Georgetterox

July 28, 2010

Bergaya di Tempat Ngadem

Filed under: Gimme a break — Vicky Laurentina @ 8:45 pm

Nggak ngerti saya kesambit apa, tapi hari Minggu kemaren pas lagi luntang-lantung di festival jalanan di Braga, saya mutusin buat jalan-jalan ke museum. Ya know, saya bukan penggemar sejarah, terutama kalau itu tidak ada hubungannya dengan hal-hal yang saya suka; saya seneng dateng ke museum karena alasan yang simple aja: cari AC yang gratis. Makanya saya sebel banget kalau saya dateng ke museum yang nggak ada AC-nya, hehehe. Anda sama sekali tidak bisa bayangin, Bandung sepanas apa sekarang.

Betul-betul ironis banget orang-orang macem saya ini, yang cuman memperlakukan museum sebagai tempat buat ngadem. Tapi ya itu nggak lepas dari sikap para pengelola museum, yang umumnya masih setengah hati dalam mengurus museum. Coba Anda pikir-pikir, sebutkan dua kata yang pertama kali terlintas di kepala Anda kalau denger kata museum. Satu, barang kuno. Dua, sarang laba-laba. Tiga, nggak gaul ah. Eh, itu tiga kata.

Nah, untungnya berhubung tahun 2010 ini adalah tahun kunjungan museum, maka para pengurus museum di Indonesia lagi seneng-senengnya promosi sana-sini supaya orang mau dateng ke museum. Ada banyak banget kegiatan yang sekarang lagi diumbar, supaya orang nggak semata-mata dateng ke museum cuman buat ngadem atau buat karyawisata. Beberapa museum sekarang rela ngorbanin beberapa ruangannya buat dijadiin tempat pameran, yang umumnya pamerannya nggak ada hubungannya sama tema museumnya sama sekali. Ada juga yang nyewain ruangan buat dijadiin tempat presentasi software open source. Beberapa bahkan mengkaryakan lapangan parkir buat dijadiin kafe yang jual makanan elite-elite. Kenapa dijualnya dengan harga mahal? Justru kesannya supaya museumnya nampak bonafid.

Museum yang saya sambangin ini namanya Museum Konferensi Asia Afrika. Sebenarnya museum ini nggak melulu nyimpen barang-barang kuno. Malah, kalau saya itung-itung, jumlah barang kuno yang dipamerin di sini nggak sampek 25%-nya. Museum ini sebenarnya malah lebih mirip galeri buat masangin foto-foto peristiwa Konferensi Asia Afrika di Bandung pada wangsa 1955. Batin saya, ini cara murah-meriah buat bikin museum. Suatu hari saya juga mau bikin Museum Vicky Laurentina. Isinya adalah foto-foto saya dari kecil sampek dewasa, lengkap dengan cerita-ceritanya di masing-masing tahun. Tinggal tata foto-foto itu dalam galeri dengan penatacahayaan yang ciamik dan interior yang artistic, maka jadilah museum. Narsis! *wink*

Saya mutusin bahwa kali ini saya nggak akan motret barang-barang di dalam museum, coz kalau mau promosi museum kayaknya udah basi. Tapi sebagai orang yang seneng ngeliatin orang lain, maka saya motret kelakuannya orang-orang yang pergi ke museum. Seperti pada foto-foto yang saya pajang ini. Ada pengunjungnya yang seneng motret display, sampek semua-semua yang ada di dalam museum itu dia potret. Ya bola dunianya, ya mesin ketik kunonya, ya patung-patungnya. Mungkin Anda termasuk jenis orang kayak gini. Sebenarnya motret ginian buat apa sih? Kalau udah sampek rumah, tuh foto hasil jepretan diliatin lagi, nggak?

Saya juga seneng lihat orang ke museum gayanya mulai modis-modis. Nggak melulu anak-anak sekolah dengan seragam sambil nyatet barang-barang yang menurut saya lebih mirip tukang inventaris, tapi saya lihat cewek-cewek sexy dengan hot pants dan sepatu sandal suede dengan tekun melototin setiap foto yang dipasang di galeri. Tahukah Anda bahwa banyak orang seneng pacaran di museum? Perpaduan antara AC yang dingin, interior museum yang elegan, dan bertebarnya barang-barang pamer yang merangsang intelegensia, bikin suasana pacaran makin gimanaa..gitu. Nasehat kecil saya, kalau Anda kepingin nampak intelek di hadapan orang yang lagi Anda pe-de-ka-te-in, ajaklah kencan ke museum. Kalau Anda kepingin kencan di siang hari yang nggak bikin make-up Anda cepet luntur, pergilah ke museum.

Saya juga seneng museum sekarang mulai melengkapi tempat-tempat pamerannya dengan alat-alat canggih. Komputer-komputeran yang dipasangin multimedia di sini bisa kasih pengunjung informasi tentang hal-hal yang menarik yang mungkin sulit diungkapkan dengan barang pajangan. Meskipun menurut pengalaman saya pribadi, kayaknya nggak semua pengunjung tertarik buat ngulik semua informasi yang ada dalam multimedia itu. Tapi cukuplah buat bikin pengunjungnya terkesan. Jaman sekarang, apa yang bisa tampil cuman dengan bermodal mouse atau touch screen, selalu aja bikin pengunjung takjub.

Yang lucu, pas saya lagi motret-motret begini, tahu-tahu terdengar suara dari loudspeaker, “Pengunjung dilarang memotret di area selain area patung!”
Ya oloh..maksudnya supaya nggak ada yang mereproduksi gambar-gambar display-nya museum buat dipasang di media massa ya? Saya kan bukan mau motret display-nya museum, saya cuman mau motret orang-orang yang dateng ke museum aja.. :-p

June 28, 2010

Cewek, Tutup Mulut Sajalah!

Filed under: Gimme a break — Vicky Laurentina @ 4:09 am


Kalau lagi nonton bola, segmen yang biasa bikin saya pengen buru-buru ganti channel adalah segmen komentar. Bukan, bukan karena orang Indonesia lebih jago komentar ketimbang jago main bola. Tapi karena saya nggak tahan lihat cewek dipasang di situ buat jadi komentator.

Saya heran kenapa stasiun-stasiun tivi itu masang cewek buat jadi komentator, lalu menanya-nanyai analisis dan segala macam. Dan komentator cewek itu akan menjawab dengan semangatnya seolah-olah dia tahu strategi pelatihnya tim yang main. Batin saya, memangnya kamu pernah main sepakbola, Jeng?

Logika saya sederhana. Kita nggak akan pernah jadi pakar tentang sesuatu, kalau kita tidak pernah nyemplung dalam hal itu. Dan itu juga berlaku buat komentator sepakbola. Gimana caranya mereka bisa jadi komentator yang handal, kalau nendang bola aja mereka nggak pernah?

Masi lebih masuk akal kalau yang ditanggap buat jadi komentator itu perempuan yang pernah jadi atlet sepakbola juga. Lha ini yang dipanggil buat jadi komentator itu mesti profesi aselinya model, model, model lagi. Model tidak pernah jadi item, model nggak pernah main sepakbola, gimana mereka mau berkomentar tentang sepakbola?

Kalau ini hanya strategi buat bikin pemirsa nongkrong di channel dan nggak pindah ke channel lain, well..saya rasa itu dangkal banget. Semua orang juga ngerti kalau cewek di situ cuman dijadikan pemanis. Kesiyan banget, kalau cuman buat jadi pemanis, mendingan cewek disuruh ngurusin bidang lain, misalnya jadi penyiarnya acara kuis sepakbola. Itu masih mending coz faktor tampang dari si cewek akan berpengaruh besar buat ngajakin penonton ikutan kuis yang hadiahnya jutaan itu. Atau jadi pemandu sorak buat crowd penonton yang lagi nonton bareng, itu masih mendingan.

Kalau memang stasiun tivi butuh komentator yang manis dan bening, lebih baik mendaulat mantan pemain bolanya Indonesia. Well, itu tugas PSSI buat memoles para pemainnya supaya nggak cuman bisa ngegocek bola doang, tapi juga mesti punya keterampilan bicara di tivi dan berpenampilan menarik. Supaya kalau pemainnya PSSI itu udah nggak main bola lagi, mereka bisa alih profesi buat jadi komentator sepakbola yang rupawan, bukan cuman nuntut janji diangkat jadi pegawai negeri doang. Industri sepakbola butuh orang yang ahli, bukan cuman pemain yang ngarep jadi PNS, atau komentator yang cuman jual tampang doang.

P.S. Perasaan muncul tiap hari di tivi, tapi saya googling gambar komentator cewek buat Piala Dunia aja kok susah bener yak? Akibatnya saya cuman bisa puas dengan ngambil gambar dari sini

June 20, 2010

Gadis Berkacamata Tak Pernah "B*tchy"?

Filed under: Gimme a break — Vicky Laurentina @ 10:26 pm

Dalam setiap film drama yang sebenarnya duduk perkaranya tidak jauh-jauh dari urusan rebutan laki-laki, selalu ada tokoh gadis kejam dan gadis merana. Coba kita hitung-hitung, kenapa sih tampangnya setiap gadis merana selalu nampak lebih menderita ketimbang gadis kejam? (padahal kan nggak seratus persen bahwa kemeranaan si gadis adalah karena ulah si gadis kejam) Contoh kecilnya aja, dalam film My Best Friend’s Wedding, Cameron Diaz sebagai pihak yang mau dicuri tunangannya oleh Julia Roberts nampak seperti cewek lugu, alias lucu binti dungu; bandingin dengan Julia yang nampak hip. Contoh lain, dalam film Gossip Girl, dalam keadaan hujan sederas apapun si Blair nampak selalu modis dengan rambut seperti habis di-blow, bandingkan dengan Serena yang selalu dijelek-jelekin Blair dan rambutnya selalu nampak acak-acakan. Membuat saya bingung, kenapa ya tukang make-up film-film Hollywood itu selalu pilih kasih terhadap tokoh gadis merana..?

Di sela-selanya saya mantengin tivi buat nonton bola dan berita politik (tidak, urusan video klip mirip artis itu tidak termasuk berita politik!), tidak ada lagi yang bikin saya tertarik selain nonton seri iklan kosmetik Thai yang terbaru. Buat para penonton blog saya yang tinggal di luar negeri, baiknya saya ceritain aja ya. Iklan ini dibikin berseri-seri (bukan berseri-seri sumringah lho ya, tapi kayak serial gitu!), ceritanya tentang seorang gadis yang berprofesi sebagai penata busana. Gadis ini naksir seorang cowok sok cool dengan rambut a la Korea yang disisir ke pinggir, yang selama ini menganggap dia seolah invisible. Dalam kesehariannya gadis ini mendapatkan hambatan coz selalu diremehkan oleh seorang cewek b*tchy yang somsenya setengah mati (dan nampak lebih berpotensial mendapatkan si cowok cool berambut-disisir-ke-pinggir). Oh ya, gadis ini juga tidak cukup percaya diri soalnya dia berkacamata dan di pipi kirinya ada bintik-bintik itemnya (nah, mulai jelas kan siapa sponsor dari iklan ini?)

Konflik terjadi ketika si gadis merana ceroboh ninggalin buku sketsanya sehingga buku itu ditemukan si cewek b*tchy. Dari buku itu ketahuan bahwa si cewek pandai menggambar baju dan cowok (terutama cowok sok cool dengan rambut disisir ke pinggir). Si b*tchy membuang buku itu keluar jendela, dan siyalnya ternyata buku sketsa itu malah mendarat di mobilnya si cowok sok cool dengan rambut disisir ke pinggir (gila, panjang amat namanya yak?). Dan si cowok malah menyangka bahwa buku sketsa itu adalah karyanya si cewek b*tchy..

(Jika ada yang berspekulasi kenapa saya mau-maunya mengamati drama picisan, harap diingat bahwa saya pernah jadi sutradara film dan saya selalu tertarik sama sinematografi. Dan sinematografi iklan ini bagus sekali.)

Pokoknya cerita iklan ini berakhir bahagia. Si gadis merana akhirnya berdansa dengan si cowok sok cool dengan rambut disisir ke pinggir itu. Tentu saja setelah dia memakai kosmetik Thai untuk menghapus bintik item di pipinya itu, dan setelah dia melepas kacamatanya. (Saya nggak tahu apakah berdansa itu tanda jadian apa enggak. Itu tidak penting!)

Saya cuman terusik oleh sesuatu. Kenapa tag iklan ini adalah “Apa yang terjadi pada gadis berkacamata dalam 7 hari? A. Tampak lebih cerah dan noda hitam berkurang B. Tampak lebih cerah dan kerutan berkurang”. Dan akhir dari cerita iklan ini, gadis ini memang akhirnya mencopot kacamatanya. Saya bingung, kenapa nggak dipakai aja kacamatanya sekalian sampek ceritanya selesai?

Saya terheran-heran, kenapa kita bisa dengan mudah menemukan dalam iklan ini, mana gadis merana, mana gadis kejam. Gadis yang merana pasti yang pakai kacamata, selalu begitu! Saya nggak inget pernah nemu di cerita manapun bahwa gadis yang b*tchy adalah gadis yang pakai kacamata. Sepertinya memakai kacamata itu selalu distereotipkan dengan kisah merana binti pilu. Memangnya gadis yang berkacamata nggak bisa jadi gadis kejam ya?

Mbok sekali-kali saya kepingin nemu cerita di mana ada pertikaian dua gadis berebut laki-laki ganteng, dan gadis b*tchy-nya pakai kacamata sedangkan gadis merananya nggak pakai kacamata. Saya kepingin sekali-kali lihat gadis berkacamata kalah dalam pembantaian dan akhirnya si cowok yang kebetulan juga nggak pakai kacamata itu milih gadis yang nggak pakai kacamata. Adakah cerita yang kayak gitu?

Fotonya dari http://sodahead.com

May 9, 2010

Vonis Disunat, Dijamin!

Filed under: Gimme a break — Vicky Laurentina @ 3:19 am

Tepat, ternyata bukan cuman kulit torpedonya para pria yang bisa disunat. Tetapi, jangan-jangan vonis buat para penjahat juga bisa disunat. Dan buat menyunatnya nggak butuh anestesi lidokain. Cukup pakai kostum aja.

Dua hari lalu gw nonton dua orang anak disidang lantaran keduanya membunuh seorang nenek. Anak yang satu umurnya 11, dan yang satu lagi umurnya 14. Lupa sih gw gedung pengadilannya di daerah mana. Sekilas gw denger, tuh anak-anak ngebunuh si nenek juga lantaran disuruh emaknya. Waktu diajukan sebagai terdakwa di pengadilan itu, kedua anak itu pakai baju takwa dan peci. Nampak (sok) alim sekali.

Sewaktu nonton liputan itu, gw nggak bisa nggak tergelitik untuk bertanya, “Eh, itu waktu membunuh, anak-anak itu pakai baju takwa dan peci juga, nggak?”

Jamak gw lihat siaran berita yang mewartakan sidang perkara-perkara pidana, dan tiap kali gw cari-cari, yang mana sih penjahatnya, pasti gampang banget nyarinya. Penjahatnya itu, atau mungkin kita sebut ajalah terdakwanya, pasti pakai baju takwa dan peci. Entah itu perkara pemerkosaan, perkara pembunuhan, atau perkara korupsi, setiap kriminalnya pasti pakai “seragam” itu. Ada apa ini? gw bertanya-tanya. Jangan-jangan ada semacam dress code di pengadilan bahwa setiap penjahat yang mau diajukan ke pengadilan, sebaiknya pakai baju takwa dan peci.

Gw belum nanya sih ke teman-teman gw yang pengacara. Takutnya sama mereka nanti diketawain, hihihi..

Kenapa harus pakai baju takwa dan peci, gitu lho? Kesannya kayak yang baru pulang dari pengajian atau habis dapet giliran mukul bedug di surau, terus mampir dulu di gedung pengadilan buat disidang. Coba pakai kostum lain, misalnya pakai beskap plus keris, kalau ngebunuhnya pakai keris. Atau pakai baju item-item dan topeng, kalau kejahatannya berupa ngegarong bank, misalnya. Atau pakai jas dan dasi, kalau perkaranya berupa korupsi. Atau nggak usah pakai baju, kalau waktu merkosanya memang nggak pakai baju. Ya pokoknya jangan pakai baju takwa dan peci. Soalnya waktu mereka melakukan kejahatan itu, mereka nggak pakai baju takwa dan peci, kan?

Gw curiga, jangan-jangan mereka pakai kostum itu, supaya vonis hukumannya disunat. Mungkin sebenarnya tuntutan jaksanya 10 tahun. Tapi begitu hakimnya ngeliat, oh terdakwanya pakai baju takwa dan peci, nampaknya orang ini sebenarnya baik, bukan kriminal (dan mungkin rajin mengaji), baiklah mari kita sunat aja hukumannya jadi lima tahun aja. Siapa tahu dia bisa bertobat dan menyesali kejahatannya, atau kalaupun nggak bertobat, minimal bisa jadi tukang bersih-bersih ruang musola di penjara. Itu musola penjara sudah bertahun-tahun nggak ada yang ngepel semenjak anggaran buat beli obat pel disunat buat alokasi dana menghias sel khusus koruptor.

Jadi, apakah kostum terdakwa menentukan beratnya vonis? Lha gw sendiri, kalau gw jadi hakim, begitu gw lihat terdakwanya pakai setelan Armani, maka gw akan sunat tuh vonis hukumannya. Nanti kalau gw ditanya-tanya hal apa yang meringankan hukuman terdakwa, maka gw akan jawab, “Karena terdakwanya modis.”

Atau kalau gw lihat terdakwanya pakai baju batik, gw juga akan sunat tuh vonis. Nanti alasan gw, “Karena terdakwanya melestarikan budaya Indonesia.”

(Ngerti sekarang kan, kenapa orang macem gw nggak pernah diterima di fakultas hukum?) :-p

Jadi kepikiran nih, tips kalau mau berbisnis baju takwa dan peci, supaya jualannya laris-manis sedangkan sudah banyak yang jualan di depan mesjid. Kenapa nggak jualan di depan gedung pengadilan dan ditawar-tawarin ke keluarga terdakwa yang lagi nunggu vonis? Pasti laku!

Atau, gw jadi curiga nih, jangan-jangan terdakwanya tuh aselinya memang nggak pernah pakai baju takwa dan peci. Cuman karena memang kepingin jadi trendsetter, karena orang-orang udah pada musiman pakai baju setelan jas ataupun batik, maka para terdakwa pun mencoba memopulerkan trend baru dengan memakai baju takwa dan peci. Betul, tidak?

*Hwaa.. dikeplak para pedagang tukang jual baju takwa dan peci..!*

P.S. Gambar-gambar di atas, yang diambil dari sini, sini, dan sini, bukan mengilustrasikan mereka-mereka yang terlibat perkara pidana.

May 5, 2010

Hipermarket Apanya?

Filed under: Gimme a break — Vicky Laurentina @ 3:03 pm

Setiap orang pasti pernah merasa sama jengkelnya dengan gw karena nggak sabar ngantre bayar belanjaan di kasir supermarket. Gw iseng menginventarisasi alasan-alasan nggak sabar itu, antara lain:
1. Emak-emak yang dilayanin di depan gw belanjanya banyak banget, sampek trolinya penuh sesak. Sementara gw cuman beli sampo dan lulur.
2. Kasirnya masih pangkat trainee, dan dia masih kebanyakan mbenahin poninya yang nusuk matanya.
3. Si kasir menagih ratusan ribu buat pasangan yang dilayaninya di depan gw, tapi pasangan itu ternyata nggak bawa uang tunai cukup. Dan kartu kredit mereka ternyata kadaluwarsa.

Tapi bukan ketiga alasan di atas yang bikin gw sebel pas ngantre belanjaan di sebuah hipermarket di Sukajadi kemaren. Yang bikin gw sebel, pengunjung yang belanjaan kemaren begitu banyak, tapi kasir yang meladenin cuman tiga. Padahal meja kasir banyak banget, mungkin sampek 20 kayaknya ada. Gw mbatin, ngapain kalo gitu sedia mesin kasir banyak-banyak berjejer, kalau meja yang buka dan bilang Open itu cuman tiga biji? Katanya ini hipermarket, tapi apa bedanya dong sama mini-mini market yang berserakan di pinggir-pinggir jalan?

Jangan dikira kasir-kasirnya cuman seiprit lantaran gw belanja pada hari Selasa sore. Bahkan pada hari Minggu yang mestinya paling rame pun, di hipermarket masih buka kasir cuman seadanya. Akibatnya sering terjadi antrean para pembeli sampek sepanjang uler ngantre beras. Mending gitu lho kalau memang jumlah pelayan tokonya cuman dikit. Lha yang gw kesiyan tuh sering terjadi pemborosan alokasi pelayan, di mana banyak pelayan malah disuruh berdiri di depan toko buat nawar-nawarin kartu anggota klubnya si toko. Padahal ketimbang jadi SPG dadakan, kan lebih efisien kalau pelayannya diberdayakan buat jadi kasir, supaya nggak terjadi penumpuk-numpukan pembeli di meja kasir yang cuman buka tiga biji?

*dari keluhan seorang pembeli yang capek kelamaan nunggu ngantre sambil pakai high-heels padahal cuman mau bayar sampo dan lulur*

Older Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.