Georgetterox

July 31, 2010

Full House di Bandung

Filed under: tips n trick — Vicky Laurentina @ 4:56 pm

Selamat datang di Bandung. Kalau nggak perlu-perlu amat, nggak usahlah ke Bandung weekend begini. Soalnya ke Bandung itu, susah masuk susah keluar. Saya nggak becanda lho, mau masuk ke Bandung dari barat kan mesti lewat Pasteur. Tuh pintu gerbang tol Pasteur aja macetnya bisa sampek sekilo. Lha keluarnya juga susah, soalnya macetnya amit-amit, nggak via barat nggak via utara ya sami mawon.

Beberapa hari lalu saya nyariin hotel buat Mbak Reni Judhanto yang weekend ini mau ke Bandung buat acara di Dago. Jadi saya berusaha nyari hotel di Dago juga. Maka saya bukalah database hotel-hotel yang saya punya, mulai dari Foursquare sampek halaman kuning. Terus saya telfonin satu per satu. Eeh, tiap kali saya ngomong sama resepsionis, mesti njawabnya “sudah penuh”.

Edun, bahkan saat saya putus asa kehabisan hotel bintang empat dan akhirnya mulai nelfon hotel melati, tetep aja resepsionis hotel melati bilang “sudah penuh”. Maka mulailah saya putar otak nelfon hotel yang bukan di jalan Dago, tapi saya cobain ke area sekitarnya seperti Jalan Ciumbuleuit atau jalan Riau. Teteep..aja, jawabnya “sudah penuh”. Dooh..waktu saya nelfon itu kan baru hari Rebo, dan saya minta kamar buat tanggal 30-31. Itu kan tanggal tuwek, mosok udah penuh juga sih??

Tapi pencarian bukannya tanpa hasil. Saya berhasil nemu yang kamar kosong juga, dan ternyata saya dapetnya kamar-kamar bertipe grande macam suite room, executive room, penthouse, dan harganya melonjak di kawasan harga jutaan. Malah ada ynag njawab gini, “Kami masih punya kamar, Bu, berupa kamar tipe honeymoon. Tarifnya Rp 2.4xx.xxx..”

Batin saya, “Gw ketimbang honeymoon buka kamar di hotel Bandung, mendingan gw honeymoon di kamar gw ajah. Masakan nyokap gw lebih enak ketimbang masakan hotel..”

Hehehe..untunglah Mbak Reni ternyata minta channel lain buat nyariin hotel, dan akhirnya dapet sebuah kamar di hotel yang cukup bonafid di Dago.

Ternyata, orang-orang hotel itu kadang-kadang suka main curang juga, suka bilang “sudah penuh”, tapi sebenarnya mereka masih punya kamar kosong kalau cuman satu-dua. Mungkin buat tamu dadakan yang langsung dateng on site. Supaya mereka bisa melambungkan harga ke level yang tidak masuk akal.

Tips buat nginep di Bandung:
1. Tentukan dulu kalau mau ke Bandung tujuannya mau ke mana sih. Usahakan cari hotel yang terarah deket tempat tujuan utama kita. Jangan rencana mau ke Ciwidey tapi nginepnya di Setiabudi. Jauh bo’.
2. Kalau nelfon hotel, resepsionisnya suka nanya duluan, butuh kamar berapa. Jangan pernah jawab satu kamar biarpun Anda memang cuman dateng seorang diri. Bilang aja cari 3-4 kamar, baru dia mau kasih harga yang masuk akal. Nanti kalau udah tercapai harga yang Anda inginkan, baru Anda bilang kalau Anda cuman butuh satu kamar aja.
3. Usahakan pesan kamar jauh-jauh hari, kalau perlu paling telat dari H-7.

Saya taruh foto kopi darat saya dengan Mbak Reni di sini, sebagai bukti autentik bahwa pemilik blog Georgetterox dan Catatan Kecilku memang hidup, hehehe. Mudah-mudahan kita bisa kopi darat lagi lain kali ya. Oh ya, ini pertama kalinya saya kopi darat tapi nggak minum kopi..

July 29, 2010

Ketika Empet sama Tetangga

Filed under: tips n trick — Vicky Laurentina @ 8:52 pm

Punya tetangga yang rese kadang-kadang bisa sangat menyebalkan, tapi bagian paling menyebalkannya adalah kita nggak bisa memilih mau bertetangga sama siapa, dan situasi mengharuskan kita mesti bertetangga dengan orang itu. Saya kepikiran ini waktu tadi pagi saya baca tweet seorang teman. Dia ini lagi nginep di rumah sakit buat nemenin maminya yang lagi diopname. Dan dia mengeluh bahwa tetangga yang dirawat di tempat tidur sebelah tempat tidur maminya, berisik banget, kalau ngomong tuh kenceng.

Sebagai dokter saya ngerti bahwa ketika seorang pasien mesti diopname, kadang-kadang pasien dan keluarganya frustasi. Mulai dari makanannya nggak enaklah, rumah sakitnya nggak homy-lah, sampek keluhan harus berbagi kamar dengan pasien lain. Saya perhatiin memang tingkat stress pasien yang tidur di satu kamar berisi delapan pasien tentu lebih tinggi ketimbang pasien yang tidur di satu kamar untuk satu pasien. (ya iyalaah..semua orang juga tahu itu!)

Saya jadi inget waktu beberapa tahun yang lalu saya kerja di sebuah rumah sakit, di mana waktu itu saya bertugas ngopname dua orang pasien pengidap TBC. Sebut aja yang satu namanya pasien X dan yang satu lagi namanya pasien Y, dan mereka dirawat pada tempat tidur yang bersebelahan. Pada suatu pagi nyokapnya pasien X mendatangi saya, dan dengan takut-takut dia berkata, “Dokter, maaf, saya mau bawa anak saya pulang.”
Saya memandang si ibu. “Lho, kenapa? Anaknya kan masih sakit perut?” Itu TBC-nya sudah menjalar dari paru ke usus.
Nyokapnya nampak ragu-ragu, lalu akhirnya berbisik, “Iya sih. Tapi masalahnya..anak saya nggak tahan di sebelah orang itu..”
Saya langsung tersenyum, berusaha keras nggak ketawa.

Jadi gini lho, pasien Y itu lagi sakit parah. TBC-nya dari paru, sudah sampek ke otak, sehingga selaput otaknya rusak. Akibatnya sarafnya pun ikutan rusak, sehingga dia nggak bisa mengontrol buang airnya sendiri. Ujung-ujungnya, dia pun nggak sadar kalau dia pup. Siyalnya istrinya nggak bisa pasangin popok dengan benar, sehingga pupnya merembes ke sprei. Baunya itu lho..amburadul nyebar ke mana-mana dan ganggu banget.

Memang sih, ada perawat yang rajin gantiin sprei bekas pup itu. Cuman ya itu aja, kalau ketahuan sama pasien lainnya, kan nggak enak sama baunya, hihihihi..

Untungnya saya berhasil nenangin ibunya si pasien X, supaya jangan bawa paksa anaknya pulang. Saya bilang bahwa saya sudah menjadwalkan pasien Y untuk dipindahkan ke ruang opname lain karena ada prosedur yang harus kami lakukan, jadi malam itu pasien X nggak perlu tidur sebelahan dekat pasien Y lagi. Kesiyan kan, pasien X itu sebenarnya belum sembuh, tapi mosok mau minta pulang cuman gara-gara nggak betah tidur di sebelah pasien lain yang pup sembarangan? :-p

Saya yakin kalau kejadian ini bisa aja menimpa Anda. Kadang-kadang Anda nggak bisa nolak nasib, sakit bikin harus diopname, dan Anda terpaksa tidur berbagi kamar dengan pasien lain. Dan pasien lain mungkin situasinya menyebalkan, entah karena dia berisik, atau dia bau, atau dia kebanyakan penjenguknya, dan lain-lain.

Ada macem-macem cara supaya Anda nggak perlu dirawat bareng pasien tetangga yang rese. Caranya gini lho:
1. Gunakan radio mini, atau kalau Anda punya HP yang ada speaker-nya, boleh dicoba. Putarlah lagu keras-keras, lebih bagus lagi kalau lagunya dari genre music yang nggak disukai pasien tetangga, misalnya lagu Keong Racun, atau lagunya ST 12, atau lagunya Ridho Rhoma.
2. Minta bala bantuan teman-teman buat menjenguk Anda. Jangan barengan, tapi bergiliran. Dan cobalah tiap kali Anda dibesuk, Anda menyambutnya dengan lebay. “Eeh..Jeng Siti, apa kabaar..? Lama deh nggak ketemuuu..! Aduuh, pake bawa oleh-oleh segala, mbok ya nggak usah repot-repoot..! Aduh, aduh, aduuh..ini oleh-olehnya mau taruh mana yaa..? Maap Jeng, lha abis kamar saya sempiit..!”
Tentu saja ada resiko cara di atas bikin Anda malah dimarahin suster karena dianggap bikin gaduh, hihihi.. Jadi kalau Anda merasa cara-cara audio di atas terlalu norak, cobalah pakai cara halus.
3. Bilang gini ke pasien tetangga, “Eh, Pak, tahu nggak, Pak? Kalau dirawatnya di sayap seberang, perawatnya baik lho. Tiap pagi pasti ditawarin mau makan steak atau mau makan spageti, terus tiap sore pasti perawatnya kasih bonus cokelat Kit Kat. Nggak kayak di sini, pagi siang makanannya bubur melulu.. Coba deh Bapak pindah ke sana, pasti Bapak seneng deh..”
4. Boleh juga dengan memberdayakan aroma. Minta keluarga Anda bawa obat nyamuk dari rumah. Lebih bagus lagi kalau obat nyamuk itu pakai aroma yang nyegrak buanget. Malem-malem pas mau tidur, semprot obat nyamuk di seluruh ruangan, termasuk juga sisi tempat tidur pasien tetangga. Nanti kalau pasien tetangga batuk-batuk, Anda tinggal ngeles, “Aduh, maaf ya, Pak, soalnya saya biasa di rumah pake semprot nyamuk, jadinya saya nggak bisa tidur kalau belum pakai obat nyamuk..”

Gambarnya ngambil dari sini

July 14, 2010

Milih Hotel via Internet

Filed under: tips n trick — Vicky Laurentina @ 9:13 pm

Lagi, lagi, penyakit bokap saya akan kegemarannya getaway secara impulsive kumat lagi. Orang lain boleh bilang ini namanya holiday, tapi buat saya ini namanya getaway. Holiday itu liburan, artinya kau rehat sejenak dari aktivitas rutin. Saya lebih senang nyebut perjalanan saya ini getaway, coz setiap kali saya mau nanya bokap saya, “Kita mau ke mana?” bokap saya selalu njawab, “Ke mana ajalah, asal bukan di Bandung atau Jakarta.”

Dan kebiasaan ini yang bikin saya selalu senewen setengah mati, coz kekuatiran saya jelas: Kalau kita mau jalan-jalan, malamnya kita mau tidur di mana? Bokap saya menganggap bahwa tidur di pom bensin adalah ide yang seksi, tapi saya dan nyokap nggak suka. Buat saya tempat yang seksi untuk tidur adalah tempat yang ada kamar mandinya dan kamar mandinya mengandung air yang bersih buat dipakai kumur-kumur untuk wudhu dan sikat gigi, plus satu ruangan buat selonjoran kaki tanpa kuatir punggung bonyok lantaran tidur sambil duduk. Oh ya, juga ruangannya cukup lebar buat sujud. Saya benci banget sembahyang di trotoar. Malu ah, lagi ngomong sama Tuhan mosok kelihatan orang lain di jalan?

Bokap saya sudah bilang kita nggak akan ke Semarang atau Jogja, coz nggak kuat nyetir ke sana dengan long weekend sesempit ini. Dengan tujuan utama kami adalah ke Brebes, maka saya perkirakan paling banter kami cuman bakalan tidur di Cirebon, Tegal, atau Kuningan. Persoalannya, hotel manakah yang enak di sana? Karena kami nggak punya teman yang tinggal di sana yang bisa kasih informasi tentang hotel yang cukup sesuai selera.

Kali ini saya akan bagi-bagi step-by-step milih hotel yang berlokasi di kota yang nggak kita kenal dengan baik, dan kita cuman bisa mengandalkan telepon.

1. Gunakan Foursquare
Buka Foursquare.com, lalu ketik lokasi kota yang kita tuju, kemudian ketik “hotel” di search engine. Misalnya saya rencana mau nginep di Cirebon, maka saya ganti lokasi Foursquare saya di Cirebon, terus saya ketik “hotel” di search engine. Nanti keluar daftar nama-nama hotel yang ada di kota itu. Klik satu per satu, catet hotel yang paling banyak pengunjung Foursquare-nya.

2. Gunakan Google
Ambil nama hotel yang nampaknya paling laris, lalu ketik namanya di search engine Google. Nanti keluar hasil pencarian, pilih link-link yang sekiranya mengandung review tentang hotel itu biasanya dari http://tripadvisor.com atau http://travelpod.com). Dengan begini kita akan ngerti pendapat orang-orang yang sudah pernah mengunjungi hotel itu, dan kita bisa menentukan apakah hotel ini sesuai dengan selera kita atau enggak.

3. Telepon ke hotel yang bersangkutan
Dari cara resepsionisnya menjawab telepon, sebenarnya kita sudah bisa memperkirakan ini hotel yang profesional atau cuman hotel ecek-ecek. Yang mesti kita tanyain ya standar aja: Apakah kamarnya ada buat hari nginep yang kita mau? Fasilitasnya apa aja, apa kelebihan fasilitas kamar suite ketimbang kamar superior? Tarifnya berapa?

Lebih bagus lagi kalau ternyata dari hasil googling itu kita nemu bahwa hotel itu terdaftar di situs-situs pemesanan hotel, misalnya Booking.com, Otel.com, atau Agoda.com, coz berarti kita bisa pesan kamar via internet dengan harga yang biasanya lebih murah. Hotel yang banyak diiklanin pakai bahasa linggis, biasanya servisnya lebih mantep. Intinya, makin banyak hasil pencarian tentang hotel itu di search engine, biasanya makin representatif kemungkinan hotel itu buat diinepin. Dan pencarian nama hotel di internet, jelas bikin perjalanan jauh lebih efektif ketimbang datang langsung ke kota dan ngabisin waktu muter-muter kota cuman buat milih hotel yang enak.

Gambar-gambarnya ngambil dari sini dan sini

July 12, 2010

Geliat Air Terjun di Guci

Filed under: tips n trick — Vicky Laurentina @ 6:23 am

Hawanya sejuk, dingin, cocok buat orang yang kepingin ngincipin udara segar. Itu kesan saya waktu jalan-jalan ke Guci. Tidak, tidak, Guci ini bukan nama daerah yang jualan gentong air. Guci adalah area di lereng Gunung Slamet yang panorama utamanya adalah air terjun.

Masuk ke Guci ternyata nggak terlalu sulit. Saya ke sana pakai mobil, dan cukup modal Rp 48.000,- termasuk tiket buat empat orang dewasa. Dari pintu gerbang sampek ke air terjun lumayan masih kudu nyetir 10-15 menitan, di jalan beraspal yang mendaki dan berkelok-kelok nyusurin lereng. Ternyata di dalem area yang digerbangin itu masih ada desa kecil yang buat saya lebih mirip pasar, di mana penduduk local tinggal berjejer sambil nawarin rumah-rumah mereka yang udah disulap jadi losmen-losmen kecil (mereka sebut itu vila).

Agak ke dalam dikit, baru saya nemu air terjunnya. Berupa grojogan, cukup deh buat merendam-rendam kaki. Kalau anak kecil mungkin senang main air, kecipak-kecipak sambil sekalian nyebur. Saya nggak turun ke air, saya sudah puas hanya dengan motret dari pinggir jalan raya aja.

Sebenarnya, turis lebih terkonsentrasi di kolam pemandian artifisialnya, yang lebih mirip kolam renang dengan air panas. Di sekelilingnya ada pasar souvenir yang jualan kerajinan tangan dari manik-manik dan baju batik.

Sebenernya saya berencana nginep di sini Sabtu lalu, tapi ternyata di venue saya nemu banyak banget hotel yang kosong, tapi nggak cukup enak buat ditidurin. Agak anomaly sih mengingat kemaren kan long weekend, di mana hotel di Tegal dan Cirebon aja rata-rata terisi okupansi sampek 100%. Turis-turis rata-rata ke sini cuman buat ke air terjunnya atau ke pemandian umumnya doang, tapi sedikit yang berminat buat nginep. Memang saya lihat losmen-losmen itu kayaknya terlalu berisik, sedangkan hotel-hotel yang ada belum nampak terawat. Agak lucu juga waktu saya dateng ke hotel yang paling besar di situ, dan resepsionis yang menyambut saya ternyata nggak pakai sepatu.

Sejauh ini Guci kayaknya masih populer cuman di kalangan masyarakat Tegal dan sekitar Gunung Slamet sendiri, dan saya belum lihat daerah ini cukup menarik perhatian investor. Bisa aja sih daerah ini dibikin lebih menarik asalkan ada investor yang mau bikin hotel dan mengelolanya dengan profesional. Oh ya, pemerintah daerahnya sebaiknya menggaji orang buat jadi petugas parkir, coz penataan arus kendaraan turis di sana awut-awutan banget.

Tips buat ke Guci:
1. Guci bisa dicapai dengan nyetir dari Tegal ke arah selatan selama sekitar 45 menit. Lebih baik nyetirnya waktu masih ada matahari, coz kalau malem gelap banget lantaran nggak ada lampu jalan.
2. Parkir mobil cukup di depan air terjun, nggak usah nyari-nyari yang deket pasar coz di deket pasar nggak ada tempat parkir.
3. Kalau buat backpacking cocok deh nginep di losmen-losmen itu, tapi yang pecinta hotel dengan sarapan yang nyaman dan pelayanan profesional mesti siap-siap gigit jari.
4. Anyway, kalau cuman kepingin refreshing mencium udara segar dan menikmati panorama gunung berkabut, tanpa menginap, maka jalan-jalan di pinggir lereng gunungnya aja sudah cukup menarik.

July 9, 2010

Bukan Sekedar "Halaah.."

Filed under: tips n trick — Vicky Laurentina @ 5:09 pm

Musim panas sudah datang, orang mulai senang telanjang di tempat terang. Bukan, ini bukan pantun. Saya kepikiran ini waktu beberapa hari lalu saya jalan di trotoar jalan raya Pasirkaliki, dan saya lihat ada seorang ibu mandiin anaknya di trotoar. Anak itu disiram emaknya pakai gayung yang airnya diambil dari ember, dan diisi pakai kran di tembok pagar sebuah kantor. Pemandangan yang bikin saya tertegun. Anak itu mungkin umurnya baru 1,5 tahun, dan badannya yang telanjang keliatan oleh setiap orang yang lewat Jalan Pasirkaliki.

Mungkin saya lebay, tapi kan bisa aja ada psikopat lewat dan ngeliatin anak yang telanjang itu, lalu kepikiran niat yang jelek-jelek.

Saya jadi inget beberapa minggu lalu saya nonton tivi bareng nyokap. Ada acara reality show di mana seorang seleb lagi mandiin bayinya. Ritual itu dimulai dari mandiin bayi dalam bak bayi, lalu menghanduknya, dan ngebedakin si bayi. Nah, di layar nampak gambar bagian selangkangan si bayi itu dibikin buram oleh stasiun tivinya. Lalu, nyokap saya mencemooh, “Halaah..cuma gambar bayi aja pake dibikin blur segala!”

Sontak saya dan adek saya memprotes cemoohan nyokap itu, dan kami berdua bilang bahwa anak itu sekarang nggak boleh lagi keliatan alat kelaminnya di layar tivi, meskipun dia masih bayi sekecil apapun. Dan stasiun manapun yang masih menayangkan alat kelamin bayi secara terang-terangan bisa kena denda.

Saya tahu agak susah buat orang umum (termasuk nyokap saya sendiri) untuk memahami bahwa anak pun berhak untuk dilindungi alat kelaminnya, bahkan meskipun dia masih bayi. Soalnya balita, bayi, atau anak kecil umumnya kan belum punya akal, jadi dia nggak punya rasa malu. Makanya ajakan untuk menutupi alat kelamin anak kecil biasanya akan ditanggapi dengan cemoohan “halaah..”

Tapi yang tidak diantisipasi banyak orang, melindungi alat kelamin anak dari pandangan orang lain yang tidak berkepentingan, akan mengurangi kemungkinan anak ini jadi calon korban intaian psikopat seks. Anda pernah nggak sih kepikiran bahwa di dunia ini ada orang yang senang mengoleksi foto-foto bayi, tapi hanya foto alat kelaminnya saja?

Tentu saja saya nggak melewatkan alasan kenapa orang masih senang mandiin anaknya di pinggir jalan. Sepupu saya, lebih sering mandiin anak-anaknya yang berumur dua dan satu tahun di halaman depan rumahnya ketimbang di kamar mandinya. Alasannya, seger coz di halaman kan nggak sumpek. Tapi saya sendiri kesulitan ngingetin sepupu saya tentang kemungkinan tetangga psikopat yang seneng ngecengin ponakan-ponakan saya yang lagi telanjang.

Kalau kita bingung gimana caranya kasih pendidikan seks pada anak-anak, sebenarnya mulai aja dari yang gampang-gampang.
1. Jangan mandi di tempat terbuka. Mandilah di kamar mandi yang pintunya ditutup.
2. Tutup alat kelamin anak dari pandangan orang lain yang bukan orangtuanya.
3. Termasuk juga kalau lagi siram-siraman di tempat umum, misalnya kolam renang. Jangan ganti baju di tengah-tengah muka umum.

Itu nasehat yang cukup membumi, bukan begitu?

Fotonya ngambil dari sini
Older Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.