Georgetterox

July 9, 2010

Jumat Rada Pinteran Dong Ah

Filed under: features — Vicky Laurentina @ 5:04 am

Hari Jumat, mungkin minggu lalu atau dua minggu yang lalu, bokap saya nutup pintu ruang prakteknya dan siap-siap ke lapangan parkir. Jam sudah nunjukin jam 11.30, dan mestinya sekarang waktunya bokap saya pergi ke mesjid buat solat Jumat. Lalu datanglah perempuan ini, bawa anaknya yang mungkin umur 3-4 tahunan, menghadang bokap saya, bilang gini, “Dok, anak saya mau berobat.”

Haiyaah, this is not the right time.

Pokoknya, ujung-ujungnya bokap saya jadi telat masuk mesjidnya. Pulang-pulang diceritainlah ke saya dan nyokap.

(Interupsi dulu. Eh, sebenarnya kalau dateng sholat Jumat tapi nggak dengerin khotbah sebelum sholatnya, itu sholat Jumatnya sah nggak sih?)

Nyokap saya menanggapi cerita itu dengan ngomong begini, “Itu godaan. Waktunya mau menghadap Tuhan, kita dikasih pilihan, mau mengambil duit yang melambai di depan mata atau mau sembahyang?”
Lalu bokap saya bilang, “Bukan. Ini pilihan, antara sembahyang atau mau menolong orang yang sakit?”
Tapi saya ingat bahwa sakit itu sendiri ada dua macam, sakit gawat atau sakit tidak gawat. Sakit gawat itu adalah sakit yang bisa bikin mati kalau nggak ditolong detik ini juga. Sakit tidak gawat adalah sakit yang tidak akan mati kalaupun tidak ditolong detik ini juga.
Jadi saya kirain, anak ini sakit gawat sampek-sampek dateng ke kantornya bokap saya pas waktunya orang seharusnya sholat Jumat.

Kata bokap saya, ternyata setelah diperiksa, anak ini ngidap dermatitis atopic. Itu penyakit radang kulit berupa gatel-gatel menahun yang biasanya terjadi karena anak ini nggak tahan terhadap debu atau udara dingin. Maka pertanyaan saya selanjutnya, memangnya si ibu nggak bisa nunggu ya sampek sholat Jumat selesai?

Kalau seperti itu, maka pertanyaannya bisa dikembangkan. Kenapa ada orang mau ke dokter karena nganterin anak yang gatel-gatel kena debu, pada waktunya orang mau sholat Jumat? Kalau pakai kemungkinan dia nggak tahu dokternya laki-laki, kayaknya nggak mungkin. Jelas-jelas papan nama di depan gedung praktek bokap saya nunjukin kalau dokternya laki-laki.

“Mungkin ibunya pikir sholat Jumat nggak penting-penting amat dibandingkan prioritas anaknya yang sudah lama gatel-gatel,” kata saya.
Lalu kata bokap saya, “Ibunya pakai kerudung.”

***

Saya nulis ini karena saya mau bilang bahwa kita hidup di negara di mana kebiasaan sebagian besar rakyat adalah menutup kantor-kantor mereka pada Jumat siang karena laki-lakinya mau sholat Jumat. Itu sebabnya saya selalu mikir, kalau mau ke penjual jasa apapun yang sekiranya orang laki-laki, jangan pas waktunya Jumat siang karena itu waktunya orang sholat. Kita mau bilang “gw berhak atas jasa elo karena gw mau bayarin elo” juga nggak etis, coz itu artinya kita melanggar hak seseorang untuk beribadah. Siapa bilang konsumen punya hak untuk tidak punya etika?

Ini hari Jumat, Sodara-sodara. Yuk, coba pada hari ini kita rada pinteran dikit.

Gambarnya ngambil dari sini

Advertisements

27 Comments »

  1. mungkin kah si Ibu baru ada waktu pas shalat jum'at gitu ?! jadi bisa izin meninggalkan pekerjaan na , trus bawa anak na berobat, soalnya jam makan siang yang paling panjang emang jum'at doank 🙂 hehehe

    Comment by Pitshu — July 9, 2010 @ 5:12 am

  2. jika saya jadi si dokter, saya akan menyuruh si ibu menunggu sampai selesai shalat jumat

    Comment by hildaw — July 9, 2010 @ 5:27 am

  3. Ya, gw ngerasain kadang-kadang gw baru bisa melakukan urusan gw di luar kerja justru pada hari Jumat. Kadang-kadang gw bela-belain siap keluar kantor jam 11 coz balapan sama orang solat Jumat.Tapi gw tetap nggak ngerti kenapa IBU RUMAH TANGGA nggak bisa menghargai waktu dari seorang penyedia layanan jasa untuk sembahyang Jumat. Kok dia nggak mikir ke situ sih?

    Comment by Vicky Laurentina — July 9, 2010 @ 5:29 am

  4. Mbak Hilda, itu pilihan yang sulit. Dokter sering dituduh menolak pasien dan pasiennya marah-marah. Jangankan menolak pasien karena alasan dokternya mau sholat, bahkan kalau dokter nutup praktek sementara karena mau makan pun pasien masih marah karena merasa tidak diprioritaskan.

    Comment by Vicky Laurentina — July 9, 2010 @ 5:45 am

  5. sebaiknya konfrontasi langsung dengan si ibu agar ia menyadari bahwa kelakuannya adalah suatu kesalahan.

    Comment by ronneycerita — July 9, 2010 @ 5:56 am

  6. Begitu mungkin ya rasanya resiko menjadi dokter, saya ibu rumah tangga dan pekerja juga..trus terang saya paling malas kalau pergi antrian untuk berobat..secara lama banget. Pernah suami saya sakit malaria, udah mengigil tidak tahan..tempat praktek sudah di buka, dan pasien baru ada suami saya dan 3 psien lain..nah…nunggunya di panggil itu kira2 1 jam adalah..ya saya maklum mungkin pada saat itu dokter lagi sibuk.

    Comment by IbuDini — July 9, 2010 @ 6:01 am

  7. biasanya kalo praktek dokter di rumah aku liat waktu kunjungnya biasanya pagi atau sore-malam, hari libur dan minggu tutup, aku milih yg waktu dokternya praktek. Kalo dalam keadaan gawat aku biasanya langsung ke UGD rumah sakit saja. Biar bagaimanapun dokter juga manusia perlu istirahat, makan, sholat.

    Comment by Ladyonthemirror — July 9, 2010 @ 6:24 am

  8. Memang pasien yang pintar nggak akan dateng ke dokter kalau dokternya nggak waktunya praktek. Kalau bukan jam praktek, artinya dokternya nggak siap melayani pasien. Anda nggak mau dilayani siapapun yang nggak siap melayani Anda, kan?Oh ya, Mbak Dini, nunggu sejam untuk antrean empat orang itu wajar lho. Dengan alokasi waktu 15 menit buat dokter melayani pasien, itu cukup buat dokter mendengarkan keluhan pasien, memeriksa, dan mengobati sampai optimal. Kecuali jika Mbak Dini adalah pasien yang seneng dilayani terburu-buru dan cuman didengarkan setengah-setengah.

    Comment by Vicky Laurentina — July 9, 2010 @ 6:50 am

  9. Mungkin si ibu tadi cuma bisanya hari jumat aja kali mba vicky, sedang dihari lainnya ga bisa. Jadi maksa2 agar anaknya ditangani saat ini juga.Tapi kalo aku yang jadi dokternya saat itu, aku akan meminta si ibu untuk menunggu smp sholat jumat selesai / jika tak mau menunggu bisa pindah ke dokter lain. Kira2 kalo begitu gmn tanggapan di pasien ya..???

    Comment by Herien Kriestia — July 9, 2010 @ 6:52 am

  10. Tanggapan pasien tuh macem-macem, Mbak.Ada yang mengerti bahwa sholat Jumat adalah kewajiban muslim, jadi dia membiarkan dokternya sholat dan menunggu sampek dokternya selesai sholat.Ada juga yang mikir anaknya adalah prioritas nomer satu di atas Tuhan, jadi dia cari dokter lain.Ada juga yang tetap nunggu karena dia nggak mampu melawan perintah Tuhan untuk sholat Jumat, tapi ngomel coz dipikirnya "cuma meriksa pasien bentar aja kok dokternya ndak mau?"Ngomong-ngomong, ibu rumah tangga pasti sibuk sekali ya, sampek-sampek baru bisa nganter anaknya ke dokter justru pas waktunya orang sholat Jumat?

    Comment by Vicky Laurentina — July 9, 2010 @ 7:33 am

  11. mungkin anaknya baru pulang sekolah kali ya jadi bertepatan dngan jam sholat Jumattapi memang kembali ke personal masing2 sihKarena, jujur, kadang saya (nonmuslim) lupa kalo Jumat ada sholat Jumat makanya seringan nunggu dokter gigi saya sholat dl deh di ruang tunggunya 🙂

    Comment by Debby — July 9, 2010 @ 8:17 am

  12. Kalo pasiennya bukan muslim sih saya masih ngerti dia nggak hapal jadwalnya orang sholat Jumat. Tapi kalau pasiennya pakai kerudung dan nggak mikir waktunya sholat Jumat, kan aneh..

    Comment by Vicky Laurentina — July 9, 2010 @ 10:42 am

  13. Duh ya…. tapi kan kasian juga anaknya kalo ngga ditolong, mbak. Tapi ini alasan klise ya?

    Comment by Freya — July 9, 2010 @ 11:17 am

  14. Bapaknya gak tega ya waktu itu langsung bilang,Bu saya mau sholat dulu?

    Comment by bridge — July 9, 2010 @ 12:05 pm

  15. ibunya jarang jumatan kalee.. makanya nggak bisa ngerasain. *tolol saya kumat…

    Comment by Gaphe — July 9, 2010 @ 1:28 pm

  16. Percaya deh, jadi dokter itu nggak enak kalau harus milih antara pasien dan Tuhan.Dalam hal ini, orang kalau berobat tuh jangan memaksa dokter berada di pilihan yang susah kayak gini. Siapa sih yang bisa menjamin bahwa pasien yang udah dateng jauh-jauh nggak akan be-te disuruh nunggu cuman gara-gara dokternya mau sembahyang Jumat dulu?Tapi wanita juga sepantasnya ngerti ya bahwa jangan minta pria kasih waktu buat mereka ketika saatnya sholat Jumat. Apalagi kalau wanita itu muslimah. Lebih-lebih lagi kalau dia itu pakai jilbab.

    Comment by Vicky Laurentina — July 9, 2010 @ 1:40 pm

  17. mungkin itulah 'cobaan' dan pilihan ya mbak..

    Comment by anyindia — July 9, 2010 @ 3:45 pm

  18. Coban yang sulit. Dan pilihan yang menjebak.

    Comment by Vicky Laurentina — July 9, 2010 @ 4:30 pm

  19. Shalat jum'atnya tetap sah mbak, cm menurut gw kurang afdol aj. Coz khutbah bs memberikan informasi dan pencerahan baru.Tentang pasien itu, emang kurang tepat datangnya. Hrsnya dia tau dong kl waktunya shalat jum'at, krn dia sendiri seorang muslimah.Skdr info mbak, warnet tmpt gw jaga kl jum'at bukanya jam satu siang.Krn ada yg ditakutkan, bocah" gamer's bknnya shalat mlh pd ngegame.

    Comment by Mood — July 9, 2010 @ 4:57 pm

  20. Terima kasih udah kasih tahu masalah sah itu, Mood.Saya respek banget sama warnetnya Mood, biarpun saya nggak suka juga lihat warnet tutup pada siang hari. Sebenarnya solusinya adalah naruh pegawai cewek sebagai operator. Tentang anak-anak yang mestinya sholat Jumat, apakah harus ya sampek dilarang-larang segala masuk warnet? Gimana dengan anak laki-laki yang bukan muslim, atau bahkan anak perempuan, haruskah dilarang juga masuk warnet, pada hari Jumat siang?Ah, kok saya jadi kepikiran buat bikin blog baru ya?

    Comment by Vicky Laurentina — July 9, 2010 @ 5:25 pm

  21. Membuat aku makin bete ama pasien2 yg menyatakan kriteria dokter ideal adalah dokter yg bs dihubungi setiap saat setiap waktu 😦 lah emangnya para dokter itu gak butuh waktu buat dirinya sendiri dan keluarga apa? Mentolo tak santap ae

    Comment by Astri — July 10, 2010 @ 6:53 pm

  22. Koen santep ae, ntie gw bantu cocolin saos.. 😀

    Comment by Vicky Laurentina — July 11, 2010 @ 1:21 am

  23. kadang orang lupa akan hari, nanti sadar kalo diberi tahu.

    Comment by sabry — July 11, 2010 @ 8:05 am

  24. Ikut nimbrung dunk.Aunt, mungkin kita udah ngelupain hal penting nih. Bisa aja si ibu-ibu itu lupa atau nggak ingat kalau itu hari Jum'at, karena panik ngelihatin keadaan anaknya. Wong aku yang cowok aja juga kadang lupa atau nggak ingat kalau hari udah Jum'at. Tahu-tahu dengar suara khutbah dari masjid, lalu buru-buru pergi buat ikut Jum'atan.Btw, si 'Mr. Hunk' sepertinya perlu bersyukur ya, karena si Aunt yang atu ini bukan cuma cerdas dan bijak. Tapi juga salikhah…*Piss Mr. Hunk*

    Comment by Hoeda Manis — July 11, 2010 @ 12:30 pm

  25. Yak, saya udah ngira akan ada komentar kayak gini.Penyakit anak ini bukan sesuatu yang bikin panik. Gatelnya sudah menahun. Kalau dia memang panik, pasti sudah dia bawa ke dokter dari kemaren-kemaren, nggak usah nunggu waktunya Jumat. (Kan sudah saya tulis di alinea 3-4 di atas.)Oh ya, seingat saya ada ritual istimewa buat cowok kalau mau sholat Jumat ya? Kan di-sunnah-kan sebelum sholat Jumat untuk ganti baju, motong kuku, pakai wangi-wangian, bahkan syukur-syukur mandi dulu sebelum ke mesjid? Makanya itu sebabnya para pria tuh ada acara spesialnya sebelum sholat Jumat, jadi aneh juga kalau lupa dan baru inget justru setelah dipanggil adzan atau khotbah..

    Comment by Vicky Laurentina — July 11, 2010 @ 2:55 pm

  26. Gue pribadi sih kalo mau ngapa2in (misal ke RS, bank ato instansi2 lainnya) justru menghindar hari Jumat di jam2 sholat. Yah walopun kadang mrk ada pengganti org2 yg melayani, tapi lbh baik cari waktu yg lebih pasti aja. Selain itu.. utk menghindari 'menggoda' org2 yg mau sholat 🙂 Utk amannya, mgkn bisa ditulis di plang nama bokap, Vick. Setiap Jumat jam …. tutup utk sholat Jumat. (Eh, tp gak tau ngumumin hal kayak gini diperkenankan gak? Tp gue sering liat tuh kalo di toko2 ada yg tutup infonya kayak gitu)

    Comment by lovefaithhope2811 — July 12, 2010 @ 2:15 am

  27. Dikirain udah TST (tahu sama tahu), Mbak Lili, kalau Jumat siang tuh waktunya sholat Jumat. Nanggung amat kalo di plang ditulis "praktek setiap Senin-Sabtu (kecuali Jumat antara jam 11.30-12.30)". Tapi ya ini juga pelajaran buat dokter-dokter kayak kami, bahwa ternyata masih ada juga pasien yang nggak pinter-pinter amat, termasuk dalam urusan antisipasi waktu sembahyang Jumat, bahkan meskipun dia muslim yang "taat".

    Comment by Vicky Laurentina — July 12, 2010 @ 3:22 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: