisa kualitas kopinya berkurang.

Padahal kalau penjualnya cuman ngejar keuntungan, dia bisa aja membiarkan bokap gw beli kopi sebanyak-banyaknya, kan? *wink*

Pernah juga beberapa minggu lalu gw ma’em pizza di Dago. Gw baru pertama kali ke sana, dan gw nanya pizzanya segede apa. Si pelayan malah nganjurin gw buat pesen satu dulu, nanti kalau kurang boleh pesen lagi. Betul-betul tidak serakah.

Nyatanya, gw malah nambah pizza lagi sampek dua kali. Ukuran besar. 🙂

Dan memotretnya dengan spontan.

Teman gw akan creambath di salon itu lagi. Dan bokap gw akan beli kopi di tempat itu lagi. Dan gw akan makan pizza di sana lagi, sambil bawa orang lain.

Jadi, sudahkah kita melayani klien kita dengan hati?

Older Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.