Georgetterox

July 26, 2010

Merdeka dari Ketergantungan

Filed under: features — Vicky Laurentina @ 10:57 pm

Seorang teman cerita ke saya bahwa dia be-te berat sama nyokapnya. Jadi minggu lalu dia kan dalam perjalanan panjang dengan sebuah bis bersama nyokapnya, lalu ketika perjalanan di-break buat istirahat, nyokapnya ini turun beliin teman saya nasi padang buat dimakan di bis. Teman saya sebenarnya nggak suka kalau makan nas di bis, dia lebih suka makan roti coz lebih praktis.

Memang kalau dipikir-pikir, ada aja sebagian orang yang naik kendaraan gitu lebih senang beli roti ketimbang beli nasi. Kalau kita makan roti, kan sebenarnya tinggal dipegang pakai tisu atau plastic pembungkusnya, terus digigit deh. Bandingkan dengan orang makan nasi, kan harus pakai sendok, lalu bungkusnya dipegang pakai tangan kiri (singkirkan ide pakai kotak Styrofoam yang mencemari lingkungan!). Bayangin ribetnya kalau mau motong ayamnya harus pakai bantuan garpu. Ini kan lagi makan di bis, di mana sedapat mungkin tangan harus dalam keadaan bersih, coz selama perjalanan tentu saja kita susah nemuin tempat buat cuci tangan.

Ketika denger cerita itu, saya berpikir-pikir kenapa para nyokap lebih milih nas sih ketimbang makan roti. Padahal ditinjau dari segi nutrisi, kalori yang timbul dari nasi sebenarnya sama aja dengan kalori yang dihasilkan dari roti. Lalu saya berpikir bahwa mungkin selera nyokapnya temen saya itu lebih berat ke nasi ketimbang roti. Ya nggak pa-pa sih, saya nggak niat menggugat selera orang, setidaknya sampek beberapa hari lalu saya baca tulisan Zulfikar Akbar di sini.

Negara kita saat ini punya masalah besar dengan yang namanya stok nasi. Terlalu banyak orang di meja makan Indonesia yang harus diisi mulutnya dengan nasi, padahal produksi beras di negara kita makin lama makin seret. Memang para insinyur pertanian Indonesia sudah kerja keras menciptakan bibit-bibit padi yang unggul, yang niscaya bikin padi jadi sering panen dalam setahun, bulirnya lebih banyak, dan kalau dimasak jadi nasi pnu lebih pulen. Tapi ketika bibit unggul ini disodorin ke tangan petani di lapangan, ternyata petani harus bayar mahal; bibit ini cuman tumbuh bagus seandainya dikasih pupuk yang bagus, dan siyalnya pupuk yang bagus susah terjangkau oleh daya beli petani. Bibit ini bisa tumbuh subur asalkan pengairannya cukup, sayangnya berkat penggundulan hutan yang massif, hujan yang malah bikin banjir, petani makin lama makin kekurangan air. Singkatnya, bagaimana padi mau panen yang banyak, dan bagaimana kita mau kasih cukup nasi untuk semua orang di Indonesia?

Sebenarnya kalau mau ditilik-tilik dari sejarah, rakyat kita memang sudah salah kelola isi perutnya oleh negara. Harap diingat, tidak semua daerah di Indonesia senang makan nasi. Daerah Cimahi, Jawa Barat, sebenarnya sudah merasa cukup kenyang dengan singkong. Ajaran masa es-de kita bahwa makanan pokok penduduk Madura adalah jagung juga bukan ngibul. Artinya ada beberapa daerah di Indonesia yang sebenarnya tidak butuh nasi, tapi mereka cukup saja ma’em dengan singkong, jagung, atau sagu. Namun kebijakan Orde Baru yang bercita-cita memproduksi beras sebanyak-banyaknya, telah memaksa petani yang awalnya biasa menanam jagung menjadi menanam padi. Yang bisa menanam singkong sampek surplus, lama-lama dipaksa juga buat meninggalkan singkong supaya menanam padi. Akibatnya potensi bangsa kita untuk memproduksi tanaman-tanaman bukan padi, pun tertekan.

Hasilnya, nampak pada pembentukan selera makan bangsa kita. Banyak dari kita yang mengeluh: belum kenyang, kalau belum makan nasi. Ini anggapan yang menyesatkan, karena sebenarnya perut kita kenyang, kalau jumlah glukosa dalam darah kita normal. Supaya glukosa dalam darah kita jumlahnya normal, ya kita mesti makan makanan yang mengandung glukosa dalam jumlah cukup. Dan makanan yang mengandung glukosa nggak cuman nasi, tapi juga bisa dari roti, gandum, sereal, jagung, atau pun singkong. Jadi, untuk kenyang, nggak mesti harus pakai nasi..

Kita perlu mengubah cara pikir kita yang kecanduan nasi, terutama untuk melatih mental kita supaya lebih fleksibel dan tidak tergantung pada nasi. Contoh kecil ya dalam kasus teman saya di atas, misalnya kalau kita harus melakukan perjalanan panjang, kita nggak perlu ribet nyiapin bekal nasi dari rumah, atau panic di tengah jalan nyari tempat persinggahan restoran yang jualan nasi. Lebih praktis kalau kita bawa roti buat makan, yang bisa dimakan dalam kendaraan tanpa harus cuci tangan. Bisa pilih sandwich isi daging asap, atau isi kulit ayam, lebih seru lagi diselipin daun selada yang dicocolin mayonaise. Kalau dirasa ribet nyiapinnya, bisa beli di toko-toko roti. Kayak roti yang saya foto ini, isinya roast beef dilumurin saos tomat, beli di toko kue paling tua di Braga, bandung. Minggu ini, toko kue yang paling beken di Bandung pada tahun 1930-an dan suka jadi langganan nonik-nonik Belanda ini, jual roti-rotinya sampek turun setengah harga. Cuman sampek 1 Agustus ini. Lumayan, roti ginian 10.000-an dapet tiga, hehehe..

Eh, ini sebenarnya mau cerita pengalaman temen, cerita Indonesia rawan pangan, atau mau ngiklan toko kue??

Advertisements

July 24, 2010

Vokalis Bukan Penyanyi Solo

Filed under: Fresh from d'Oven — Vicky Laurentina @ 11:36 pm

Pas saya nonton Indonesian Idol minggu ini, saya applaus berat buat Gilang Saputra, kontestan yang akhirnya disuruh pulang gara-gara kalah SMS dari dua peserta lainnya yang tersisa. Kepulangan Gilang sebenarnya sudah saya ramalkan dari kemaren-kemaren. Bukan berarti gilang ini jelek lho, dia salah satu dari lima favorit saya, tapi saya sendiri tidak berharap dia yang menang, coz seperti yang saya live-tweet-in tiap minggunya, dari minggu pertama saya udah jagoin Citra Sckolastika. Saya senang sama Gilang soalnya dia nggak cuman nyanyi, tapi dia bisa juga main music. Jarang banget penyanyi di Indonesia yang bisa sekaligus main piano bak Maksim, main gitar seperti Sandy Sundhoro, dan main drum seperti Wong Aksan. Keren kan?

Ada catatan menarik dari komentarnya Anang Hermansyahrini pasca Gilang tampil, “Daripada jadi penyanyi, kamu mendingan jadi seniman aja.” Maksudnya, lantaran kemampuan musikal Gilang yang multiinstrumental itu, maka dia cenderung jadi bunglon buat setiap lagu yang dia bawain. Dalam istilah gw, dia cenderung jadi “mitu” untuk tiap penyanyi, dan susah bernyanyi sebagai dirinya sendiri. Saat dia nyanyi lagunya Gigi, dia jadi mirip Armand Maulana. Saat dia nyanyi lagunya Nidji, dai malah jadi mirip Giring. Saya bertanya-tanya, kalau sekiranya dia disodorin lagunya Geisha, jangan-jangan nanti dia malah jadi mirip Momo.

Menurut saya, nggak salah kalau tiap kali kita nyanyiin lagu seseorang lantas kita jadi cenderung mirip penyanyi asli yang bawain lagu tersebut. Resikonya, kalau penyanyi bunglon gini dipaksain jadi penyanyi solo, maka dia akan cenderung mirip si A, mirip si B, atau mirip entah siapa lagi. Dia tidak akan pernah jadi dirinya sendiri. Solusinya, lebih baik dia tetap jadi penyanyi, tapi jangan jadi penyanyi solo, melainkan jadi vokalis band. Asalkan band itu punya karakter yang kuat, punya lagu sendiri, dan nggak niru-niru band lain, maka penyanyi bunglon gini bisa kasih warna yang khas buat band-nya dan nggak akan dibanding-bandingin sebagai band “mitu”.

Adalah sangat susah buat seorang vokalis band untuk menjadi seorang penyanyi solo. Sama seperti penyanyi solo akan susah kalau harus dikontrak lama untuk main bersama suatu band. (Ini menjelaskan kenapa Ruth Sahanaya rada sedih ketika putus kontrak dengan orkesnya Erwin Gutawa demi mandiri dengan karakternya sendiri.) Jarang-jarang ada yang sukses di Indonesia seperti itu. Dalam generasi saya, saya cuman mencatat Elfonda Meckel, yang nampak prima baik saat dia jadi vokalisnya Dewa (“Roman Picisan”) maupun saat nyanyi solo (“Aku Mau”). Ari Lasso juga oke, dan kita lihat bahwa cara dia nyanyi sebagai penyanyi solo (“Rahasia Perempuan”, “Perbedaan”) jauh banget ketimbang saat dia nyanyi untuk Dewa 19 (“Elang”, “Cinta Kan Membawamu Kembali”). Lain-lainnya, saya ragu-ragu. Saya nggak bisa bayangin seandainya Fadly nyanyi sendirian tanpa Padi, atau Ariel tanpa Peterpan, melihatnya orang mungkin akan terheran-heran dan menyangka mereka malah jadi mirip penyanyi kehilangan teman.

Saya juga mencatat, cukup jarang musisi di Indonesia yang bisa nyanyi dan juga mampu main multi-instrumen. Kita sudah sering nonton gimana Indra Lesmana atau Glenn Fredly bisa nyanyi sambil main piano dan gitar. Gilang sebenarnya bisa nambah daftar yang masih sedikit ini, tapi dengan catatan dia menjadi vokalis band yang tepat. Sejauh yang saya lihat, vokalis band di Indonesia rata-rata baru gape main gitar sambil nyanyi. Ketika vokalis-vokalis ini nyanyi sambil main piano atau main drum, mereka jadi keteteran. Seolah-olah bisa main gitar saja udah cukup jadi syarat wajib kalau kepingin bisa jadi vokalis band. Kalau di luar negeri saya udah kenyang lihat Phil Collins main drum sambil nyanyi untuk Genesis, atau nonton Axl Rose main piano sambil nyanyi untuk Guns n Roses. Atau mungkin referensi saya kurang banyak, barangkali Anda bisa bantu saya kasih contoh yang lain.

Pada akhirnya, ketika saya lihat Gilang pulang dari Indonesian Idol minggu ini, saya ngerti bahwa memang tidak semua kontes cocok buat tiap orang yang kepingin jadi penyanyi. Ambil pelajarannya, apa yang nampak bagus di mata banyak orang, belum tentu cocok buat orang-orang tertentu. Ada karier yang lebih bagus buat para anak berbakat seni seperti Gilang, dan mungkin karier itu bukanlah sebagai seorang penyanyi solo.

Gambar-gambar diambil dari sini, sini, sini, sini.

Sini, Ta’ Ajari Caranya

Filed under: me daily — Vicky Laurentina @ 1:33 am

Mudah-mudahan adek saya nggak baca tulisan ini. Kalau dia sampek tahu apa yang saya lakukan berikut ini, dia pasti bakalan ngamuk-ngamuk sama saya. Dan dia akan menghukum saya dengan cara yang aneh-aneh, mulai dari nggak digorengin cireng sampek nggak boleh nonton DVD Pride and Prejudice punya dia.

Sepupu saya dateng minggu lalu. Dia nggak hamil, tapi dia ngidam sate kelinci. Dan tempat sate kelinci yang cukup representative deket rumah saya adalah di Lembang. Soalnya di sana bisa sambil makan sate bisa sambil melihat panorama dari atas Bandung. (Apaan seh, jelas-jelas yang diliat cuman jurang yang gelap gulita) Lha saya pikir kalau dia cuman kepingin sate kelinci kan tinggal pergi aja ke Puncak, pasti lebih deket dari rumah dia di Bogor. Tapi weekend pasti Puncak macet, jadi dia milih ngungsi ke rumah saya karena pasti kalau nginep di rumah saya gratis. Khas perhitungan orang kapitalis.

Pasalnya, adek saya dari dulu mewanti-wanti saya nggak boleh makan sate kelinci. Alasannya, kelinci adalah binatang yang sangat imut dan lucu, jadi nggak boleh dijadiin sate. Saya pikir alasan itu nggak akurat, soalnya menurut saya, ayam dan sapi juga binatang yang lucu, tapi kenapa mereka laris jadi sate?

Eh, nggak percaya ya ayam itu lucu? Coba Anda pikir, kenapa ayam kalau nyeberang jalan bawaannya ngeliatnya lurus dan nggak tengak-tengok kanan-kiri? Soalnya ayamitu matanya di samping, nggak kayak kita yang matanya di depan.

Dan saya serius waktu bilang sapi itu lucu. Lha kalau saya ada di jalan dan papas an sama truk yang ngangkut sapi, saya selalu ketawa lihat sapi-sapi ngintip keluar lewat celah-celah kandang kayunya. Kadang-kadang moncongnya nongol gitu. Pernahkah Anda sadar kalau sapi itu punya bulu mata yang sangat lentik? Padahal mereka nggak pakai mascara Maybelline.

Mumpung adek saya lagi symposium di Jakarta. Saya tahu adek saya melarang saya makan sate kelinci, tapi kan sepupu saya udah ngoleh-ngolehi saya cokelat dari Oz, jadi saya maulah nganterin sepupu saya ke warung sate kelinci di Lembang. (Oh Vicky, kaugadaikan kesetiaan pada saudara kandungmu dengan sekotak cokelat!)

Di Lembang bejibun banget dijual sate kelinci, tapi saya pilih spot yang ada di tempat yang saya julukin Emen’s Place. Di titik sini berjejer warung-warung yang jualan sate kelinci plus jagung bakar, dan minuman yang paling banyak dipesen adalah bandrek. Kenapa dinamain Emen’s Place? Gini lho, titik ini kan letaknya di jalan raya yang menghubungkan Bandung dan Subang, dan kiri-kanannya adalah jurang berisi kebun teh. Di beberapa tikungan kadang-kadang lampu jalannya irit banget, jadi kendaraan mesti hati-hati kalau jalan di sini. Maka kadang-kadang suka ada kecelakaan yang biasanya melibatkan truk, di mana mungkin supir truknya ngantuk. Meskipun supirnya nggak pernah ngaku kalau mereka ngantuk, sebaliknya saban kali kecelakaan, mereka selalu mengaku lihat seseorang lagi jalan di tengah jalan raya, sehingga mereka kehilangan kendali. Konon, “orang” itu bernama Emen.

Sudah ah cerita hantunya. Intinya saya dan sepupu markir mobil di situ dan saya jalan keliling deretan warung itu nawar-nawar harga. Sate kelinci dibanderol Rp 15.000,- per 10 tusuk dan nggak mau ditawar, bleh. Rata-rata jualan jagung bakar per bonggolnya goceng, tapi saya menawar-nawar dengan kejam sampek akhirnya berhasil dapetin lebih murah 30%. Ini pasti gara-gara sepupu saya nyetir mobil bagus dan ngeliat tampang kami cantik-cantik, jadinya mereka pasang harga mahal-mahal. Halaah..cuman makan jagung bakar aja.

Sengaja saya pesen jagung bakarnya manis keju. ABG-ABG yang mbakar jagungnya betul-betul curang, mereka mipil jagungnya sampek tinggal biji-bijinya doang, lalu naburinnya pakai keju parut. Saya dan sepupu protes, soalnya jadinya asin banget dan nggak ada manis-manisnya. Si ABG mengklaim bahwa tuh jagung udah pakai susu, cuman mungkin nggak keliatan soalnya susunya ada di bawah biji-biji jagungnya. Akhirnya sepupu saya bilang, “Coba bawa ke sini susunya, mau saya tambahin..”

Sama si ABG pun dibawain satu kaleng susu kental manis. Saya nggak nunggu apa-apa lagi, langsung saya siram tuh jagung keju pakai susu yang buanyak sampek banjir. Dan hasilnya memang enak, hehehe..

Berikutnya kita pesen lagi jagung bakar, tapi minta yang rasa manis. Sama si ABG pun dibakarin jagungnya, dan begitu dihidangin di meja, langsung saya sawerin jagungnya pakai susu kental manis lagi. Kata sepupu saya, kesiyan yang punya warung, bisa-bisa dia bangkrut gara-gara susunya kita abisin.. :-p Lha kata saya, kok kayaknya sebenarnya jagungnya nggak enak, tapi gara-gara kita modifikasi resepnya, jadilah jagungnya enak. Lama-lama kok kayaknya jadi kita yang punya warung, hehehe.

Eh, tadi saya cerita sate kelinci ya? Menurut saya satenya nggak enak. Kalau kata sepupu saya yang sebenarnya orang Malang itu, masih lebih enak sate kelinci di Batu..

P.S. Mas Katon, makasih udah motretin gw berlumuran susu itu.. 😀

July 22, 2010

Dikejar Utang

Filed under: Fresh from d'Oven — Vicky Laurentina @ 4:23 pm

Sudah beberapa hari ini status orang-orang di news feed Facebook saya isinya perkara dikejar utang melulu. Bukan, yang ngejar mereka buat bayar utang bukanlah debt collector yang kerjaannya kadang-kadang pakai ngancem-ngancem nggak sopan segala itu (memangnya ada ya yang ngancemnya sopan?). Tapi yang ngejar utang tuh lebih parah lagi, yaitu Raqib dan Atid alias malaikat-malaikat pencatat amal. Gimana nggak merasa dikejar utang, lha bulan depan mau bulan puasa, tapi teman-teman saya yang cewek rata-rata ngaku belum bayar utang puasa.

Seperti yang jamak diketahuin, cewek biasanya puasa Romadon-nya nggak penuh coz pasti mereka nggak boleh puasa kalau lagi menstruasi. Mereka harus bayar lagi lain kali dengan puasa juga. Saya sendiri nggak hafal dendanya kalau sampek Romadon berikutnya tuh puasa belum dibayar juga. Katanya kolega saya sih, utang puasanya bisa membengkak berlipat. Ambil contoh misalnya si Siti nggak puasa karena mens lima hari, maka dia kan mesti bayar puasanya lima hari juga. Kalau sampek Romadon berikutnya nggak dibayar juga tuh lima hari, maka tahun depannya dia mesti mbayar 10 hari.

Perkara denda ini saya nggak tahu bener apa enggak, lha saya nggak pernah nunggak utang lama-lama. Malah buat saya, perumpamaan Idul Fitri sebagai hari kemenangan itu rada kurang cocok. Lha gimana mau menang, kalau puasa saya terpaksa bolong? Buat saya, ketika Romadon berakhir dengan Lebaran, saya nunggu sampek tanggal 3 Syawal atau sesudah saya pulang dari liburan, lalu saya buru-buru bayar utang. Jadi buat saya ya biasa aja kalau sampek pertengahan Syawal saya masih puasa seperti suasana Romadon. Nanti, kalau pas pertengahan Syawal itu saya selesai mbayar utang, baru itu namanya hari kemenangan.

Kebijakan bayar utang buru-buru itu bukan cuma lantaran saya merasa diburu Raqib dan Atid. Tapi juga coz saya pikir saya bisa mati kapan aja, entah tahun depan, bulan depan, minggu depan, besok, atau mungkin malah sejam lagi atau lima menit lagi. Saya ogah banget kalau dalam perjalanan ke akhirat saya ditilang di jalan oleh malaikat, “He, mana kamu kok belum mbayar puasa?”
Mosok saya mau njawab, “Well, ehm..sebenarnya saya rencana mau mbayar bulan depan tapi saya keburu ketiban gempa jadinya nggak sempet mbayar deh..” *sambil cengar-cengir cengengesan dan ditimpuk pecut*

Saya yakin sebenarnya banyak banget temen saya yang udah bertekad mulia buat bayar utang sebelum bulan puasa tiba tanggal 11 nanti. Tapi saya ngerti memang pelaksanaannya rada susah. Saya punya teman pejabat yang susah banget mau puasa, coz kerjaan dia ngelobi orang, dan tiap kali lobi pasti ada aja makanan dan dia harus makan. Ada lagi temen yang tiap kali puasa pasti aja ngiler kalau liat orang rumahnya makan siang. Ada juga temen yang merasa kalau nggak makan seharian maka nafasnya jadi bauk padahal pekerjaannya mesti ngomong dengan banyak orang.

Tapi ada juga temen saya yang ibu-ibu, mau puasa aja nggak bisa lantaran dos-q ini sudah setengah baya, dan bolak-balik keluar darah melulu nggak teratur. (Saya rasa itu perdarahan khasnya orang mau menopause, meskipun saya nggak menampik kemungkinan itu tanda kanker dinding rahim.) Kesiyan bener ibu ini, udah niat puasa tapi tau-tau di celana dalemnya keluar spot. Ya nggak pa-pa sih kalau ini normal, tapi terus kapan mau bayar utangnya?

Mungkin enakan jadi laki-laki, nggak usah mens jadi nggak usah mbayar puasa segala, maka nggak akan merasa dikejar utang. Padahal saya pikir ya, kalau orang udah biasa puasa nyenen-kemis, mbayar utang puasa Romadon itu sepele..

Bisa aja sih pura-pura lupa nggak mbayar utang supaya nggak merasa dikejar-kejar hantu, tapi apa kita bisa bo’ongin diri sendiri bahwa Tuhan ngeliatin kita belagak pura-pura lupa?

Tapi berbahagialah orang-orang yang merasa dikejar utang, coz berarti mereka masih inget dunia akhirat, artinya Tuhan masih sayang sama mereka. Yang repot kalau nggak mau tahu mbayar dan nyepelein Tuhan, haiyaa..alamat nih nanti hidupnya nggak berkah dan rejekinya seret melulu.

Jadi, Ibu-ibu dan Mbak-mbak yang Cantik-cantik, tahun lalu utang puasanya berapa? Moga-moga sudah lunas semuanya..

Gambarnya ngambil dari sini

July 21, 2010

Kenapa Perempuan Dandan

Filed under: me daily — Vicky Laurentina @ 2:58 pm

Setiap orang pasti punya baju favorit buat dipakai untuk situasi-situasi special. Saya juga dong. Saya punya baju favorit buat dipakai ke symposium. Buat dipakai ke kondangan. Buat dipakai ke Lebaran. Saya malah punya underwear favorit segala. Simpel aja. Lha namanya aja udah situasi special, jadi saya mesti nyiapin mood terbaik saya untuk situasi itu. Dan jadi mood booster, biasanya saya ngandalin pakaian. Soalnya kalau orang memakai pakaian favoritnya, maka aura positif cenderung terpancar dari dirinya. Iya nggak sih? Iya nggak? Bilang iya dong..

Nah, namanya aja kalau ada baju favorit, berarti ada baju non-favorit dong. Sayangnya yang namanya baju non-favorit suka nggak dipakai, jadinya dianaktirikan. Hm..kesiyan juga ya baju non-favorit? Padahal pasti baju non-favorit juga kepingin dipakai buat acara-acara special, bukan cuman teronggok di lemari nunggu waktunya dipakai ke pasar sayur, hihihi.. *sok ngerti perasaan baju*

Termasuk kemaren, pas saya mau nemenin bonyoknya my hunk jalan-jalan. Jauh-jauh sebelum harinya dateng dan my hunk udah kasih tahu saya bahwa saya diajakin ikut mereka, pikiran saya ya urusan baju. Tahu nyokapnya my hunk itu rada niat kalau dandan, ya saya sebagai pacar putranya juga mesti ngimbangin niat dong. Yang repot tuh kayaknya hampir semua baju favorit saya udah pernah dipakai buat ketemu nyokapnya. Jadi saya kuatir kalau saya cuman pakai baju yang itu-itu aja, ntie nyokapnya ngira saya nggak punya baju lain. Mana my hunk pembuat dokumentasi yang baik, saban kali kita kencan pasti kita foto-foto pakai kamera yang dia sembah-sembah macam berhala itu. Nggak heran saya sampek inget, pas pertama kali ketemu bonyoknya saya pakai baju anu, pas kali kedua saya pakai baju apa, dan kali-kali berikutanya saya pakai baju yang mana pula lagi.

Kadang-kadang saya sampek punya pikiran jahil. Enaknya kapan-kapan kalau saya mau kencan sama bonyoknya my hunk lagi, saya mau ngusulin kita pergi berenang aja. Biar saya nggak pusing mikirin mau pakai baju apa, kan tinggal lepas jubah mandi dan nyebur ke kolam..byur! Tapi pikiran itu urung. Lha kalau saya kencan sama bonyoknya ke kolam renang sampek berkali-kali, jangan-jangan nanti mereka ada yang nanya, “Kok Vicky pakai baju renangnya itu-itu aja dan nggak pernah ganti?” Hihihi..

Kok tahu-tahu saya jadi kesiyan sama para selebritis itu. Lha saya lihat mereka tuh kalau muncul di acara gala-gala dinner, bajunya ya beda-beda. Saya pernah bertanya-tanya apakah baju yang mereka pakai waktu nyanyi untuk acara Harmoni-nya SCTV dipakai lagi buat nyanyi untuk acara Panasonic Awards, misalnya. Soalnya sayang juga kalau baju bagus-bagus dipakai cuman buat manggung satu kali. Kalau dilelang ke orang lain juga belum tentu berguna. Apa ada orang mau beli baju artis buat dipakai lagi?

X: “Bajunya baguus, Jeng. Njahit di mana?”
Y: “Makasih.. Ini baju lelang pernah dipakai sama Krisdayanti waktu nerima award..” :-p

Sekarang saya malah bersyukur pacar saya kalau mau nyambangin saya mesti pakai pesawat dulu. Karena nggak bisa ketemuan sering-sering, maka saya jadi nggak terlalu sering mesti mikirin ganti baju favorit buat dipakai, hahaha. Maka kalau pas ketemuan kan kita berdua pasti foto-foto, dan foto kita biasanya variatif bajunya. Nggak heran saya menikmati setiap kencan kami, dan saya sulit menentukan kencan mana yang favorit. Bahkan saya sudah bisa menikmati setiap kencan itu dari saat saya milih-milih baju buat dipakai kencan, dan justru saat saya milih-milih itulah momen yang paling menyenangkan.

Kayak kemaren, tuh, sebelum dia dateng ke Bandung, beberapa hari sebelumnya, saya udah kelayapan di toko cari gaun anyar. Rasanya seneng banget kalau lihat tampang senyum-senyumnya yang puas lihat saya keluar dari rumah. Saya malah lebih girang lagi kalau saya gandeng my hunk jalan-jalan, dan terus my hunk bisik-bisik ke saya bahwa ada satu-dua orang pria lain yang melirik kita berdua, dan begitu my hunk noleh ke mereka, mata-mata keranjang itu langsung buang muka. Kok kayaknya mereka nggak rela gitu lihat perempuan seayu saya nggandol laki-laki seganteng pacar saya, hahaha.. Dan saya jelas sangat menikmatinya dong. Makin banyak yang cemburu, saya makin seneng, hahahahah..
*ketawa puas dengan tanduk di kepala*

Quote hari ini:
1. “Bikin orang lain iri itu adalah kepuasan tersendiri.”
2. “Women doesn’t dress for impress a man. Woman dress for OTHER women!”

Lho, kok jadi riya’ sih? Kata guru agama saya, riya’ itu adalah syirik kecil, dan syirik itu adalah dosa besar. Berhentilah sok pamer!
*ngibasin rambut, gandeng my hunk lebih erat*

« Newer PostsOlder Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.