Georgetterox

July 24, 2010

Sini, Ta’ Ajari Caranya

Filed under: me daily — Vicky Laurentina @ 1:33 am

Mudah-mudahan adek saya nggak baca tulisan ini. Kalau dia sampek tahu apa yang saya lakukan berikut ini, dia pasti bakalan ngamuk-ngamuk sama saya. Dan dia akan menghukum saya dengan cara yang aneh-aneh, mulai dari nggak digorengin cireng sampek nggak boleh nonton DVD Pride and Prejudice punya dia.

Sepupu saya dateng minggu lalu. Dia nggak hamil, tapi dia ngidam sate kelinci. Dan tempat sate kelinci yang cukup representative deket rumah saya adalah di Lembang. Soalnya di sana bisa sambil makan sate bisa sambil melihat panorama dari atas Bandung. (Apaan seh, jelas-jelas yang diliat cuman jurang yang gelap gulita) Lha saya pikir kalau dia cuman kepingin sate kelinci kan tinggal pergi aja ke Puncak, pasti lebih deket dari rumah dia di Bogor. Tapi weekend pasti Puncak macet, jadi dia milih ngungsi ke rumah saya karena pasti kalau nginep di rumah saya gratis. Khas perhitungan orang kapitalis.

Pasalnya, adek saya dari dulu mewanti-wanti saya nggak boleh makan sate kelinci. Alasannya, kelinci adalah binatang yang sangat imut dan lucu, jadi nggak boleh dijadiin sate. Saya pikir alasan itu nggak akurat, soalnya menurut saya, ayam dan sapi juga binatang yang lucu, tapi kenapa mereka laris jadi sate?

Eh, nggak percaya ya ayam itu lucu? Coba Anda pikir, kenapa ayam kalau nyeberang jalan bawaannya ngeliatnya lurus dan nggak tengak-tengok kanan-kiri? Soalnya ayamitu matanya di samping, nggak kayak kita yang matanya di depan.

Dan saya serius waktu bilang sapi itu lucu. Lha kalau saya ada di jalan dan papas an sama truk yang ngangkut sapi, saya selalu ketawa lihat sapi-sapi ngintip keluar lewat celah-celah kandang kayunya. Kadang-kadang moncongnya nongol gitu. Pernahkah Anda sadar kalau sapi itu punya bulu mata yang sangat lentik? Padahal mereka nggak pakai mascara Maybelline.

Mumpung adek saya lagi symposium di Jakarta. Saya tahu adek saya melarang saya makan sate kelinci, tapi kan sepupu saya udah ngoleh-ngolehi saya cokelat dari Oz, jadi saya maulah nganterin sepupu saya ke warung sate kelinci di Lembang. (Oh Vicky, kaugadaikan kesetiaan pada saudara kandungmu dengan sekotak cokelat!)

Di Lembang bejibun banget dijual sate kelinci, tapi saya pilih spot yang ada di tempat yang saya julukin Emen’s Place. Di titik sini berjejer warung-warung yang jualan sate kelinci plus jagung bakar, dan minuman yang paling banyak dipesen adalah bandrek. Kenapa dinamain Emen’s Place? Gini lho, titik ini kan letaknya di jalan raya yang menghubungkan Bandung dan Subang, dan kiri-kanannya adalah jurang berisi kebun teh. Di beberapa tikungan kadang-kadang lampu jalannya irit banget, jadi kendaraan mesti hati-hati kalau jalan di sini. Maka kadang-kadang suka ada kecelakaan yang biasanya melibatkan truk, di mana mungkin supir truknya ngantuk. Meskipun supirnya nggak pernah ngaku kalau mereka ngantuk, sebaliknya saban kali kecelakaan, mereka selalu mengaku lihat seseorang lagi jalan di tengah jalan raya, sehingga mereka kehilangan kendali. Konon, “orang” itu bernama Emen.

Sudah ah cerita hantunya. Intinya saya dan sepupu markir mobil di situ dan saya jalan keliling deretan warung itu nawar-nawar harga. Sate kelinci dibanderol Rp 15.000,- per 10 tusuk dan nggak mau ditawar, bleh. Rata-rata jualan jagung bakar per bonggolnya goceng, tapi saya menawar-nawar dengan kejam sampek akhirnya berhasil dapetin lebih murah 30%. Ini pasti gara-gara sepupu saya nyetir mobil bagus dan ngeliat tampang kami cantik-cantik, jadinya mereka pasang harga mahal-mahal. Halaah..cuman makan jagung bakar aja.

Sengaja saya pesen jagung bakarnya manis keju. ABG-ABG yang mbakar jagungnya betul-betul curang, mereka mipil jagungnya sampek tinggal biji-bijinya doang, lalu naburinnya pakai keju parut. Saya dan sepupu protes, soalnya jadinya asin banget dan nggak ada manis-manisnya. Si ABG mengklaim bahwa tuh jagung udah pakai susu, cuman mungkin nggak keliatan soalnya susunya ada di bawah biji-biji jagungnya. Akhirnya sepupu saya bilang, “Coba bawa ke sini susunya, mau saya tambahin..”

Sama si ABG pun dibawain satu kaleng susu kental manis. Saya nggak nunggu apa-apa lagi, langsung saya siram tuh jagung keju pakai susu yang buanyak sampek banjir. Dan hasilnya memang enak, hehehe..

Berikutnya kita pesen lagi jagung bakar, tapi minta yang rasa manis. Sama si ABG pun dibakarin jagungnya, dan begitu dihidangin di meja, langsung saya sawerin jagungnya pakai susu kental manis lagi. Kata sepupu saya, kesiyan yang punya warung, bisa-bisa dia bangkrut gara-gara susunya kita abisin.. :-p Lha kata saya, kok kayaknya sebenarnya jagungnya nggak enak, tapi gara-gara kita modifikasi resepnya, jadilah jagungnya enak. Lama-lama kok kayaknya jadi kita yang punya warung, hehehe.

Eh, tadi saya cerita sate kelinci ya? Menurut saya satenya nggak enak. Kalau kata sepupu saya yang sebenarnya orang Malang itu, masih lebih enak sate kelinci di Batu..

P.S. Mas Katon, makasih udah motretin gw berlumuran susu itu.. 😀

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: